<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325</id><updated>2011-07-30T19:31:24.816-07:00</updated><category term='SIMPANG LIMA'/><category term='cinta'/><category term='PUISI'/><category term='Tanah Jawa'/><category term='KELUARGA'/><title type='text'>KABAR SEMARANG</title><subtitle type='html'>SEMARANG KALINE BANJIR&lt;br&gt;
OJO SEMELANG YEN ORA DIPIKIR</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-2815991981460214239</id><published>2009-10-27T01:11:00.000-07:00</published><updated>2009-12-07T01:14:14.470-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><title type='text'>Keterangan Sifat 20 Allah</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SubDYuZLqAI/AAAAAAAAACQ/eEMQIzM3Zws/s1600-h/Ragil+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SubDYuZLqAI/AAAAAAAAACQ/eEMQIzM3Zws/s200/Ragil+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5397216032988047362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Manusia ditakdirkan/diciptakan sempurna karena mempunyai pikiran/akal dan alat perasa serta jasmani, Maka Ulama di zaman dahulu mempunyai pendapat bahwa Allah sebenarnya yang menciptakan, dan sebahagian besar menyebutkan sifat-sifat manusia sendiri adalah panca indra seperti Mata, Hidung, Mulut, Telinga dan Lidah. Beda dengan makhluk lain seperti binatang, walaupun mempunyai alat seperti manusia tetapi tidak lengkap, oleh karena itu hidupnya makhluk-makhluk tadi ikut kodrat masing-masing, bisa melihat, berjalan dan makan tapi tidak punya akal untuk berusaha dan sudah pasti hidupnya kurang lengkap. Berdasarkan keadaan, maka para orang bijak mempunyai pendapat ; bila manusia itu sifatnya lengkap dan tidak bisa berubah artinya Allah itu tidak kekurangan sifat seperti yang diciptakan. Walaupun semua Ulama sudah sampai disatu pendapat, tetap tidak bisa menemukan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam Wirid/pelajaran, Allah itu tidak bisa dijangkau oleh alat apapun bahkan oleh pikiran/perasaan. Jadi para ulama menyebut Dat yang maha agung yang bisa menciptakan Jagad raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnnya keterangan sifat 20 (dua puluh) begini; Atas nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, terlebih dahulu dikutip dari buku Wirid Hidayat Jati tinggalan Ronggo Warsito;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ada apa-apa yang ada hanya Allah yang berada dalam NUKAT GAIB yang diberi nama Qun, yaitu DAT sejati, Nukat artinya bibit, dan Gaib adalah samar/tidak nampak oleh mata yang disebut Nur Muhammad, yaitu Cahaya yang terang sekali tanpa bayangan, yang disebut sifat sejati QUN lalu FAYAQUN. Qun artinya Allah Bersabda (berkata) dan Fayaqun artinya Terjadi semua Afhngal (selamanya). Semua itu menjadi asalnya yang terjadi disebut Anasir Sejati. Jadi Allah memiliki 4 Anasir yaitu Dat, Sifat, Asma dan Afhngal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umpama penerimaan salah, pelajaran yang diatas tadi ada kata tempat di Nukat Gaib (benih yang tidak nampak) itu pasti dapat menimbulkan pendapat bahwa Allah itu berada disuatu tempat, karena disebut Layu Kayafu, itu semua salah, Allah tidak bisa disentuh atau dijangkau oleh apa saja, tidak ada yang menyerupai, karena semua itu sifat Baru (yang sudah ada).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum Kyai Agus Salim pernah berbicara; bahwa dasar agama Islam itu lebih dulu mengetahui nama Allah dan selanjutnya seluruh yang ada (Jagad Raya). Mustahil kalau tidak ada yang menciptakan, karena yang menciptakan wajib adanya (mokal dan wajib). Itu sebabnya manusia hanya menjumpai yang sudah ada dan tetap tidak bisa berubah. Kata mempunyai atau yang terjadi itu dalam bahasa Wirid/Pelajaran yaitu menyatu dan berpisah artinya sama, karena pusatnya itu Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wirid Hidayat Jati tersebut diatas akan diterangkan hanya soal 4 Anasir saja, oleh sebab itu akan dijumpai dibacaan ke-2. penelitian tentang 4 Anasir menurut catatan pelajaran agama yang tersebut dibawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dat Allah yang tidak bisa dilihat tetapi mencakup/meliputi seluruh yang diciptakan semua yang dijumpai makhluk. Terbukti Layu Kayafu (tidak bisa diganggu oleh apapun), semua keterangan ada dibelakang. Umpama ada ikhtikat kepercayaan menceritakan manusia dapat / jumpa atau menghadap maju mundur dengan Allah, karena lupa dengan yang disebut Layu Kayafu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sifat itu sebetulnya perkataan sesudah ada Dat, artinya kekuasaan Dat Allah yang sebenarnya bisa menciptakan apa saja dan mempunyai sifat seluruh yang diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kehendak Allah sifat itu apa yang telah diciptakan, sifat itu berjuta-juta (milyaran) warnanya, seperti yang tertulis dikitab Al-Quran, yang menyebutkan kekuasaan, keagungan dan Daya keperkasaan, umpanya bisa menidurkan, membangunkan,    menangiskan, menghidupkan benih. Oleh karenanya sifat-sifat yang begitu terdapat pada manusia. Para Ulama zaman dahulu kala sama-sama membicarakan satu keputusan bahwa sifat DAT yang wajib adanya itu menguasai manusia yang banyaknya 20+20+1,    maksudnya itu mempunyai sifat 20 yang wajib (tidak berubah-ubah), 20 lagi sifat    Mokal (bisa rusak/berubah) dan yang 1 adalah kuasa (wenang dalam bahasa jawa).    Jika difikir dengan benar bahwa sifat 20 itu menyatu dengan manusia, maka itulah disebut cukup alatnya. Oleh sebab itu manusia diwibawai dengan sifat 20 tadi,    umpamanya melihat, mendengar, hidup, bicara dan lain-lain. Semua sifat-sifat    Allah tersebut disebutkan dibawah ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIFAT 20 ARTINYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. WUJUD = ADA&lt;br /&gt;2. QIDAM = TIDAK ADA YG MENDAHULUI&lt;br /&gt;3. BAQA = KEKAL&lt;br /&gt;4. MUHALAFALIL HAWADIS = BEDA DENGAN YG BARU&lt;br /&gt;5.QIYAMUH BINAFSIHI = BERDIRI SENDIRI&lt;br /&gt;6. WAHDA NIYAT = MENYATU&lt;br /&gt;7. QODRAT = KUASA&lt;br /&gt;8. IRODAT = KEHENDAK&lt;br /&gt;9. ILMU = PENGETAHUAN&lt;br /&gt;10. HAYAT = HIDUP&lt;br /&gt;11. SAMAK = MENDENGAR&lt;br /&gt;12. BASHAR = MELIHAT&lt;br /&gt;13. QALAM = BERKATA&lt;br /&gt;14. QADIRAN = YANG MEMPUNYAI KUASA&lt;br /&gt;15. MURIDAN = YANG MEMPUNYAI KEHENDAK&lt;br /&gt;16. ALIMAN = YANG MEMPUNYAI ILMU&lt;br /&gt;17. HAYAN = YANG MEMPUNYAI HIDUP&lt;br /&gt;18. SAMIAN = YANG MEMPUNYAI PENDENGARAN&lt;br /&gt;19. BASIRAN = YANG MEMPUNYAI PENGLIHATAN&lt;br /&gt;20. MUTAKALINAN = YANG MEMPUNYAI PERKATAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pelajar Usuluddin bahwa sifat 20 itu diringkas menjadi 4;&lt;br /&gt;1. Sifat kesatu disebut Nafsiah yaitu untuk badan (jasmani) nyata.&lt;br /&gt;2. Sifat kedua sampai keenam disebut Salbiyah, yaitu sifat yang kekal.&lt;br /&gt;3. Sifat Ke-7 sampai Ke-13 disebut Ma’ani, yaitu yang memiliki sifat Nafsiah, jika diteliti bekerjanya badan manusia bisa langsung bicara, mendengar dan berfikir.&lt;br /&gt;4. Sifat ke-14 sampai ke-20 disebut Maknawiyah, yaitu yang memiliki sifat Ma’ani, artinya bisa bergerak, berkuasa, mempunyai kemauan dan ilmu.&lt;br /&gt;Itu semua sifat yang utuh untuk menggerakkan, terdapat pada sifat ke-7 sampai ke-13, yaitu yang menghidupi badan manusia sehingga bisa bergerak dan yang menggerakkan terdapat pada sifat ke-14 sampai ke-20. Supaya jelas Dat Allah bisa menciptakan apa yang dikehendaki, lalu ada bentuk (wujud) manusia yang disebut Nafsiah, Karena hidupnya manusia mempunyai sifat-sifat 20. jadi bekerjanya sifat Ma’ani untuk manusia oleh karena manusia mempunyai sifat-sifat ke-14 dan ke-20. Tanda-tanda bukti (terbukti) sifat Qodrat (kuasa) itu sifatnya tetap berkuasa. Untuk manusia kekuasaan itu hanya memakai akibatnya daya yang memiliki kekuasaan Allah, contoh salah satunya sifat DAT. Umpama sifat ke-18 : (Sami’an) yang mendengarkan itu berada ditelinga, jadi ditelinga bisanya mendengarkan memiliki sifat Samak, dan terjadinya sifat Maknawiyah itu karena mempunyai sifat Ma’ani. Jelasnya Dayanya sifat Samak langsung bisa untuk mengetahui itu sesudah mempunyai sifat Wujud (ujud)/nyata yaitu telinga yang dimiliki manusia. Kalau salah penerimaan, kadang menjadi lupa dan menganggap Allah itu bertempat pada manusia, sebenarnya manusia itu hanya memakai Hakikatnya sifat-sifat Allah. Walaupun tidak berada ditelinga, Allah itu bisa mendengar, oleh karena Allah yang memilki semua sifat tersebut. Maka dari itu membaca Hidayat Jati itu harus dikaji, karena satu-satunya induknya pengetahuan, artinya Hidayat Jati itu tidak salah, tetapi yang membacanya saja harus berfikir. Umpama membaca sifat-sifat yang disebutkan diatas harus diulang-ulang, baru dapat merasa tentram dan terang, baru suasana menjadi merasa terbuka pikirannya, Firman Allah Qur’an surat Ar-Ra’d : 28;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipelajaran semua sifat tadi lalu diulas (dibahas) lagi nama dan perkataan dibawah ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sifat ke-1 disebut sifat Jalal, artinya Maha Agung, yang dinamakan agung itu DAT yang menyelimuti/melingkupi apa yang diciptakan.&lt;br /&gt;b. Sifat ke-2, 3, 4, 5 disebut sifat Jamal, artinya Maha Elok/Sempurna, yang sempurna itu sifatnya, sebab tidak ada yang sama (menyerupai). Bukan laki, bukan perempuan, bukan banci, tidak beranak, tidak diperanakan (walam yalid walam yulad walam yakullahukufuan ahad) tidak bisa dijangkau dan tidak nyata.&lt;br /&gt;c. Sifat ke-11, 12, 13 dan sifat ke-18, 19, 20 disebut sifat Kamal, artinya Maha Sempurna dan Afhngal yang menciptakan keadaan tanpa cacat, sebab tidak ada makhluk yang mengherankan.&lt;br /&gt;d. Sifat ke-6, 7, 8, 9, 10 dan ke-14, 15, 16, 17 disebut sifat Kahar, artinya Maha Wisesa (Maha Menguasai), melayani semua tanpa pilih kasih (tidak membeda-bedakan) walaupun Jin, syetan, Manusia, dan Hewan, oleh karena itu Allah disebut Suci, jadi siapa saja yang hidup bisa menyebut Allah dengan caranya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Asma/NAMA (julukan) itu hanya kata manusia, hanya untuk menyebut nama Allah wajib adanya, karena manusia berhak menolak dan menerima, hanya terbawa diri sendiri karena bisa bicara (ngomong) mengatakan penguasa tinggi adalah Allah. Yang Maha Kuasa disembah/dipuja dan tidak bisa dilihat (tidak nyata), karena Hakikatnya menyelamatkan umat manusia, lalu menyebutnya macam-macam menurut pengetahuan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan : satu-satunya orang menyebut Allah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayat jati menerangkan Allah hanya nama pribadinya, pribadi itu bentuk manusia yang lengkap memiliki Datnya Allah. dan Datnya Allah meliputi Jagad Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah menyatakan Qur’an surat Fushshilat (Hammim As-Sajdah) : 54&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Dat itu meliputi seluruh yang ada, manusia langsung mengakui bahwa Allah itu meliputi tidak diluar dan tidak didalam, seperti sirih; akar, pohon dan daun baunya sama. Oleh karena umpama Datnya Allah itu seperti rasanya sirih, karena sulit untuk ditebak, dinyatakan “tidak diluar dan tidak didalam”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Afhngal (geraknya Allah).&lt;br /&gt;Karena Afhngal (gerak) semua makhluk yang diciptakan apa saja, Atom, seluruh zat gaib; Syetan, Malaikat dan manusia. Semua mengandung zat Allah. Jadi Jagad raya itu tidak pernah berubah (tetap) geraknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerjanya Dat itu yang wajib sifatnya; tertib, Tentram, Adil, Suci, tidak membeda-bedakan, benar, tidak pernah berubah kekuasaannya. Umpama mau membuktikan setiap hari; ada orang membuat mainan dari kaleng diberi perputaran (as), minyak bensin dan roda, umpama mainan dibunyikan bisa berjalan, itu kerja yang membuat bisanya jalan barang tadi pasti sudah direncanakan dan memang pintar, kepintaran membuat barang disebut hakikatnya Dat yang membuat. Allah itu maha cerdik, lalu apa yang dikehendaki pasti jadi, pasti bergerak, itu contoh lain bagi tanda saksi bekerjanya (bergeraknya) DAT wajib adanya. Dari zaman dahulu kala jutaan tahun; bumi, matahari, bulan, bintang, udara dan lain-lainnya itu tarik menarik selamanya tanpa berubah, menjadikan daya alam (hukum-hukum alam) yang tertib seperti; siang, malam, panas, dingin tidak pernah berubah, tidak dapat diukur seberapa kekuatan DAT itu. karena sangat tertibnya dan tenang lalu timbul menuju arah satu, tidak cerai berai; terhadap manusia tiap hari tetap saling membutuhkan, contohnya begini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Di hutan ada lebah madu glodok, madu kesukaan manusia dan lebah.&lt;br /&gt;b. Karena madu lebah untuk jamu/obat, karena membutuhkan lalu mencari kehutan.&lt;br /&gt;c. Di Hutan banyak bunga-bunga, itu saling dibutuhkan manusia, lebah, kupu-kupu saling mengisap.&lt;br /&gt;d. Adilnya Yang Maha Kuasa; supaya kupu-kupu tadi selamat dari serbuan lebah dan manusia, sayapnya diciptakan satu warna dengan bunga-bunga tadi agar manusia dan lebah tidak bisa membedakan mana yang bunga dan mana yang kupu-kupu dikarenakan sayap kupu-kupu seperti bunga-bunga yang ada dihutan. Lama-lama manusia berusaha supaya lebah tadi semua berkumpul kerumahnya, lalu dibuatkan rumah-rumahan dari kayu yang dibuat seperti sarangnya, oleh karena itu manusia juga mempunyai kekuasaan mengatur lebah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi terjadinya manusia sebab dari yang satu (Allah), kalau difikir betul bentuk tentran ya DAT Allah SWT dan menuju yang satu menyebabkan terjadinya benar dan selamat. Apa buktinya bila manusia mempunyai kekuatan dari Allah, kata-kata mempunyai kekuatan bisa ditafsirkan manusia itu sama dengan Allah bagi orang yang salah tafsir (salah pendapat). Yang diatas menyatakan bila Allah itu mempunyai sifat 20 wajib, 20 mokal (sebaliknya) dan sifat berkuasa (Yang Maha Kuasa / Wenang dalam bahasa jawa), kuasa artinya yang menciptakan semua yang ada didunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. WUJUD (Ujud) artinya ada (Allah), yang telah menciptakan Jagad Raya atau sebagai tanda saksi Bumi, Langit, Bintang, Matahari, Makhluk-makhluk semua dan Manusia Makhluk sempurna dan DAT yang tidak nampak itu wajib adanya. Keterangan itu orang bisa mengatakan ada (Ujud) karena diciptakan yaitu merupakan jasmani, hanya Cuma pinjam. Karena itu kitab Usuludin mengatakan sifat Ke-1 WUJUD untuk jasmani, itu sebabnya manusia bisa bergerak-gerak, kalau tidak ada berarti mati, sebab mati itu tidak bisa mengatakan (bicara) apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. QIDAM / Dulu tidak ada yang mendahului, maksudnya Allah itu Allah itu tidak ada yang lebih dulu dari padanya. Jadi jika ada sifat yang mendahului itu berarti bukan Allah. Jikalau ada yang mendahului itu pasti bukan Allah (Allah lebih dari satu), Allah 1 dan Allah 2 berebut kekuasaan, jadi manusia mengatakan Allah itu tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. BAQA (Abadi/kekal), maksudnya tidak bisa berubah selamanya. Jagad Raya yang diciptakan tadi tetap ujud tidak pernah berubah (abadi), Allah itu tidak seperti barang. Baru itupun yang mengatakan orang yang hidup. Sifat Allah yang bisa kita rasakan; Abadi itu sifatnya Allah sendiri sifat ke-1 sampai ke-20. Bukti untuk ukuran manusia, lidah tidak bisa merasakan manis/kelat sawo itu bila dimakan (dirasakan). Jadi sawo manis dan kelat bisa dirasakan, tetapi manis dan kelat itu sifatnya (langeng dalam bahasa jawa) kekal walaupun tidak dimakan orang. Kekalnya manusia karena bergerak, kekalnya sawo karena manis. Abadi itu batasnya masih hidup (sebelum mati). Jadi adanya senang, susah, dingin, panas yang memiliki (merasakan) orang hidup. Walaupun orang sudah mati siabadi tetap disebut abadi oleh orang yang masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. MUHALAFAH LIL HAWADIS (beda dengan yang baru), artinya sifat-sifat Allah yang tidak bisa disamakan (diungguli) oleh siapa saja, karena semua itu ciptaannya. Untuk manusia semua beda bentuknya disebut sifat Baru (beda dengan yang baru). Manusia dilahirkan dengan sifat baru, bisa berubah-rubah karena namanya manusia didunia dimanapun beradanya pasti sama, bersuku-suku, mempunyai mata, kaki, telinga dan lain-lain. Walaupun kata-kata beda dengan yang Baru manusia, beda dengan hewan walau sama-sama hidupnya (lembu dan kambing), 10 juta lembu dan kambing ya bentuknya sama semua. Misal Manusia ada 10 juta ya sifatnya sama. Allah SWT itu jika menciptakan makhluk satu dan yang lain berbeda antara Manusia, Binatang, tumbuh-tumbuhan. Maha Bijaksana Allah menciptakan isi Alam ini bisa membeda-bedakan ciptaannya, itulah yang disebut MUHALIFAH LIL HAWADIS (beda dengan yang baru). Didunia banyak makhluk-makhluk yang mengherankan, semuanya berbeda-beda; Manusia, Lembu, Kambing, Lebah semuanya barang baru, beda dengan yang baru lagi. Semua tadi membuktikan (saksi) Allah menciptakan makhluknya menurut kehendaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. QIYAMUH BINAFSIHI (berdiri sendiri), artinya tidur nyeyak bangun sendiri, benih timbul sendiri dan Matahari, Bulan, Bintang, Siang, Malam bergerak sendiri tidak pernah berubah-ubah. Jadi yang bergerak itu mempunyai sifat Qiyamuhu Binafsihi, contoh lain Atom, Neutron, Positron, Elektron semua itu bisa (Makarti dalam bahasa jawa) atau bergerak karena mempunyai sifat berdiri dengan sendiri otomatis. Ilmu Kesehatan Plasma darah tetap jalan sendiri, sebab kena daya panas, umpama plasma itu bisa dipecah-pecah sampai halus walaupun tidak kena/tersentuh panas jika menempel ketubuh masih bisa berjalan sendiri. Semua ilmuwan mengakui bahwa Plasma-plasma itu hidup. Contoh lagi yang membuktikan memakai mikroskop ukuran 10,000 disitu terbukti Plasma tersebut bisa berjalan/bergerak-gerak (6 mm/jam). Ternyata habisnya pendapat tentang Allah yang menggerakkan makhluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. WAHDA NIYAT (satu), artinya tunggal, sifat itu mudah diterima karena bukan dua atau tiga, artinya satu itu meyakinkan bahwa adanya Allah. Untuk manusia adalah DAT, karena manusia asal dari DAT (zat) yang satu itu. Semua tujuannya benar, karena Dat Allah itu satu (Wahda niyat) yang memiliki sifat 20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. QODRAT (kuasa), keterangan itu begini; orang duduk dikursi akan berdiri dan langsung berdiri karena mempunyai sifat Qudrat /kuasa, sanggup memerintah dirinya. Qudrat air (kuasa air) tidak bisa memerintah, hanya mengalir ketempat yang lebih rendah dan merata (waterpass), bisa dilihat dari daya alam surya, panas, udara dingin menghembus, air (hydrogen) atom plus/minus bisa jadi elektrik. Yang Kuasa langsung membuat hukum-hukum alam yang teratur tidak bisa mengalami benturan. Qudrat itu diberikan kepada manusia tinggal pakai. Perkataan Qudrat jauh sekali, maka alat-alat manusia; Panca indra, pikiran dan nafsu itu dikodratkan oleh Allah karena manusia tadi mempunyai sifat Qudrat. Jadi semua tadi tinggal menggunakan Qudrat tadi. Qudrat Allah yang diciptakan semua sempurna dan mempunyai daya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. IRODAT (Kemauan/kehendak), jadi kehendak itu yang menguasai gerak, sifat Irodatnya diam (tidak bergerak), Irodatnya Allah yang melebihi (tidak wajar), umpama bayi kembar siam, bayi berkepala duapun di ciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. ILMU (ilmu), manusia mempunyai pengetahuan karena mempunyai ilmu, dari sifat Allah Ilmu, manusia bisa membaca, menulis karena terbuka hatinya baru menulis karena terbuka hatinya baru mempunyai ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu bisa terlaksana sempurna jika terbuka hatinya (Kijabnya), benar Firman Allah Qur’an surat An-Nissa : 126 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun orang yang tidak tau apa itu, bukan karena bodoh, tetapi karena memang masih belum terbuka hatinya (terbuka kijabnya). Terbukanya hati terhadap orang-orang jaman dahulu terjadinya para wali Allah. Ilmuwan/sarjana, Pujangga, yang terbuka hatinya menuju kepada ilmunya Allah yang sejati. Dan ilmu lainnya hanya untuk bermasyarakat, itu setiap orang bisa belajar (mempelajari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. HAYAT (hidup), yang dibilang hidup ialah makhluk yang bergerak karena memiliki sifat ke-10 (HAYAT) dan sifat mokal (sebaliknya, Mati), manusia hidup lebih sempurna sifat hidupnya dari pada makhluk lain. Manusia sifat Hayat lebih sempurna dari zat-zat hewan dan tumbuh-tumbuhan, sebab manusia apa saja yang dikehendaki mesti tercapai walaupun perlahan (tidak merasakan) walaupun sifatnya gaib, sperma, basil, molekul-molekul yang tidak nampak, tetapi bisa dilihat dengan alat mikroskop maka terlihat bergerak-gerak. Itulah tanda bahwa DAT wajib adanya, sebab sifat Hayat meliputi Jagad Raya, dimana saja sifat Hayat tadi memberi daya. Intisarinya hidup itu bukan Allah, tetapi sifatnya mendayai (memberi daya) apa saja yang nampak dan tidak nampak (gaib). Gundik (jawa) Raja rayap itu dibungkus rapat dengan tanah liat sehingga tidak ada udara tetapi Raja Rayap tadi bisa hidup dan bertelur. Itu membuktikan sifat 20 meliputi seluruh keadaan, jadi hidup itu dimiliki semua makhluk, beda dengan manusia sifat hayat itu sempurna karena memilki sifat 20 yang lengkap sehingga bisa meneliti sifat-sifat Allah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tumbuh-tumbuhan hidup tetapi mempunyai sifat 20&lt;br /&gt;b. Hewan hidup tetapi hanya memiliki sebagahagian sifat 20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. SAMAK (mendengar), memilki alat telinga mokalnya (jawa)/ sebaliknya tuli. Wirid Hidayat Jati yang asli halaman 12 baris kedua dari atas; DAT Allah Yang Maha Suci itu kalau melihat memakai mata kita, kalau mendengar melalui telinga kita, DAT ke-11 itu salah satu sifat Allah, walaupun punya telinga bila tidak dialiri sifat ke-11 (Samak) hanya telinga-telingaan. Pokok kata Dat sama walaupun tidak memakai telinga tetap mendengar, karena Allah yang memilki, manusia hanya memakai. Selanjutnya Datnya manusia adalah sifatnya Allah. Sebelum ada DAT tidak bisa mengetahui sifat (tidak ada), karena DAT Allah itu berada pada manusia dan manusia itu luhur (sempurna) karena itu hanya manusia yang memiliki sifat 20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. BASHAR (melihat), terhadap manusia dan hewan bekerjanya melalui mata, bukan berarti Allah melihat melalui manusia dan hewan, Allah itu melihat melalui mata kita kenapa kita tidak bisa melihat sebelum terjadi, sebab Allah melihat apa yang akan terjadi. Jadi pertanyaan salah menelaah tetapi benar, sebab terhadap umum (pendapat) pasti melihat itu karena mata yang melihat, sebab setiap melakukan pekerjaan selalu nampak jadi dinamakan Bashar. Jadi mata yang terang jika tidak dialiri sifat Allah yang namanya Bashar tentu tudak bisa melihat (buta), sifat mokal namanya. Bagaimana ukuran bagi Allah tentang sifat Bashar itu artinya Allah melihat tidak memakai mata karena Dat/sifat Bashar tadi memang sudah mempunyai daya sendiri, contoh orang tidur; mata tidak bisa melihat (bekerja) kenapa bisa melihat yang belum pernah dilihat atau mimpi (diwaktu mimpi). Jadi Dat yang memiliki sifat Bashar itu sebenarnya bekerja sendiri (Makarti dalam bahasa jawa). Dat yang bisa mengetahui tadi bisa dimiliki semua orang aktif (hidup), bekerjanya (Makartinya) tidak memerlukan pelajaran dan belajar, sebab anak-anak, orang dewasa selalu melihat yang belum pernah dilihat, sebab itu terjadinya bagi orang yang sempurna, orang bisaa bisanya melihat dengan tidak sengaja menurut kehendak Yang Maha Kuasa (Dat Bashar), sebab itu Dat Bashar itu salah satunya sifat Allah, lalu disebut Allah Yang Maha Melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. QALAM (berbicara), bicaranya Allah itu menurut sifatnya manusia bicara, burung berkicau dan lain-lain. Sifat-sifat yang baru dan semua isi Jagad Raya yang baru kehendaknya (Allah) atau sifat Allah yang dimiliki para Nabi, Wali dan Rasul-rasul Allah, yang maknanya menuju kebenaran, seperti kitab Al-Qur’an yang mengatakan Allah itu Rasullullah (Nabi Muhammad). Ukuran manusia sifat mokalnya / sebaliknya yaitu bisu, Sabda Allah menuju kebenaran. Orang yang bisa menunjukkan kesalahan menuju kebenaran adalah orang yang sudah memiliki sifat Qalam, umpama para Rasul, contoh manusia bergaul selalu salah menyalakan, Rasul lalu meluruskan (para Nabi), karena Rasul membawa Firman Allah, contohnya sifat ke-2 Qidam; dulu tidak ada yang mendahului, sifat ke-4 Muhalafah Lil Hawadis (sifat baharu/barang baru). Kata-kata yang benar itu tidak ada yang mendahului, artinya tidak ada ulur tarik dan tidak ada sifat mokal (saleh). Al-Qur’an itu semua tujuannya tdak ada yang berlawanan, terhadap perkataan yang dimiliki manusia, Wali, Mukmin yang telah sempurna, yang dibicarakan hanya perihal tentang Allah, perkataannya pasti benar, karena itu satu orang tidak sama oleh karena membuktikan, mereka mendapat Wahyu allah (sifat Qidam). Dan perkataan Allah beda dengan yang baru hanya terdapat pada manusia sendiri, artinya manusia berbicara berbeda dengan makhluk lain. Makhluk-makhluk yang memiliki sifat Qalam tidak hanya yang bisa bicara, tetapi semua bisaa bersuara karena dialiri oleh sifat Qalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. QADIRAN (Yang Berkuasa), yang kuasa itu menurut ukuran manusia, umpama sudah mempunyai sifat Qudrat, karena memiliki sifat tadi, manusia bisa mengerjakan perintahnya, contoh mata; kalau tidur terpejam lalu bangun terbelalak-belalak, karena manusia mempunyai sifat Qadiran; bisa mejamkan mata dan membuka mata. Kuasanya manusia semua alat badan sebenarnya tidak tetap konsisten (tetap), tetapi berubah-ubah sebab manusia tidak bisa memerintah kodratnya mata, sewaktu mata tidak mengantuk; manusia tidak bisa membuka mata sampai lama dan pasti terasa pedih, memejamkan mata terus-menerus (lama) pasti tidak tahan karena tidak merasa mengantukl, jelas sifat Qadiran itu manusia bisa menundukkan alat tubuh jika tidak berlawanan demgan sipat kuasanya (kodratnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangannya sipat Qadiran itu menyebabkan manusia bisa memerintah alat-alatnya karena alat sudah tercetak ucap kerja sama (constant) tidak pernah diperintah jadi yang bisa di perintah itu hanya alat-alat yang bekerja menurut kodratnya, karena manusia bisa merintahnya, itu karena memiliki sifat Qadiran. Yang lebih tinggi tingkatannya yaitu sifat Qodrat, sebab sifat Qodrat itu yang memiliki dan sifat Qadiran yang diberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. MURIDAN (yang berkehendak), sifat itu terdapat (dimiliki) oleh manusia, artinya sesudah manusia memiliki sifat Irodat, Karena diberi sifat tadi (Irodat) manusia lalu disebut memilki sifat Irodat, contoh anak menulis itu mempunyai (mengerjakan), menulis itu pekerjaan (sifat). Untuk ukuran manusia sifat Muridan tadi terbukti rasa kemauan gerak, sebab dari gerak kemauan sebenarnya mannusia mempunyai sifat Irodat (kehendak), jadi bisa bicara karena mempunyai sifat Irodat, sifat Irodat bentuknya menjadi sifat sebagai yang memiliki (manusia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan: diatas itu termasuk sifat-sifat ke-16, 17, 18, 19 dan 20, dan keterangan yang terakhir; sifat-sifat ke-1 sampai ke-20 sebenarnya hanya salah satu sifatnya Allah sendiri dan manusia seharusnya berterima kasih kepada Yang Maha Suci Allah, karena diciptakan memiliki sifat-sifat-Nya yang lengkap, begitu juga sifat Allah sendiri sifat 20+20+1; 20 Wajib + 20 Mokal (sebaliknya) + 1 Adil. Menurut para ahli, sifat-sifat yang dimiliki manusia itu disebut INGSUN (jawa), Purusha (Sansekerta), IKHEID (Belanda), Rabbi/Illahi (Arab), Pangeran/Gusti (jawa), Tuhanku (Indonesia). Bersambung ………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-2815991981460214239?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/2815991981460214239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=2815991981460214239&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/2815991981460214239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/2815991981460214239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/10/keterangan-sifat-20-allah.html' title='Keterangan Sifat 20 Allah'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SubDYuZLqAI/AAAAAAAAACQ/eEMQIzM3Zws/s72-c/Ragil+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-3860535447288582994</id><published>2009-10-05T01:05:00.000-07:00</published><updated>2009-10-05T01:10:12.035-07:00</updated><title type='text'>PIWULANG JAWA</title><content type='html'>KEMLADHEYAN NGAJAK SEMPAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti benalu mengajak patah. Pepatah ini dalam masyarakat Jawa dimaksudkan sebagai bentuk petuah atau sindiran bagi orang yang menumpang pada seseorang, namun orang yang menumpang itu justru menimbulkan gangguan, kerugian, dan bahkan kebangkrutan bagi yang ditumpanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benalu adalah jenis tanaman parasit yang menghisap sari-sari makanan dari pohon yang ditumpanginya. Dalam pepatah di atas benalu tersebut tidak saja digambarkan menghisap sari-sari makanan dari induk tanaman yang ditumpanginya, namun benalu tersebut justru mengajak dahan yang ditumpanginya untuk patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bisa terjadi pada sebuah keluarga yang menampung seseorang (atau semacam indekosan) akan tetapi orang yang menumpang itu dari hari ke hari justru menimbulkan kerugian pada yang induk semangnya. Kerugian itu bisa berupa materiil maupun spirituil. Mula-mula orang yang indekos ini hanya menempati sebuah kamar. Akan tetapi karena kelicikan dan keculasannya bisa saja kemudian ia melakukan rekayasa sehingga orang yang punya rumah induk justru terusir karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain dari pepatah itu dapat dilihat juga pada berbagai peristiwa sosial yang kerap terjadi di tempat-tempat indekosan. Oleh karena sebuah keluarga menyediakan kamar-kamar indekosan, tidak jarang orang yang indekos akhirnya terlibat percintaan dengan bapak atau ibu kosnya sendiri sehingga keluarga yang semula menyediakan indekosan itu hancur urusan rumah tangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan semacam itu juga dapat terjadi pada sebuah perusahaan. Orang yang mendapat kepercayaan pada sebuah perusahaan oleh karena jiwa tamak dan rakusnya sering kemudian memanfaatkan kekayaan atau dana perusahaan untuk memperkaya diri sendiri. Akibatnya perusahaan mengalami kebangkrutan atauy bahkan tutup usaha atau kegiatan karenanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAPA NANDUR BAKAL NGUNDHUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti siapa menanam akan menuai. Secara luas pepatah ini berarti bahwa apa pun yang kita perbuat di dunia ini akan ada hasilnya sesuai dengan apa yang kita perbuat. Ibarat orang menanam pohon pisang, ia pun akan menuai pisang di kemudian hari. Jika ia menanam salak ia pun akan menuai salak di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lebih jauh pepatah ini ingin mengajarkan kepada kita bahwa jika kita melakukan perbuatan yang tidak baik, maka di kemudian hari kita pun akan mendapatkan sesuatu yang tidak baik. Entah itu dari datangnya atau bagaimanapun caranya. Intinya, pepatah ini ingin mengajarkan hukum keseimbangan yang dalam bahasa Indionesia mungkin sama maknanya dengan pepatah, siapa menabur angin akan menuai badai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda merasa berbuat buruk, lebih-lebih perbuatan buruk tersebut merugikan, melemahkan, mengecilkan, bahkan “mematikan” orang lain, bersiap-siaplah Anda untuk menerima balasannya kelak di kemudian hari. Balasan itu mungkin sekali tidak langsung mengenai Anda, tetapi bisa juga mengenai anak keturunan Anda, saudara, atau famili Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Anda merasa telah berbuat kebajikan, Anda boleh merasa tenteram sebab Anda pun akan menuai hasilnya kelak di kemudian hari. Hasil itu mungkin tidak langsung Anda terima, namun bisa jadi yang menerima adalah anak keturunan Anda, saudara, atau famili Anda. Hasil itu belum tentu sama seperti yang Anda perbuat, namun bobot, makna, atau nilainya barangkali bisa sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian makna pepatah yang masih banyak diyakini kebenarannya oleh masyarakat Jawa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AMEMAYU HAYUNING BUWANA&lt;br /&gt;Pepatah Jawa ini secara harfiah berati mempercantik kecantikan dunia. Pepatah ini menyarankan agar setiap insan manusia dapat menjadi agen bagi tujuan itu. Bukan hanya mempercantik atau membuat indah kondisi dunia dalam pengertian lahir batin, namun juga bisa membuat hayu dalam pengertian rahayu ’selamat’ dan sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian pepatah ini sebenarnya ingin menyatakan bahwa alangkah indah, selamat, cantik, dan eloknya kehidupan di dunia ini jika manusia yang menghuninya bisa menjadi agen bagi hamemayu hayuning buwana itu. Untuk itu setiap manusia disarankan untuk tidak merusakkan dunia dengan perilaku-perilaku buruk dan busuk. Perilaku yang demikian ini akan berbalik pada si pelaku sendiri dan juga lingkungannya. Hal inilah yang merusakkan dunia. Untuk itu pengekangan diri untuk tidak berlaku jahat, licik, culas, curang, serakah, menang sendiri, benar sendiri, dan seterusnya perlu diwujudkan untuk mencapai hayuning buwana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja makna yang dimaksudkan oleh pepatah ini adalah makna dalam pengertian lahir batin. Keduanya harus seimbang. Tanpa itu apa yang dimaksud dari hamemayu hayuning buwana itu akan gagal. Sebab tindakan yang tidak didasari ketulusan dan kesucian hati hanya akan menumbuhkan pamrih di luar kewajaran atau tendensi yang barangkali justru menjadi bumerang bagi tujuan pepatah itu. Sebab hamemayu hayuning buwana mendasarkan diri pada niat yang suci atau tulus dalam mendarmabaktikan karya (kerjanya) bagi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WANI NGALAH LUHUR WEKASANE&lt;br /&gt;Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti berani mengalah akan mulia di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang boleh saja mencemooh pepatah yang sekilas memperlihatkan makna tidak mau berkompetisi, pasrah, penakut, lemah, dan sebagainya. Namun bukan itu sesungguhnya yang dimaksudkan. Wani ngalah sesungguhnya dimaksudkan agar setiap terjadi persoalan yang menegangkan orang berani mengendorkan syarafnya sendiri atau bahkan undur diri. Lebih-lebih jika persoalan itu tidak berkenaan dengan persoalan yang sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada persoalan yang sangat penting pun jika orang berani mengalah (sekalipun ia jelas-jelas berada pada posisi benar dan jujur), kelak di kemudian hari ia akan memperoleh kemuliaan itu. Bagaimana kok bisa begitu ? Ya, karena jika orang sudah mengetahui semua seluk beluk, putih-hitam, jahat-mulia, culas-jujur, maka orang akan dapat menilai siapa sesunggunya yang mulia itu dan siapa pula yang tercela itu. Orang akan dapat menilai, menimbang: mana loyang, mana emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tidak mudah bahkan teramat sulit dan nyaris mustahil untuk bersikap wani ngalah itu. Lebih-lebih di zaman yang semuanya diukur serba uang, serba material, hedonis, dan wadag semata seperti zaman ini. Namun jika kita berani memulai dari diri sendiri untuk bersikap seperti itu, dapat dipastikan kita akan beroleh kemuliaan di kemudian hari sekalipun sungguh-sungguh kita tidak mengharapkannya, karena kemuliaan itu sendiri tidak bisa diburu-buru atau diincar-incar seperti orang berburu burung. Kemuliaan didapatkan dengan laku serta keikhlasan. Jika kita mengharap-harapkannya, maka semuanya justru akan musnah. Kemuliaan itu sekalipun berasal dari diri kita sendiri namun orang lain lah yang menilainya. Bukan kita. Kita tidak pernah tahu apakah kita ini mulia atau tidak. Orang lain lah yang bisa menilai itu atas diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GUSTI ALLAHE DHUWIT, NABINE JARIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti Gusti Allahnya uang, nabinya kain. Pepatah ini sebenarnya ingin menggambarkan orang yang hidupnya hanya memburu uang atau harta benda, kemewahan, dan kenikmatan. Sehingga yang ada di dalam otak dan hatinya hanyalah bagaimana mendapatkan uang, kemewahan, dan kenikmatan hidup itu. Bahkan untuk mendapatkan itu semua ia rela melupakan segalanya. Baik itu etika, moral, kebajikan, dan seterusnya. Tidak ada halangan apa pun sejauh itu semua ditujukan untuk mendapatkan uang, kemewahan, dan kenikmatan. Artinya, uang, kemewahan, dan kenikmatan adalah segala-galanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang boleh saja menampik pepatah itu. Akan tetapi di balik itu semua orang juga sangat sering tidak sadar bahwa seluruh daya hidup yang ada pada dirinya hanya ditujukan untuk tujuan duniawiah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEBO NYUSU GUDEL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah tersebut di atas secara harfiah berarti kerbau menyusu gudel. Gudel adalah nama anak kerbau. Jadi pepatah itu menunjukkan sebuah logika yang terbalik atau dibalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari pepatah itu adalah bahwa orang tua atau dewasa yang meminta pengetahuan, pelajaran, atau bahkan meminta jatah hidup kepada anaknya. Secara logika semestinya orang tua itu lebih dulu tahu, pintar, dan punya uang daripada anaknya. Akan tetapi pada banyak kasus logika semacam itu justru terbalik. Ada banyak orang tua yang minta pengetahuan atau pelajaran serta bahan untuk kelangsungan hidupnya pada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESRIMPET BEBED KESANDHUNG GELUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti terjerat bebed (kain jarit) tersandung gelung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara luas pepatah ini ingin menggambarkan tentang terjeratnya seorang pria pada wanita. Bebed dan gelung dalam masyarakat Jawa adalah identik dengan wanita itu sendiri. Jadi, yang dikatakan sebagai kesrimpet bebed kesandung gelung adalah peristiwa terjeratnya seorang pria (biasanya yang telah berkeluarga) pada wanita wanita lain (bisa gadis, janda, atau ibu rumah tangga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peristiwa semacam itu si pria bisa tidak berkutik sama sekali (karena telah terjerat dan tersandung) oleh wanita tersebut sehingga kehidupannya menjadi kacau dan serba tunduk pada wanita tersebut. Apa pun yang dimaui wanita itu akan dituruti oleh pria yang terlanjur kesrimpet tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah ini ingin mengajarkan agar kita semua tidak mudah terjerat oleh hal-hal yang nempaknya memang indah dan nikmat, namun di balik itu hal demikian justru mengancam ketenteraman, keselamatan, dan kenyamanan hidup kita sendiri dan orang lain (keluarga, saudara, tetangga, dan sebagainya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GUPAK PULUTE ORA MANGAN NANGKANE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti tidak makan nangkanya tetapi terkena getahnya. Secara luas pepatah Jawa ini ingin menunjukkan sebuah peristiwa atau kiasan yang menggambarkan akan kesialan seseorang karena ia tidak menikmati hasilnya tetapi justru menerima resiko buruknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal semacam ini dapat dicontohkan misalnya ada dua atau lebih orang melakukan pencurian, namun hanya salah seorang yang kena tangkap. Orang yang kena tangkap itu kemudian dipukuli dan dihukum sedangkan temannya yang lolos berhasil membawa kabur hasil curiannya. Orang yang apes itulah yang dikatakan sebagai terkena getahnya. Sedangkan temannya yang kabur sambil menggondol curiannya itulah yang memakan nangkanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat juga dicontohkan, ada seorang yang tidak tahu apa-apa tentang persoalan yang sedang terjadi di lingkungannya, namun tiba-tiba ia dikorbankan. Mungkin sekali ia dikorbankan karena ketidaktahuannya itu. Sementara orang yang mengambil manfaat dari perkara itu bisa melenggang dengan merdeka seperti tanpa dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GELEM JAMURE EMOH WATANGE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti mau jamurnya tidak mau bangkainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah tersebut secara luas ingin menggambarkan keadaan (seseorang) yang hanya mau enaknya tetapi tidak mau jerih payahnya. Hal ini bisa dicontohkan dengan misalnya sebuah perhelatan besar di sebuah dusun atau organisasi. Ketika persiapan, kerja bakti, dan lain-lain sedang dilakukan ada orang yang tidak mau terlibat karena mungkin takut kotor, takut capai, takut dianggap pekerja kasar, takut dianggap sebagi buruh yang tidak berkelas, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi ketika perhelatan itu sukses, maka orang yang tadinya tidak mau bekerja kasar itu tiba-tiba mengaku-aku bahwa dialah perancang atau arsiteknya. Jadi dialah yang patut diberi aplaus atau pujian. Bukan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain dari pepatah ini bisa juga dilihat misalnya dalam sebuah kerja bareng masak-memasak. Ketika semua orang terlibat urusn memasak, ada satu dua orang yang hanya berlaku atau berlagak seperti mandor. Akan tetapi begitu masakan itu matang orang yang berlagak seperti mandor itu justru yang makan pertama kali bahkan tidak memikirkan cukup tidaknya makanan tersebut bagi orang lain yang telah mempersiapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAYA KODHOK KETUTUPAN BATHOK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti seperti katak di dalam tempurung. Apa yang dilihat, diketahui, dan dirasakan katak di dalam tempurung tentunya hanyalah dunia di dalam tempurung itu. Katak tidak akan melihat suasana atau dunia di luar tempurung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara luas pepatah ini ingin mengatakan bahwa orang yang pikiran, referensi, pengetahuan, dan pengalamannya tidak banyak tentu tidak akan tahu banyak hal. Orang yang tidak meluaskan pengalamannya hanya akan berbicara hal-hal yang sempit, sebatas yang dia ketahui. Orang yang pengetahuannya masih sedikit sebaiknya tidak berlaku seperti katak dalam tempurung. Karena katak di dalam tempurung itu yang dia ketahui hanya sebatas dunia tempurung itu. Ia tidak tahu ada dunia yang lebih luas di luar sana. Untuk itu orang diharapkan untuk meluaskan pengetahuannya agar tidak bersikap seperti katak dalam tempurung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang seperti katak dalam tempurung, biasanya akan bersikap sombong atau angkuh dan sok tahu padahal dia sebenarnya belum tahu apa-apa atau pengetahuannya masih sedikit/dangkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAPA GAWE BAKAL NGANGGO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peribahasa atau pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti siapa membuat bakal memakai. Secara luas pepatah tersebut bermakna bahwa siapa pun yang membuat sesuatu dia sendirilah yang akan memakainya. Artinya, bahwa apa pun yang dilakukan seseorang, dia sendirilah yang akan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang berbuat baik, maka ia pulalah yang akan memakai kebaikan itu. Demikian juga jika ia berbuat sebaliknya. Pepatah ini sesungguhnya merupakan representasi dari kepercayaan akan adanya hukum karma atau hukum keseimbangan alam. Oleh karena itu bagi masyarakat yang mempercayai hal itu mereka akan sangat hati-hati untuk berbuat karena mereka sadar bahwa perbuatannya akan berdampak pada dirinya sendiri dan mungkin kepada famili dan keturunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti dapat dicontohkan misalnya apabila kita merusak alam, maka alam akan hancur dan kehancuran alam itu akan berdampak menghancurkan hidup kita. Dapat juga dicontohkan misalnya apabila kita selalu berbuat jahat kepada orang lain, entah disengaja atau tidak kita pun kelak akan dijahati atau dirugikan oleh tindakan orang lain atau oleh alam. Mungkin juga akibat perbuatan kita itu maka keturunan kitalah yang akan menerima akibat atau resikonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUNGGAK JARAK MRAJAK TUNGGAK JATI MATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti tunggak (pohon) jarak menjadi banyak tunggak jati mati. Mrajak dalam khasanah bahasa Jawa dapat diartikan sebagai berkembang biak. Dalam realitasnya pohon jarak memang akan bertunas kembali meskipun batangnya dipatahkan. Sedangkan tanaman jati bila dipotong batangnya biasanya akan mati. Jikalau tumbuh tunas baru, biasanya tunas baru ini tidak akan tumbuh sesempurna batang induknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah ini ingin menggambarkan tentang keadaan orang dari kalangan kebanyakan yang bisa berkembang (mrajak) dan sebaliknya, orang dari kalangan/trah bangsawan/berkedudukan tinggi yang tidak punya generasi penerus (mati). Keadaan semacam ini kerap terjadi di tengah-tengah masyarakat. Ada begitu banyak orang yang memiliki kedudukan tinggi, namun ia berasal dari kalangan rakyat biasa. Artinya, orang tuanya adalah orang biasa-biasa saja. Tidak kaya, tiak berpangkat, dan tidak memiliki garis keturunan bangsawan (jati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya pula banyak anak-anak atau keturunan orang-orang besar/berkedudukan/berdarah bangsawan yang keturunannya tidak mengikuti atau tidak bisa meniru atau melebihi kedudukan leluhurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA, ADIWICARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa ini dapat diterjemahkan sebagai mengunggul-unggulkan atau menyombongkan keelokan badan atau wajah, menyombongkan besarnya tubuh atau garus keturunan, menyombongkan ilmu atau pengetahuannya, dan menyombongkan kelihaian bicara atau merdunya suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah tersebut digunakan untuk menasihati orang agar tidak menyombongkan apa pun yang dimilikinya. Orang yang merasa diri mempunyai sesuatu, apa pun itu, kadang-kadang memang menjadi lupa bahwa semua itu hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa. Kesombongan karena merasa diri lebih dari orang lain ini sangat sering mengakibatkan orang yang bersangkutan berlaku semena-mena terhadap orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang merasa diri elok rupawan, punya kecenderungan menganggap orang lain tidak seelok dirinya. Orang yang menganggap dirinya besar dan kuat akan menganggap orang lain lemah. Orang yang merasa dirinya keturunan orang hebat berkecenderungan menganggap orang lain adalah keturunan orang rendahan atau tidak punya kelas sosial. Orang yang menganggap dirinya pintar cenderung menggurui dan menganggap orang lain tidak tahu apa-apa. Orang yang merasa dirinya pandai bicara akan berkecenderungan mempengaruhi orang lain dengan kelihaiannya berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti itu dalam masyarakat Jawa dicontohkan dalam perilaku kijang atau menjangan (adigang). Kijang menganggap bahwa tanduknya adalah benda yang paling elok di dunia. Namun ia mati juga karena tanduknya itu. Entah karena diburu, entah karena tanduknya tersangkut belukar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku adigung dicontohkan oleh binatang gajah yang tubuhnya demikian besar dan kuat. Ia merasa bahwa segalanya bisa diatasi dengan kekuatannya. Namun ia mati karena bobot tubuhnya itu karena ketika terperosok ke dalam lubang ia tidak bisa mengangkat tubuhnya keluar (saking beratnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku adiguna dicontohkan dengan perilaku ular yang berbisa. Ia menyombongkan bisanya yang hebat, namun mati di tangan anak gembala hanya dengan satu sabetan ranting kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku adiwicara dicontohkan dalam perilaku burung yang merdu dan lihai berkicau. Ia merasa bahwa kicauannya tidak ada tandingannya di seluruh hutan, namun ia mati oleh karena melalui kicauannya itu pemburu menjadi tahu tempat bersembunyi atau tempat bertenggernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADOH TANPA WANGENAN CEDHAK DATAN SENGGOLAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa tersebut secara harfiah berarti jauh tanpa ukuran dekat tidak senggolan. Pepatah ini dalam masyarakat Jawa biasanya digunakan untuk menggambarkan keberadaan kekasih atau Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tengah dilanda cinta biasanya akan merasa kangen terus dengan orang yang dijatuhcintainya. Jika kekasih tersebut tidak berada di sisinya, memang terasa begitu jauh keberadaannya. Namun di balik itu sesungguhnya sang kekasih juga sangat dekat dengan dirinya, yakni berada di dalam hatinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kekasih itu berada jauh namun sesungguhnya jua sangat dekat. Sekalipun kedekatan (di hati) itu menyebabkannya tidak bisa bersentuhan atau bersenggolan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga sering digunakan untuk menggambarkan keberadaan Tuhan bagi manusia. Kadang orang merasa bahwa Tuhan demikian jauh, seolah-olah berada di atas langit lais ke tujuh yang jaraknya tidak dapat diukur. Namun sesungguhnya Tuhan juga begitu dekat terasa di hati masing-masing orang. Sekalipun begitu manusia tidak bisa memegangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SADUMUK BATHUK SANYARI BUMI DITOHI PATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti satu sentuhan dahi, satu jari (lebar)-nya bumi bertaruh kematian. Secara luas pepatah tersebut berarti satu sentuhan pada dahi dan satu pengurangan ukuran atas tanah (bumi) selebar jari saja bisa dibayar, dibela dengan nyawa (pati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah di atas sebenarnya secara tersirat ingin menegaskan bahwa tanah dan kehormatan atau harga diri bagi orang Jawa merupakan sesuatu yang sangat penting. Bahkan orang pun sanggup membela semuanya itu dengan taruhan nyawanya. Sentuhan di dahi oleh orang lain bagi orang Jawa dapat dianggap sebagai penghinaan. Demikian pula penyerobotan atas kepemilikan tanah walapun luasnya hanya selebar satu jari tangan. Sadumuk bathuk juga dapat diartikan sebagai wanita/pria yang telah syah mempunyai pasangan hidup pantang dicolek atau disentuh oleh orang lain. Bukan masalah rugi secara fisik, tetapi itu semua adalah lambang kehormatan atau harga diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, keduanya itu tidak dipandang sebagai sesuatu yang lahiriah atau tampak mata semata, tetapi lebih dalam maknanya dari itu. Keduanya itu identik dengan harga diri atau kehormatan. Jika keduanya itu dilanggar boleh jadi mereka akan mempertaruhkannya dengan nyawa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NABOK NYILIH TANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah di atas secara harfiah berarti memukul meminjam tangan. Secara luas pepatah ini berarti memukul dengan meminjam tangan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah ini ingin menunjukkan bahwa dalam kehidupan sosial sering ada orang yang bertindak tidak ksatria. Artinya, ketika dia ingin menjatuhkan, menyakiti, menyingkirkan, membunuh, dan melenyapkan orang lain ia tidak bertindak sendiri. Tidak menghadapinya sendiri. Namun dengan menggunakan (meminjam) tangan orang lain sehingga seolah-olah dirinya adalah orang yang bersih, baik, dan suci. Seringkali perkara demikian dibuat sedemikian rupa sehingga orang yang meminjam tangan itu sepertinya tidak terkait dengan persoalan yang tengah terjadi, yang menimpa orang yang kena “pukul” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang yang “dituju” dengan meminjam tangan orang lain itu berhasil disingkirkan, maka ia pun akan merasa lega. Puas. Konyolnya pula ia akan tetap merasa sebagai Mr. Clean, sekalipun segala persoalan dan kolusi jahat itu bersumber dari orang yang Bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AJINING RAGA DUMUNUNG ANA ING BUSANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara harfiah pepatah tersebut di atas berarti harga diri dari fisik (tubuh) terletak pada pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah ini ingin menyatakan bahwa jika seseorang berbusana dengan sembarangan di sembarang tempat, maka ketubuhan (dan jati dirinya) tidak akan dihargai oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu contoh misalnya, kita mengenakan pakaian renang kemudian menemui tamu yang berkunjung ke kita atau sebaliknya. Dapat dibayangkan bagaimana respon atau tanggapan orang lain terhadap kita. Sungguhpun pakaian renang yang kita kenakan berharga jutaan rupiah misalnya, orang tetap tidak akan menghargai kita karena apa yang kita kenakan tidak tepat penempatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga diambil contoh kita datang ke sebuah pelayatan, namun kita datang ke sana dengan mengenakan pakaian pesta yang dilengkapi dengan perhiasan. Orang pun bisa menanggapi kita sebagai orang yang tidak bisa menempatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya pepatah di atas ingin menegaskan kepada kita agar kita mampu menghargai diri sendiri dengan berbusana yang pantas, tempat yang tepat, serta waktu yang sesuai. Dengan begitu kita tidak akan jadi bahan tertawaan, juga tidak akan mengganggu keselarasan hubungan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANCIK-ANCIK PUCUKING ERI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti bertumpu pada ujung duri. Secara lebih luas pepatah ini ingin menyatakan keadaan yang begitu gawat, kritis, dan nyaris tidak tertolong lagi. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan seseorang yang bertumpu pada ujung duri. Tentu saja sakit dan khawatir. Ibaratnya keberlangsungan hidupnya tinggal menunggu ajal belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti itu dapat juga dicontohkan dengan keadaan seseorang yang menerima sebuah surat pemberitahuan bahwa sebentar lagi rumahnya akan digusur. Entah dalam waktu dekat atau jauh, orang tersebut tentu sudah merasakan kekhawatirannya. Kekhawatiran dan ketiadaan harapan ini ibaratnya ancik-ancik pucuking eri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUNA SATAK BATHI SANAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti rugi satu tak (satu ukuran uang /segepok uang) untung saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah ini ingin mengajarkan bahwa sekalipun dalam dunia dagang yang pertimbangan utamanya hanyalah mencari untung dan untung, bagi orang Jawa kerugian sekian uang tidak mengapa asal (masih) bisa mendapatkan sedulur ‘saudara’ atau teman. Teman (dalam arti sesungguhnya) tampaknya memang menjadi pilihan yang lebih mempunyai makna daripada sekadar uang (material).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain pepatah ini juga mengajarkan bahwa sedulur (sanak) jauh lebih menguntungkan daripada seukuran uang dalam kesesaatan. Jika diulur, maka teman atau sedulur itu di kemudian hari dapat memberikan keuntungan yang jauh lebih besar daripada seukuran uang pada saat transaksi jual beli terjadi. Jika memang sedulur itu menyedulur ‘menyaudara’ dengan kita, dapat dipastikan bahwa ia (mereka) akan membantu kita jika kita mendapatkan kesulitan. Bantuan dari orang yang demikian itu tanpa kita sadari nilainya jauh lebih besar dibandingkan ketika kita mendapatkan uang satak pada saat kita melaksanakan transaksi jual beli di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya rasa menyedulur itu, orang yang bersangkutan tidak akan owel ‘sungkan/enggan’ memberikan bantuannya dalam bentuk apa pun yang sesungguhnya tidak bisa kita ukur dengan sekadar hanya uang atau material. Dalam kali lain, orang yang bersangkutan bisa jadi akan membeli produk atau dagangan yang kita jual tanpa perlu lagi menawar karena di masa lalu ia pernah mendapatkan kemurahan dari kita yang berupa satak (satu ukuran uang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah ini sesungguhnya menunjukkan betapa optimisnya orang Jawa dalam menyikapi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASU BELANG KALUNG WANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peribahasa atau pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti anjing belang berkalung uang.&lt;br /&gt;Secara lebih jauh pepatah ini inginmenggambarkan keadaan orang yang secara visual buruk atau secara social tidak mempunyai peringkat yang tinggi (tidak berpangkat atau berjabatan) namun ia memiliki kekayaan yang berlimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asu (anjing) dalam masyarakat Jawa termasuk binatang yang sering digunakan sebagai bahan misuh (memaki). Dengan demikian, ia memiliki derajat yang buruk sekalipun dalam praktek anjing memang banyak digunakan untuk membantu orang terutama dalam soal keamanan. Bukan hanya itu. Asu belang (anjing bercorak/berbulu belang) dalam masyarakat Jawa masa lalu termasuk kategori anjing yang bernilai paling rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pepatah di atas ingin menggambarkan orang yang di masyarakat tidak dianggap, namun ia memiliki uang (kekayaan) yang berlimpah sehingga pada akhirnya ia juga didatangi orang (karena yang datang menghendaki uangnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NGUNDHUH WOHING PAKARTI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peribahasa di atas secara harfiah berarti memanen buah pekerjaan/tindakan. Secara luas peribahasa ini ingin mengajarkan tentang orang yang menuai dari buah tindakannya sendiri. Hal ini dapat dicontohkan misalnya karena seseorang selalu mencelakai atau merugikan orang lain, maka pada suatu ketika ia pun akan diperlakukan demikian pula oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peribahasa ini sesungguhnya merupakan representasi dari paham kepercayaan akan hukum karma yang sampai sekarang masing dianut oleh banyak orang Jawa (Indonesia). Peribahasa tersebut menjadi penanda akan adanya keyakinan hukum harmonium alam raya. Hal ini bisa dicontohkan pula misalnya karena manusia menebangi hutan semaunya, maka bencana banjir, tanah longsor dan kekeringan pun mengancam. Dapat saja terjadi bahwa undhuh-undhuhan atau panen dari pakarti itu tidak mengenai orang yang berbuat namun mengenai saudara, anak, cucu, pasangan hidup, dan keturunannya. Oleh karena itu, bagi orang yang percaya pada paham ini mereka akan takut berbuat negatif karena mereka percaya bahwa hal yang negatif itu nantinya akan mengenai dirinya sendiri, saudara, dan keturunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NULUNG MENTHUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti menolong mementhung. Secara luas pepatah ini ingin menggambarkan tentang perilaku orang yang kelihatannya nulung (menolong), namun sesungguhnya ia mementung (memukul/mencelakai) orang yang ditolongnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti ini dapat dicontohkan misalnya ada orang yang kesulitan uang. Tiba-tiba datang orang yang menawarkan pinjaman uang. Tentu hal ini disambut dengan gembira. Akan tetapi selang beberapa saat kemudian orang yang dipinjami uang itu akan merasa kecewa karena ia harus mengembalikannya berikut bunganya yang mencekik. Alih-alih ditolong, dia malah justru dicelakakan. Dalam banyak kasus orang yang terlanjur meminjam uang itu terpaksa melepaskan rumah, tanah, dan seluruh harta bendanya karena tidak mampu mengembalikan pinjaman berikut bunganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat juga dicontohkan, ada orang yang kelihatannya getol menolong temannya dalam bekerja. Akan tetapi ketika pekerjaan itu berjalan lancar dan sukses dengan tiba-tiba orang yang menolong itu mengklaim bahwa itu semua adalah hasil kerjanya (peran temannya dihapuskan). Sehingga orang yang ditolong bekerja itu tidak pernah dianggap (dihargai) oleh atasan dan bahkan oleh teman yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini biasa terjadi juga dengan penyerobotan ide atau gagasan. Misalnya A memmpunyai ide. Lalu B berusaha membantu menyelenggarakan ide itu akan tetapi di tengah jalan ide itu diklaim B sebagai idenya belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ILANG-ILANGAN ENDHOG SIJI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa di atas berarti kehilangan satu telur. Pepatah Jawa ini secara luas ingin menyatakan tentang kepasrahan atau keputusasaan seseorang (biasanya orang tua) atas perilaku anaknya yang dianggap sudah di luar batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dapat dicontohkan misalnya dengan perilaku seorang anak yang demikian durhaka, jahat, brengsek, dan tidak bisa dinasihati lagi. Apa pun nasihat dan oleh siapa pun nasihat itu diberikan seolah memang sudah tidak mempan lagi. Menghadapi hal yang demikian ini biasanya orang tua akan menyerah atau putus asa. Harapan tentang hal-hal yang baik pada anaknya bisa pupus seketika. Dalam kondisi semacam ini orang tua bisa pasrah atau melepaskan harapannya atas anaknya. Dalam hal seperti ini orang tua bisa merasa ikhlas atau melupakan anaknya yang sudah bisa ditolong lagi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan orang tua akan ditambatkan pada anak-anaknya yang lain. Ibarat induk mengerami telur dalam jumlah lebih dari satu, sebuah telur telah direlakannya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAPAKAKE ANAK PUTU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa di atas secar harfiah berarti bertapa untuk anak cucu. Napakake berasal dari kata tapa atau bertapa. Napakake berarti bertapa untuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara luas pepatah ini mengajarkan atau memberikan nasihat agar orang hidup di dunia ini tidak hanya mengejar kepuasan, kepopuleran, dan kesejahteraan dirinya sendiri. Ia harus ingat bahwa ia akan mempunyai keturunan. Keturunan inilah yang perlu dibantu agar hidupnya kelak lancar, sejahtera, dan bahagia. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan bertapa (laku prihatin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertapa dapat disamakan dengan tekun berdoa kepada Tuhan, memohon keridhaanNya agar Tuhan bersedia melimpahkan rahamtNya kepada keturunan yang didoakannya itu. Kecuali berdoa, bertapa juga selalu diikuti dengan pengekangan hawa nafsu, memperbanyak amal kebaikan dengan tanpa pamrih. Semuanya dilakukan dengan keikhlasan hati yang tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan jika di lingkungan masyarakat Jawa masa lalu sekalipun ada banyak keluarga hidup dalam kemiskinan mereka tetap menjalaninya dengan tabah dan ikhlas. Mereka menganggap bahwa hal semacam itu merupakan bagian dari perjalanan hidup yang mesti dijalani sekalian sebagai latihan bertapa demi anak cucunya kelak. Tidak mengherankan juga di masa lalu sangat jarang ada orang mengemis dan bertindak kriminal sekalipun masyarakatnya hidup serba kekurangan. Mereka menjalani hidup dengan keikhlasan, apa pun kesulitan yang mereka hadapi. Mereka menyikapi semuanya itu sebagai ganjaran (hadiah) belaka dari Tuhan. Bukan cobaan, tetapi hadiah. Mereka menganggap hal itu sebagai hadiah karena di balik ketidaknimatan hidup itu mereka percaya bahwa mereka sedang diajak untuk memperkaya hati, memperkuat batin, dan lebih dekat kepada Sang Khalik. Itu adalah ganjaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pepatah semacam di atas masih menjadi pegangan bagi laku hidup mereka di kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAYA NGENTENI THUKULE JAMUR ING MANGSA KETIGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti seperti menunggui tumbuhnya jamur di musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara luas pepatah tersebut ingin menunjukkan sebuah aktivitas (mengharap sesuatu) yang sia-sia. Jamur identik dengan kelembaban. Kelembaban tidak berkait erat dengan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sudah bisa mengidentifikasi/memperkirakan bahwa jika musim hujan tiba, maka akan ada banyak jamur bertumbuhan di sembarang tempat. Akan tetapi jika musim kemarau tiba, jamur hampir tidak mungkin didapatkan di mana pun. Berdasarkan ilmu titen inilah kemudian muncul pepatah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sangat tidak mungkin mengharapkan tumbuhnya jamur di musim kemarau. Jika kita mempunyai pengharapan yang dinanti namun tidak pernah terwujud itu ibaratnya menunggui tumbuhnya jamur di musim kemarau. Bisa juga pepatah ini digunakan untuk aktivitas menunggu yang amat lama sehingga seperti menunggui sesuatu yang tidak jelas atau tidak berjuntrung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WIT GEDHANG AWOH PAKEL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa di atas secara harfiah diartikan ‘pohon pisang berbuah pakel’ (sejenis mangga yang sangat harum aromanya jika matang namun agak asam rasanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan nyata jelaslah amat mustahil terjadi ada pohon pisang yang berbuah pakel. Dari sisi jenis pohon, marga, kelas, dan ordonya saja sudah amat jauh berbeda. Demikian juga sifat-sifat yang dibawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah ini dalam masyarakat Jawa digunakan untuk menggambarkan betapa mudahnya berbicara atau ngomong. Namun begitu sulitnya melaksanakan, mengerjakan, atau mewujudkannya. Pepatah itu dapat juga digunakan untuk menggambarkan betapa sebuah teori begitu mudah diomongkan atau dituliskan namun tidak mudah untuk dipraktekkan. Begitu mudah nasihat, petuah, pepatah, bahkan kotbah diucapkan, namun untuk pelaksanaannya sungguh tidak mudah. Dibutuhkan perjuangan keras untuk mengendalikan semua pancaindra dalam diri manusia untuk dapat mengarah ke pelaksanaan yang dipandang baik dan benar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat dalam pepatah tersebut dalam masyarakat Jawa sering kemudian disambung dengan anak kalimat yang berbunyi, omong gampang nglakoni angel ‘omong mudah melaksanakan sulit’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAYA NGENTENI KEREME PRAU GABUS, KUMAMBANGE WATU ITEM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti seperti menantikan tenggelamnya perahu gabus, mengapungnya batu hitam (batu kali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu yang terbuat dari bahan gabus (semacam stereofoam) tentu sangat muskil untuk tenggelam. Demikian pun batu kali (batu andesit) sangak muskil untuk muncul ke permukaan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lebih luas pepatah ini ingin menyatakan akan sebuah usaha yang sia-sia. Usaha yang tingkat keberhasilannya adalah nol persen. Mungkin saja pepatah ini sama artinya dengan pepatah Ibarat menunggu Godod yang sebenarnya diadopsi dari lakon drama karya Samuel Beckett. Drama ini juga menggambarkan akan sebuah penantian yang sia-sia. Penantian pada sesuatu yang tidak akan datang atau terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mengharapkan pada sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi, maka apa yang kita lakukan ini sama dengan ngenteni kereme prau gabus, kumambange watu item.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani&lt;br /&gt;Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti di depan memberi teladan, di tengah membangun kehendak/karya, mengikuti dari belakang memberikan daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah ini telah menjadi pepatah atau semboyan yang digunakan di dunia pendidikan Indonesia. Maksudnya, tentu sangat mulia agar murid atau siswa-siswa Indonesia bisa berpedoman pada semboyan yang dipopulerkan oleh Ki Hadjar Dewantara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari kalimat pertama dari pepatah ini yakni di depan (maksudnya sebagai pemimpin) hendaknya seseorang dapat memberikan teladan atau contoh. Jika seorang pemimpin tidak dapat memberikan keteladanan baik dalam sikap profesionalnya, maupun dalam sikap hidup secara keseluruhannya. Memang manusia tidaklah pernah akan sempurna. Akan tetapi seorang pimpinan hendaknya selalu berusaha menjaga dirinya agar ia benar-benar dapat menjadi teladan bagi bawahan, anak asuh, ataupun anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat membayangkan sendiri jika seoang pemimpin dalam profesi maupun tindakannya tidak dapat diteladani, maka sikap atau perilaku anak buahnya pun dapat dipastikan akan lebih buruk daripadanya. Hal ini juga dapat dilihat dalam sebuah sekolah jika guru-gurunya bertindak kurang baik, maka murid-muridnya pun tentu akan bertindak lebih buruk dari gurunya itu. Tidak adanya keteladanan dari pimpinan menyebabkan anak buah akan kehilangan kepercayaan, hormat, dan segala respeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang pimpinan berada di tengah-tengah anak buahnya hendaknya ia bisa membangkitkan kegairahan agar anak buah atau anak asuhnya bisa bersemangat untuk berkarya atau bekerja. Di tengah anak buahnya ia hendaknya juga bisa menjadi teman, sahabat, atau partner yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang pimpinan berada di belakang anak buahnya hendaknya ia bisa mendorong, memotivasi, bahkan juga mencurahkan segala dayanya sehingga anak buahnya bisa benar-benar memiliki daya untuk berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUTUK MARANI SUNDUK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti kutuk (jenis ikan air tawar yang relatif besar) mendekati sunduk (penusuk/suji). Secara luas pepatah ini ingin menyatakan tentang kejadian atau peristiwa dari seseorang atau sekelompok orang yang mendatangi atau mendekati bahaya atau hal yang dapat membuatnya celaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunduk atau penusuk adalah pantangan bagi kutuk sebab pada penusuk itulah nyawa kutuk pasti terancam. Hal demikian dapat juga terjadi pada manusia atau orang. Misalnya, ada orang yang tidak bisa berenang, dengan tiba-tiba ia masuk ke dalam sebuah sungai yang dalam, maka tenggelam dan tewaslah orang itu. Dapat juga dilihat contoh lain misalnya, ada orang mendatangi arena peperangan atau pertikaian. Tanpa diketahui orang tersebut terkena peluru nyasar atau lemparan batu. Hal demikian dapat diibaratkan sebagai kutuk marani sunduk. Tegasnya, orang yang mendatangi marabahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENANG MENENG NGGEMBOL KRENENG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti diam-diam mengantongi kreneng. Kreneng dalam khasanah Jawa menunjuk pada pengertian sebuah benda menyerupai keranjang yang terbuat dari bilah bamboo yang diraut tipis dan lentur. Kreneng ini berfungsi untuk membungkus atau mewadahi barang-barang belanjaan yang dibawa oleh seseorang. Umumnya kreneng berfungsi sebagai kantong atau tas sementara yang kemudian bisa dibuang begitu saja setelah barang yang berada di dalamnya dikeluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah Jawa di atas secara luas ingin menggambarkan perilaku seseorang yang di permukaan (fisik, lahiriah) kelihatan pendiam, tidak banyak omong akan tetapi di pikiran dan di hatinya sebenarnya dia tengah mempersiapkan atau menyimpan sesuatu (yang umumnya tidak baik). Entah itu berupa rencana-rencana atau tujuan-tujuan yang tidak mulia. Entah itu rekayasa manipulasi, kebohongan, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIJUPUK IWAKE AJA NGANTI BUTHEG BANYUNE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah di atas secara harfiah berarti diambil ikannya jangan sampai keruh airnya.&lt;br /&gt;Pepatah ini mengandaikan pada sebuah peristiwa perburuan ikan di kolam atau di sebuah sungai. Pada umumnya pengambilan ikan di kolam atau sungai selalu menimbulkan kekeruhan pada air tempat ikan tersebut diambil. Hal ini terjadi karena gerakan tubuh manusia, benda lain, atau bahkan gerakan ikan itu sendiri di dalam air tersebut sehingga mengubak atau mengaduk air kolam/ sungai. Idealnya adalah ikan yang diincar bisa diambil namun air yang melingkupinya jangan sampai menjadi keruh atau butek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah ini secara luas menyangkutkan persoalannya pada pengambilan kebijaksanaan atau penyelesaian masalah yang diidealkan jangan sampai menimbulkan korban atau masalah baru. Hal ini dapat dicontohkan misalnya pada kasus pencurian yang dilakukan oleh seseorang di sebuah dusun. Kebetulan ketua dusunnya mengetahui siapa pelaku pencurian itu. Agar masyarakat jangan sampai gaduh dan ribut-ribut nggak karuan, ketua dusun segera datang dan menangkap pencuri tersebut lalu pencuri tersebut disuruh untuk mengembalikan barang-barang yang dicurinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah barang yang dicuri dikembalikan, orang yang kehilangan pun lega. Pencurinya tidak digebuki massa. Ketua dusunnya akan semakin naik pamornya karena jeli dan terampil menangani persoalan. Masyarakatnya tetap tenang. Persoalan yang melanda dusun bisa diselesaikan tanpa ribut, tanpa korban, tanpa kegaduhan. Minim resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—————————————————–&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Alang Alang Kumitir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-3860535447288582994?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/3860535447288582994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=3860535447288582994&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/3860535447288582994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/3860535447288582994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/10/piwulang-jawa.html' title='PIWULANG JAWA'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-6413513987209012747</id><published>2009-10-05T00:25:00.000-07:00</published><updated>2009-10-05T00:29:52.753-07:00</updated><title type='text'>TAN SAMAR PAMORING SUKMA</title><content type='html'>Tan samar pamoring sukma, sinuksma ya winahya ing ngasepi, sinimpen tetelenging kalbu, pembukane warana, tarlen saking liyep layaping ngaluyut, pindha pesating supena, sumusuping rasa jati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya,karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;03&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;04&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati,cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia dan uang yang cukup untuk membeli hadiah-hadiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acapkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;06&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;07&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hati orang itu pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cinta menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang, tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika dan masih tetap peduli padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya dan kamu harus melepaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah ciuman dan berakhir dengan tetesan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati,kepada mereka yang masih mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi yang lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakan cintamu kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa depan yang cerah selalu tergantung kepada masa lalu yang dilupakan,kamu tidak dapat hidup terus dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba,jangan pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu! Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian janganlah menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang disekelilingmu tersenyum jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang disekelilingmu menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direvew : Pak dhe Ragil Sudjono&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-6413513987209012747?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/6413513987209012747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=6413513987209012747&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/6413513987209012747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/6413513987209012747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/10/tan-samar-pamoringsukma.html' title='TAN SAMAR PAMORING SUKMA'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-3158903767735516085</id><published>2009-10-01T01:28:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T03:28:38.754-07:00</updated><title type='text'>Surat Buat Bulik Ning</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/StMEwxRfCsI/AAAAAAAAABg/towTlB33z5o/s1600-h/Bu+Ragil+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://4.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/StMEwxRfCsI/AAAAAAAAABg/towTlB33z5o/s320/Bu+Ragil+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391658414799522498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Met Jumpa Lagi BuLik.&lt;br /&gt;Keselamatan untuk siapa saja.&lt;br /&gt;Jika saya ketemu buLik, rasanya banyak sekali yang ingin saya ceritakan kepada bulik. karena hanya BuLik satu-satunya yang saya percara mendengarkan ceritaku ini. Namun sayapun bisa memahami bahwa buLik Ning repot dan sangat repot. Hampir tak ada waktu untuk menerima ceritaku ini. Pada kesempatan inilah saya mencoba menuangkan dalam surat ini. . . . . . . . . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dada ini penuh dengan rasa&lt;br /&gt;hawa pun mengusik raga&lt;br /&gt;dimana ada suaramu disitu ingin telingaku menyatu&lt;br /&gt;dimana ada wujudmu disitu aku ingin menaruh mataku&lt;br /&gt;kesadaranku lemah terkadang marah; &lt;br /&gt;menghujat, mencela, hal yang biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;panas...... panas ........panas&lt;br /&gt;api itu berkobar membesar&lt;br /&gt;kubiarkan panas itu membakarku&lt;br /&gt;sesekali tubuhku berontak&lt;br /&gt;sampai diujung kelelahan &lt;br /&gt;aku biarkan .......... ya aku biarkan&lt;br /&gt;kesadaranku tak lagi penuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan pergi dulu BuLik Ning&lt;br /&gt;karena ceritaku belum usai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku sabar menunggu sampai BuLik selesai&lt;br /&gt;mendengarkan ceritaku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-3158903767735516085?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/3158903767735516085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=3158903767735516085&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/3158903767735516085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/3158903767735516085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/10/surat-buat-bulik-ning.html' title='Surat Buat Bulik Ning'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/StMEwxRfCsI/AAAAAAAAABg/towTlB33z5o/s72-c/Bu+Ragil+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-626794357960901424</id><published>2009-10-01T01:20:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T01:26:45.670-07:00</updated><title type='text'>BAWANA AGENG LAN BAWANA ALIT</title><content type='html'>Ditulis dalam BAWANA AGENG DAN BAWANA ALIT &lt;br /&gt;pada 1:36 pm oleh Mas Kumitir/ragil sudjono/Rahmat Giling/Gilang Geni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak manusia hidup secara sederhana, belum mengenakan pakaian dan tempat tinggalnya berpindah-pindah. Mereka mempunyai keyakinan bahwa ada kekuatan besar di luar kekuatan manusia.kekuatan besar diluar dirinya itu itu yang menguasai segalanya. Kalau dapat membujuk dan menyanjungnya, meraka yakin kekuatan besar itu akan baik pula. Mulailah manusia memuja dan meyembah segala sesuatu yang berbentuk besar dan dhsyat seperti kayu, batu, air terjun, lubuk, bulan, matahari, juga hewan, gunung, sungai dan samudra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan meyembah kekuatan yang dahsyat itu dinamakan dinamisme, kemudian lebih maju lagi kepercayaan menyembah roh penguasa disebut Animisme, atau roh nenek moyang mereka atau leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan Dinamisme dan Animisme itu terus berkembang hingga masuknya agama Hindu, Budha, Islam maupun Nasrani, tetapi budaya menyembah kekuatan Alam dan Roh leluhur itu masih membekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa ternyata manusia itu merupakan perwujudan kecil dari duania. Miniatur Alam Semesta adalah manusiaini, karena sesungguhnya dalam diri manusia itu terdapat apa yang juga terdapat di dunia ini, ada gunung, pohon besar, sungai dan samudra. Maka disebutlah Bawana Alit, sedangkan alam semesta disebut Bawana Ageng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bawana Alit selalu berhubungan dengan Bawana Ageng, kalau terputus hubungannya maka mati maka hubugan itu diwujudkan dalam pernapasan, Bawana Alit membutuhkan hawa untuk menghidupkan nyawa sebab nyawa tanpa hawa akan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuh Gambuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jembaring samudragung,&lt;br /&gt;Tanpa tepi anglangut kadalu,&lt;br /&gt;Suprandene makasih gung manungsa iki,&lt;br /&gt;Alas jurang kali gunung,&lt;br /&gt;Neng raganira wus katon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luasnya samudra raya,&lt;br /&gt;Tiada bertepi dan sejauh mata memandang,&lt;br /&gt;Tetapi masih besar adanya manusia ini,&lt;br /&gt;Hutan jurang sungai gunung,&lt;br /&gt;Di dalam diri manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipetik dari Serat Cipto Waskitho)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa manusia digambarkan lebih besar dari jagad raya ini? Karena apa yang terlihat besar dan menakutkan itu sebenarnya dapat masuk kedalam diri manusia. Sehingga Pakubuwono IV menegaskan dalam baris tembang berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tana prabedanipun,&lt;br /&gt;Jagad katon lan jagadireku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Tiada berbeda,&lt;br /&gt;Dunia yang terlihat dan dunia dalam dirimu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipetik dari Serat Cipto Waskitho)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada bagian yang disekarkan (disyairkan) Gambuh, artinya dijumbuhkan atau dirujukan dalam tembang itu tentang dunia nyata dan dunia batin, sebagai suatu upaya untuk mendekatkan manusia kepada kenyataan untuk berpikir tentang hidup dan rasa yang paling dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan membuat rujukan-rujukan itu, agar manusia faham benar akan dirinya. Faham akan makna hidupnya, agar tidak menyia-nyiakan hidupnya untuk perbuatan yang bukan-bukan, jangan sampai membuat kesalahan dan menghancurkan lingkungan. Karena apa yang terlihat secara nyata sebagai lingkungan hidup terlihat pula dalam batiniah pada dirinya sendiri. Rusaknya lingkungan hidup maka rusak pula dalam dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuh Gambuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yen sira durung surup,&lt;br /&gt;Tegese jagad cilik lan agung,&lt;br /&gt;Jagad cilik jenenge manungsa iki,&lt;br /&gt;Iya batinira iku,&lt;br /&gt;Yen jagad gedhe Hyang Manon,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Bila kau belum mengetahui,&lt;br /&gt;Arti bawana alit dan bawana ageng&lt;br /&gt;Bawana alit namanya manusia ini,&lt;br /&gt;Adalah batinmu,&lt;br /&gt;Dan bawana ageng adalah Hyang Manon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipetik dari Serat Cipto Waskitho)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam baris tembang yang berbentuk Gambuh ini terlihat jelas dan lebih tegas diutarakan tentang arti bawana alit dan ageng, maka jelas pula langkah-langkah yang harus kita bawa untuk menelusuri samudra kehidupan ini. Apa yang harus kita lakukan untuk mencapai ”Cipta Waskita” yang artinya kewaspadaan batin yang dapat mengetahui apapun yang bakal terjadi. Mengetahui benar dan salah, kharam dan batal serta mengetahui arti hukum dalam kehidupan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita siap mendalami ilmu mystik terapan maka kesadaran pribadi telah tergugah, sampai memahami arti bawana alit dan bawana agung, maka terasalah sesuatu yang bergejolak dalam batin kita. Suatu keharusan yang mendalam di dalam hati, hingga tergerakkan getaran-getaran rasa dari segala penjuru yang menggetarkan iman kita, tiada rasa maka berlinanglah air mata haru. Tergambarkan semua perbuatan yang pernah di lakukan, semua kejahatan dan nista yang diperbuat. ”Mengapa dahulu aku tidak mengetahuimya, kalu kebaikan ada dalam diriku sendiri?” begitulah batin kita akan bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu karena ulah si tukang mengadu domba yang menghalang-halangi semuanya itu. Maka setelah semuanya telah disingkirkan, terlihatlah semuanya dengan jelas. Itulah yang dinamakan ”kalau Hyang Manon telah membukanya, semua akan menjadi jelas”. Becik ketitik ala ketoro artinya yang baik akan terlihat adapun yang jelek akan terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alang alang kumitir/Ragil Sudjono/Rahmat Giling/Gilang Geni.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-626794357960901424?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/626794357960901424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=626794357960901424&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/626794357960901424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/626794357960901424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/10/bawana-ageng-lan-bawana-alit.html' title='BAWANA AGENG LAN BAWANA ALIT'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-5647351448568514510</id><published>2009-09-28T23:16:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T21:00:24.850-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><title type='text'>Hari Raya dan Cinta</title><content type='html'>Jika benar dan salah tak lagi serakah&lt;br /&gt;khilaf dan maaf tak lagi berebut tempat&lt;br /&gt;hina dan mulia tak menempati dada&lt;br /&gt;bertetangga terasa ada makna&lt;br /&gt;ada dan tiada tak lagi berbeda&lt;br /&gt;diam atau bicara bisa sama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta utama kepada sang pencipta&lt;br /&gt;cintamu kepada agama&lt;br /&gt;cinta untuk nabi dan ulama&lt;br /&gt;cinta kepada orang tua&lt;br /&gt;cinta juga untuk keluarga&lt;br /&gt;cinta samapai kepada saudara&lt;br /&gt;cintamu untuk siapa saja&lt;br /&gt;cintamu untuk apa saja&lt;br /&gt;cintamu untuk semuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;......................ragil sudjono.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-5647351448568514510?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/5647351448568514510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=5647351448568514510&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/5647351448568514510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/5647351448568514510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/09/cinta-dan-hari-raya.html' title='Hari Raya dan Cinta'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-6685028787726335285</id><published>2009-06-30T03:26:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T03:27:04.838-07:00</updated><title type='text'>SERAT (MANTRA-WEDHA, SUKMA-WEDA, DARMA-WEDA, JAPA-WEDA, JIWA-WEDA)</title><content type='html'>Mantra-Wedha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)&lt;br /&gt;Ono kidung rumekso ing wengi,&lt;br /&gt;Teguh ayu luputo ing loro,&lt;br /&gt;Luputo ing bilai kabeh,&lt;br /&gt;jim setan datan purun,&lt;br /&gt;paneluhan tan ono wani,&lt;br /&gt;miwah panggawe olo,&lt;br /&gt;gunaning wong luput,&lt;br /&gt;geni atemahan tirto,&lt;br /&gt;maling adoh tan keno ing mami,&lt;br /&gt;tuju guno tan sirno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;Sakebehing loro tan soyo bali,&lt;br /&gt;Kahehing omo tan sami soyo mirudo,&lt;br /&gt;Welas asih pandulune,&lt;br /&gt;Sakehing brojo luput,&lt;br /&gt;Kadi kapuk katibaning wesi,&lt;br /&gt;Sakehing wiso towo,&lt;br /&gt;Sato galak tutut,&lt;br /&gt;Kayu aeng lemah sangar,&lt;br /&gt;Songing landak guwaning lemah miring,&lt;br /&gt;Myang pakiponing merak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)&lt;br /&gt;Pagupakaning warak sakalir,&lt;br /&gt;Nadyan arco myang sagoro asat,&lt;br /&gt;Temahan rahayu kabeh,&lt;br /&gt;Dadya sariro ayu,&lt;br /&gt;Ingideran pro widodari,&lt;br /&gt;Rinekso pro malaikat,&lt;br /&gt;Sakatahing rosul,&lt;br /&gt;Tan dadi sariro tunggal&lt;br /&gt;Ati adam utek ku bagindo eisis,&lt;br /&gt;Pangucapku ya Musa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4)&lt;br /&gt;Napasku nabi Ngisa linuwih&lt;br /&gt;Nabi Yakup pamiryarsa ningwang&lt;br /&gt;Yusup ing rupaku mangke,&lt;br /&gt;Nabi Dawud suwaraku&lt;br /&gt;nJeng Suleman kasekten mami&lt;br /&gt;Nabi Ibrahim nyawa,&lt;br /&gt;Edris ing rambutku&lt;br /&gt;Baginda Ngali kuliting wang&lt;br /&gt;Getih daging Abu Bakar Ngumar singgih,&lt;br /&gt;Balung baginda ngusman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5)&lt;br /&gt;Sumsumingsun Patimah linuwih,&lt;br /&gt;Siti aminah bayuning angga,&lt;br /&gt;Ayup ing ususku mangke&lt;br /&gt;Nabi Nuh ing jejantung&lt;br /&gt;Nabi Yunus ing otot mami&lt;br /&gt;Netraku ya Muhamad&lt;br /&gt;Pamuluku Rasul&lt;br /&gt;Pinayungan Adam Kawa&lt;br /&gt;Sampun pepak sakathahe para nabi&lt;br /&gt;Dadya sarira tunggal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6)&lt;br /&gt;Sawiji wiji mulane dadi,&lt;br /&gt;Apencar mulaning jagad,&lt;br /&gt;Kasamaran dining dzat e,&lt;br /&gt;Kang maca kang ngerungu,&lt;br /&gt;Kang anurat kang ngimpeni,&lt;br /&gt;Dadi ayuning badan,&lt;br /&gt;Kinaryo sesembur,&lt;br /&gt;Yen winacakno ning toya&lt;br /&gt;Kinarya dus rara tuwo gelis laki,&lt;br /&gt;Wong edan nuli waras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7)&lt;br /&gt;Lamun ono wong kadendo kaki,&lt;br /&gt;Wong kabanda kabotan utang,&lt;br /&gt;Yogya wacanen den age&lt;br /&gt;Naliko tengah dalu,&lt;br /&gt;Ping sewelas wacanen singgih,&lt;br /&gt;Luwar ingkang kabanda,&lt;br /&gt;Kang kadendo wurung,&lt;br /&gt;Agelis nuli sinauran,&lt;br /&gt;Mring hyang sukma ingkang utang iku singgih,&lt;br /&gt;Kang agering nuli waras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(8)&lt;br /&gt;Lamun arso tulus nandur pari,&lt;br /&gt;Puasa o sawengi sadino,&lt;br /&gt;Iderono galengane,&lt;br /&gt;Wacanen kidung iku,&lt;br /&gt;Sakabeh e ngama sami bali,&lt;br /&gt;Yen siro lungo perang,&lt;br /&gt;Wateken ing sengkul,&lt;br /&gt;Antuka tigang pulukan,&lt;br /&gt;Musuh siro rep sirep tan ono wani,&lt;br /&gt;Rahayu ing payudyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(9)&lt;br /&gt;Sopo sing reke biso nglakoni,&lt;br /&gt;Amutih lawan anawa,&lt;br /&gt;Patang puluh dino bae,&lt;br /&gt;Lan tangi waktu subuh,&lt;br /&gt;Lan den sabar sukuring ati,&lt;br /&gt;Isya Allah katekan,&lt;br /&gt;Tumrap sanak rajatira,&lt;br /&gt;Saking sawabing ilmu pangiket amami,&lt;br /&gt;Duk aneng Kali Jaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suksma–Wedha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(10)&lt;br /&gt;Ana kidung reke angartati,&lt;br /&gt;Sapa eruh reke aran ingwang,&lt;br /&gt;Duk ingsung ono ing ngare,&lt;br /&gt;Miwah duk aneng gunung,&lt;br /&gt;Ki samurta lan Ki samurti,&lt;br /&gt;Ngalih aran ping tiga,&lt;br /&gt;Arta daya tengsung,&lt;br /&gt;Arang ingsung duk jejaka,&lt;br /&gt;Ki artati aran ingsung ngalih,&lt;br /&gt;Sapa weruh aran ingwang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(11)&lt;br /&gt;Sapa weruh tembang tepus kaki,&lt;br /&gt;Sasat weruh reke arta daya,&lt;br /&gt;Tunggal pancer sauripe,&lt;br /&gt;Sapa weruh ing panuju,&lt;br /&gt;Sasat sugih pagere wesi,&lt;br /&gt;Rinekso wong sajagat,&lt;br /&gt;Kang angidung iku,&lt;br /&gt;Lamun dipun apalane,&lt;br /&gt;Kidung iku den tutug pada sawengi,&lt;br /&gt;Adoh panggawe ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(12)&lt;br /&gt;Lawan rineksa marang Hyang Widhi,&lt;br /&gt;Sakarsane tineko dening Hyang,&lt;br /&gt;Rineksa ing jalma kabeh,&lt;br /&gt;Kang amaca kang angerungu,&lt;br /&gt;Kang anurat myang kang nimpeni,&lt;br /&gt;Yen ora bisa maca,&lt;br /&gt;Simpenono iku,&lt;br /&gt;Temah ayu kang sariro,&lt;br /&gt;Yen linakon dinulur sanendyan neki,&lt;br /&gt;Lan rinekso dening Hyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(13)&lt;br /&gt;Kang sinedya tinekan Hyang Widhi,&lt;br /&gt;Kang kinarsung dumadakan kena,&lt;br /&gt;Tur sinisiyan pangeran,&lt;br /&gt;Nadyan tan weruh niku,&lt;br /&gt;Lamun nedya muja semedhi,&lt;br /&gt;Sasaji ing sagara,&lt;br /&gt;Dadya ngumbareku,&lt;br /&gt;Dumadi sariro tunggal,&lt;br /&gt;Tunggal jati swara awor ing Artati,&lt;br /&gt;Aran sekar jempina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(14)&lt;br /&gt;Somahira ingarang penjari,&lt;br /&gt;Milu urip lawan milu pejah,&lt;br /&gt;Tan pisah ing saparane,&lt;br /&gt;Pari purna satuhu,&lt;br /&gt;Anirmala waluya jati,&lt;br /&gt;Keno ing kene kana,&lt;br /&gt;Ing wasesanipun,&lt;br /&gt;Ajejuluk Adhi suksma,&lt;br /&gt;Cahya jumeneng aneng artati,&lt;br /&gt;Anom tan keno tuwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(15)&lt;br /&gt;Panunggale kawula lan Gusti,&lt;br /&gt;Nila ening arane duk gesang,&lt;br /&gt;Duk mati nila arane,&lt;br /&gt;Lan suksma ngubaraeku,&lt;br /&gt;Ing asmoro mung raga yekti,&lt;br /&gt;Durung darbe peparab,&lt;br /&gt;Duk rare iku,&lt;br /&gt;Awayang bisa dedolan&lt;br /&gt;Aran Sang Hyang Jati iya sang Artati,&lt;br /&gt;Yeku Sang Arta jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(16)&lt;br /&gt;Dadya wisa mangkya amartani,&lt;br /&gt;Lamun maria atemahan wisa,&lt;br /&gt;Marma Arta daya rane,&lt;br /&gt;Duk lagya aneng gunung,&lt;br /&gt;Ngalih aran Asmara jati,&lt;br /&gt;Wayah tumekeng tuwa,&lt;br /&gt;Emut ibunipun,&lt;br /&gt;Ni panjari lungo ngetan,&lt;br /&gt;Ki Artati nurut gigiring Merapi,&lt;br /&gt;Anulya mring Sundara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darma-Wedha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(17)&lt;br /&gt;Ana panditha akarya wangsit,&lt;br /&gt;Minda kombang angecap ing tawang,&lt;br /&gt;Susuhing angin endhi enggone,&lt;br /&gt;Lawan galihing kangkung,&lt;br /&gt;Wekasane langit jaladri,&lt;br /&gt;Isine wuluh wungwang,&lt;br /&gt;Lan gigiring punglu,&lt;br /&gt;Tapaking kuntul anglayang,&lt;br /&gt;Manuk miber uluke ngungkuli langit,&lt;br /&gt;Kusuma njrahing tawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(18)&lt;br /&gt;Ngabil banyu apikulan warih,&lt;br /&gt;Ametgeni sarwi adadamar,&lt;br /&gt;Kodok ngemuli elenge,&lt;br /&gt;Miwah kang banyu dikum,&lt;br /&gt;Myang dahana murub kabesmi,&lt;br /&gt;Bumi pinetak ingkang,&lt;br /&gt;Pawana katiyup,&lt;br /&gt;Tanggal pisan kapurnaman,&lt;br /&gt;Yen anenun sateg pisan anigasi,&lt;br /&gt;Kuda ngarap ing pandengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(19)&lt;br /&gt;Ana kayu apurwa sawiji,&lt;br /&gt;Wit buwana epang keblat papat,&lt;br /&gt;Agedong mega rumembe,&lt;br /&gt;Apradapa kukuwung,&lt;br /&gt;Kembang lintang salaga langit,&lt;br /&gt;Semi andaru kilat,&lt;br /&gt;Woh surya lan tengsu,&lt;br /&gt;Asiran bun lawan udan,&lt;br /&gt;Apupucuk akasa bungkah pratiwi,&lt;br /&gt;Oyode bayu bajra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(20)&lt;br /&gt;Wiwitane duk anemu candi,&lt;br /&gt;Gegedongan miwah wewerangkan,&lt;br /&gt;Sihing Hyang kabesmi kabeh,&lt;br /&gt;Tan hana janma kang wruh,&lt;br /&gt;Yen weruha purwane dadi,&lt;br /&gt;Candi sagara wetan&lt;br /&gt;Ingobar karuhun&lt;br /&gt;Kayangane Sang Hyang Tunggal,&lt;br /&gt;Sapa reke kang jumeneng mung Artati,&lt;br /&gt;Katon tengahing tawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(21)&lt;br /&gt;Gunung Agung sagara serandil,&lt;br /&gt;Langit ingkang amengku buwana,&lt;br /&gt;Kawruh ana ing artine,&lt;br /&gt;Gunung sagara amung,&lt;br /&gt;Guntur sirna amengku bumi,&lt;br /&gt;Ruk kang langit buwana,&lt;br /&gt;Dadya weruh iku,&lt;br /&gt;Mudya madyaning ngawiyat,&lt;br /&gt;Mangasrama ing gunung Agungsabumi&lt;br /&gt;Candi candi sagara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(22)&lt;br /&gt;Gunung luhure kagiri giri,&lt;br /&gt;Sagara agung datanpa sanma,&lt;br /&gt;Pan sampun kawruhan reke,&lt;br /&gt;Arta daya puniku,&lt;br /&gt;Datan keno cinangkreng budi,&lt;br /&gt;Anging kang sampun prapta,&lt;br /&gt;Ing kuwasanipun,&lt;br /&gt;Angadeg tengahing jagad,&lt;br /&gt;Wetan kulon lor kidul mandap myang inggil,&lt;br /&gt;Kapurba kawasesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(23)&lt;br /&gt;Bumi sagara gunung myang kali,&lt;br /&gt;Sagung inking sesining bawana,&lt;br /&gt;Kasor ing Arta dayane,&lt;br /&gt;Sagara sat kang gunung,&lt;br /&gt;Guntur sirna guwa samya nir,&lt;br /&gt;Sing aweruh Arta daya,&lt;br /&gt;Dadya teguh timbul,&lt;br /&gt;Lan dadi paliyasining prang,&lt;br /&gt;Yen lelungan kang kapapag wedi asih,&lt;br /&gt;Sato galak suminggah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(24)&lt;br /&gt;Jim peri parayangan pada wedi,&lt;br /&gt;Mendak asih sakehing dubriksa,&lt;br /&gt;Rumeksa siyang dalune,&lt;br /&gt;Sing anempuh lumpuh,&lt;br /&gt;Tan tumama ing awak mami,&lt;br /&gt;Kang nedya tan raharja,&lt;br /&gt;Kabeh pan linebur,&lt;br /&gt;Sakabehing nedya ala,&lt;br /&gt;Larut sirno kang nedya becik basuki,&lt;br /&gt;Kang sineoya waluya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(25)&lt;br /&gt;Siyang dalu rineksa ing widi&lt;br /&gt;Dinulur saking karseng Hyang Suksma&lt;br /&gt;Kaidep ing janma kabeh,&lt;br /&gt;Aran wikuning wiku&lt;br /&gt;Wikan liring muja semedi&lt;br /&gt;Dadi sasedyanira&lt;br /&gt;Mangunah linuhung,&lt;br /&gt;Peparab Hyang Tega Lana,&lt;br /&gt;Kang kasimpen yen tuwajuh jroning ati&lt;br /&gt;Kalising panca baya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(26)&lt;br /&gt;Yen kinaryan atunggu wong sakit&lt;br /&gt;Ejim setan datan wani ngambah&lt;br /&gt;Rineksa mala ekate&lt;br /&gt;Nabi wali angepung&lt;br /&gt;Sakeh lara pada sumingkir,&lt;br /&gt;Ingkang sedya pitenah marang awak ingsun,&lt;br /&gt;Rinusak dening Pangeran,&lt;br /&gt;Iblis laknat sato moro sato mati&lt;br /&gt;Tumpes tapis sadaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Japa-wedha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(27)&lt;br /&gt;Ana kidung angidung ing wengi,&lt;br /&gt;Bebaratan duk amrem winaca,&lt;br /&gt;Sang Hyang Guru pangandeke,&lt;br /&gt;Lumaku Sang Hyang Ayu,&lt;br /&gt;Alembehane Asmara ening,&lt;br /&gt;Ngadek pangawak teja,&lt;br /&gt;Kang angidung iku,&lt;br /&gt;Yen kinarya angawula,&lt;br /&gt;Myang lulungan Gusti geting dadi asih,&lt;br /&gt;Sato setan sumimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(28)&lt;br /&gt;Sakatahing upas tawa sami,&lt;br /&gt;Lara raga waluya nirmala,&lt;br /&gt;Tulak tanggul kang manggawe,&lt;br /&gt;Duduk samya kawangsul,&lt;br /&gt;Akawuryan saguhing pikir,&lt;br /&gt;Ngadam makdum sadaya,&lt;br /&gt;Datan paja ngrungu,&lt;br /&gt;Pangucap lawan pangrasa,&lt;br /&gt;Myang tumingal kang sedya tumekeng napi,&lt;br /&gt;Pangreksaning malekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(29)&lt;br /&gt;Jabarail inkang animbang&lt;br /&gt;Milunira kanteban iman,&lt;br /&gt;Pan dadya kendel atine,&lt;br /&gt;Ngijail puniku,&lt;br /&gt;Kang rumeksa ing ati suci,&lt;br /&gt;Israpil dadi damar,&lt;br /&gt;Madangi jrokalbu,&lt;br /&gt;Mingkail kang asung sandang,&lt;br /&gt;Lawan pangan tinekan ingkang kinapti,&lt;br /&gt;Sabar lawan narimo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(30)&lt;br /&gt;Ya hudakyeng pamujining wengi,&lt;br /&gt;Bale aras saka ne mulya,&lt;br /&gt;Kirun saka tengen nggone,&lt;br /&gt;Wanakirun kang tunggu,&lt;br /&gt;Saka kiwa gada ne wesi,&lt;br /&gt;Nulak panggawe ala,&lt;br /&gt;Satru lawan mungsuh,&lt;br /&gt;Pangeret tengajul rijal,&lt;br /&gt;Ander ander khulhu balik kang linuwih,&lt;br /&gt;Ambalik lara raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(31)&lt;br /&gt;Dudur molo tengayatul kursi,&lt;br /&gt;Lungguh neng atine surat aningam,&lt;br /&gt;Pengleburan lara kabeh,&lt;br /&gt;Usuk usuk ing luhur,&lt;br /&gt;Ingkang aran wesi ngalarik,&lt;br /&gt;Neng nabi mohamad,&lt;br /&gt;Kang wekasan niku,&lt;br /&gt;Antunggu ratri lan siyang,&lt;br /&gt;Kinedepan ing tumuwung pada asih,&lt;br /&gt;Tunduk mendak maring wang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(32)&lt;br /&gt;Satru mungsuh mundur pada wedi,&lt;br /&gt;Pamidangan ing betal mukadas,&lt;br /&gt;Tulak balik pangreksane,&lt;br /&gt;Pan nabi patang puluh,&lt;br /&gt;Paring wahyu mring awak mami,&lt;br /&gt;Apan nabi wekasan,&lt;br /&gt;Sabda Nabi Dawud,&lt;br /&gt;Apetak bagenda Ambyah,&lt;br /&gt;Kinaweden ebelis laknat lawan ejim,&lt;br /&gt;Tan wani perak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(33)&lt;br /&gt;Pepayone godong dukut langit,&lt;br /&gt;Tali barat kumendung ing tawang,&lt;br /&gt;Tinunda tan katon mangke,&lt;br /&gt;Arajeg gunung sewu,&lt;br /&gt;Jala sutra ing luhur mami,&lt;br /&gt;Kabeh pada rumeksa,&lt;br /&gt;Angadangi mungsuh,&lt;br /&gt;Nulak panggawe ala,&lt;br /&gt;Lara roga sumingkir kalangkung tebih,&lt;br /&gt;Luput kang wisa guna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(34)&lt;br /&gt;Gunung sewu dadya pager mami,&lt;br /&gt;Katon murub kang katon tumingal,&lt;br /&gt;Sakeh lara sirna kabeh,&lt;br /&gt;Luput ing tuju teluh,&lt;br /&gt;Tarakyana tenung jalenggi,&lt;br /&gt;Bubar ambyur suminggah,&lt;br /&gt;Sri Sedana lulut,&lt;br /&gt;Punika sih Rahmatulah,&lt;br /&gt;Iya Sang Jati mulya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(35)&lt;br /&gt;Ingaranan Rara subaning-sih,&lt;br /&gt;Kang tuminggal samya sih sadaya,&lt;br /&gt;Kadep sapari polahe,&lt;br /&gt;Keh lara sirna larut,&lt;br /&gt;Tan tumama ing awak mami,&lt;br /&gt;Kang sangar dadi tawa,&lt;br /&gt;Kang geting dadi lulut,&lt;br /&gt;Saking dawuh sifat rahman,&lt;br /&gt;Iya rahmat rahayu pangereksaneki,&lt;br /&gt;Sarana nganggo metak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(36)&lt;br /&gt;Yen lumampah kang mulat awingwrin,&lt;br /&gt;Singo barong kang podo rumeksa,&lt;br /&gt;Gajah meta ning wurine,&lt;br /&gt;Macan gembong ing ngayun,&lt;br /&gt;Naga raja ing kanan kering,&lt;br /&gt;Singa mulat njrih tresna,&lt;br /&gt;Marang awak ingsun,&lt;br /&gt;Jim setan lawan manungsa,&lt;br /&gt;Pada kadep teluh lawan antu bumi,&lt;br /&gt;Ajreh lumayu ngitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(37)&lt;br /&gt;Yen sinimpen tawa barang kalir,&lt;br /&gt;Upas bruwang racun banjar sirna,&lt;br /&gt;Temah kalis sabarang reh,&lt;br /&gt;Jemparing towok putung,&lt;br /&gt;Pan angleyang tumibeng siti,&lt;br /&gt;Miwah saliring braja,&lt;br /&gt;Tan tumama mring sun,&lt;br /&gt;Cedak cupet dawa tuna,&lt;br /&gt;Miwah sambang setan tenung pada bali,&lt;br /&gt;Kadep wedi maring wang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(38)&lt;br /&gt;Ana paksi mangku bumi langit,&lt;br /&gt;Manuk iku endah warnanira,&lt;br /&gt;Sagara erob wastane,&lt;br /&gt;Uripe manuk iku,&lt;br /&gt;Animbuhi ing jagad iki,&lt;br /&gt;Warnanipun sakawan,&lt;br /&gt;Sikile wewolu,&lt;br /&gt;Kulite iku sarengat,&lt;br /&gt;Getihipun tarekat ingkang sejati,&lt;br /&gt;Ototipun kakekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(39)&lt;br /&gt;Dagingipun makripat sejati,&lt;br /&gt;Cucukipun sejatining sadad,&lt;br /&gt;Eledan tohid wastane,&lt;br /&gt;Ana dene kang manuk,&lt;br /&gt;Pupusuhe supiah nenggih,&lt;br /&gt;Emperune amarah,&lt;br /&gt;Mutmainah jantung,&lt;br /&gt;Luamah waduke ika,&lt;br /&gt;Manuk iku anyawa papat winilis,&lt;br /&gt;Nenggih manuk punika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(40)&lt;br /&gt;Uninipun jabrail singgih,&lt;br /&gt;Socanipun punika kumala,&lt;br /&gt;Anetra wulan srengenge,&lt;br /&gt;Napas nurani iku,&lt;br /&gt;Garananipun tursino nenggih,&lt;br /&gt;Angaub soring aras,&lt;br /&gt;Karna kalihipun,&lt;br /&gt;Ing gunung Arpat punika,&lt;br /&gt;Uluwiyah ing lohkalam wastaneki,&lt;br /&gt;Ing gunung manik maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa-wedha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(41)&lt;br /&gt;Ana kidung akandang permadi,&lt;br /&gt;Among tuwung ing kawasanira,&lt;br /&gt;Nganak ake saciptane,&lt;br /&gt;Kakang kawah puniku,&lt;br /&gt;Kang rumekso ing awak mami,&lt;br /&gt;Anekakaken sedya,&lt;br /&gt;Ing kawasanipun,&lt;br /&gt;Adi ari ari ika,&lt;br /&gt;Kang mayungi ing laku kawasaneki,&lt;br /&gt;Nekakaken pangarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(42)&lt;br /&gt;Punang getih ing raine wengi,&lt;br /&gt;Ngrerewangi Allah kang kawuasa,&lt;br /&gt;Andadekaken karsane,&lt;br /&gt;Puser kawasanipun,&lt;br /&gt;Nguyu uyu sabawa mami,&lt;br /&gt;Nuruti ing paneda,&lt;br /&gt;Kawasanireku,&lt;br /&gt;Jangkep kadang ingsun papat,&lt;br /&gt;Kalimane pancer wus dadi sawiji,&lt;br /&gt;Tunggal sawujud ingwang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(43)&lt;br /&gt;Yeku kadang ingsung kang umijil,&lt;br /&gt;Saking marga ina sareng samya,&lt;br /&gt;Sadino awor enggone,&lt;br /&gt;Sakawan kadang ingsun,&lt;br /&gt;Ingkang nora umijil saking,&lt;br /&gt;Marga ina punika,&lt;br /&gt;Kumpule lan ingsun,&lt;br /&gt;Dadya makdum sarpin sira,&lt;br /&gt;Wewayangan in dat samya dadya kanti,&lt;br /&gt;Saparan datan pisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(44)&lt;br /&gt;Yen angidung poma den mametri,&lt;br /&gt;Memuleya sego golong lima,&lt;br /&gt;Takir pontang wewadahe,&lt;br /&gt;Ulam ulamipun,&lt;br /&gt;Ulam tasik rawa lan kali,&lt;br /&gt;Ping pat iwak bangawan,&lt;br /&gt;Mawa gantal iku,&lt;br /&gt;Rong supit winungkus samya,&lt;br /&gt;Apan dadya sawungkus arta saduwit,&lt;br /&gt;Sawungkuse punika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(45)&lt;br /&gt;Tumpengana aneng pontangnya sami,&lt;br /&gt;Dadya limang wungkus pontang lima,&lt;br /&gt;Sinung sekar cempaka ne,&lt;br /&gt;Loro sapotangipun,&lt;br /&gt;Kembang boreh dupa ywa lali,&lt;br /&gt;Memetri ujugbira,&lt;br /&gt;Donganira Mahmud,&lt;br /&gt;Poma dipun lakonono,&lt;br /&gt;Saben dino nuju kalahiraneki,&lt;br /&gt;Agung sawabe ika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(46)&lt;br /&gt;Balik lamun ora den lakoni,&lt;br /&gt;Kadang ira pan pada ngrencana,&lt;br /&gt;Temah kudrasa ciptane,&lt;br /&gt;Sasedyanira wurung,&lt;br /&gt;Lawan luput pangarahneki,&lt;br /&gt;Sakarepe ira wigar,&lt;br /&gt;Gagar datan antuk,&lt;br /&gt;Saking kurang temenira,&lt;br /&gt;Madep laku iku den awas den eleng,&lt;br /&gt;Tamat ingkang kidungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By alang alang kumitir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-6685028787726335285?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/6685028787726335285/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=6685028787726335285&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/6685028787726335285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/6685028787726335285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/06/serat-mantra-wedha-sukma-weda-darma.html' title='SERAT (MANTRA-WEDHA, SUKMA-WEDA, DARMA-WEDA, JAPA-WEDA, JIWA-WEDA)'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-1518163355299383343</id><published>2009-06-29T21:36:00.000-07:00</published><updated>2009-06-29T21:37:45.853-07:00</updated><title type='text'>WEJANGAN URIP</title><content type='html'>LABETING KARTIYASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Labeting kartiyasa punika&lt;br /&gt;Awit saking pambudayaning gita dursila&lt;br /&gt;Rinuwat kanthi mrihatini adrenging karsa&lt;br /&gt;Ngubara lan ngumbara miyat dumununging kamitran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amangsuli prahara bebendu ageng&lt;br /&gt;Tan ginayuh hastaning mamilat brata&lt;br /&gt;Wosing rasa kang ginubel graito&lt;br /&gt;Graitaning karsa, dumununging cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan ana angkara&lt;br /&gt;Tan ana rubeda&lt;br /&gt;Tan ana dursila&lt;br /&gt;Tan ana tandang duraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejer anyar&lt;br /&gt;Gagrak anyar&lt;br /&gt;Titah anyar&lt;br /&gt;Jagad anyar&lt;br /&gt;Sarwa gumebyar&lt;br /&gt;Tan ana kang samar&lt;br /&gt;Tansah suminar&lt;br /&gt;Magilar-magilar&lt;br /&gt;Anggelar tulusing nalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi pinilih, luhur angarih-arih&lt;br /&gt;Masa wurunga karsaning Jati&lt;br /&gt;Hangesti drajading titah&lt;br /&gt;Hawya miruda kang kinarsa ing Allah&lt;br /&gt;Kabeh saka telenging jangkah&lt;br /&gt;Kabeh awit gumelaring pratingkah&lt;br /&gt;Kabeh ngemu tulusing ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngaminana marang donga kang pinuji&lt;br /&gt;Kunjuk Ing Ngarsaning Maha Ji&lt;br /&gt;Humangkara&lt;br /&gt;Humangrasa&lt;br /&gt;Hamungwat trikarsa&lt;br /&gt;Hamungwing baskara&lt;br /&gt;Hamungwing jumantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngadep Rabbul Ngalamin&lt;br /&gt;Welasing Gusti&lt;br /&gt;Ingkang Maha Sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muliha, muliha, muliha&lt;br /&gt;Muliha mring pancardriya&lt;br /&gt;Balia mring panaraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mawanti-wanti, angati-ati&lt;br /&gt;Aja kongsi keri nunggang jung baitagung,&lt;br /&gt;Kang dinayung malaikat hambaruyung&lt;br /&gt;Dipandhegani dening para nabi&lt;br /&gt;Sinangga mring para wali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinebakan jamna utami&lt;br /&gt;Mulyaning manusa jati&lt;br /&gt;Kang pinilih dening Gusti&lt;br /&gt;Kapilah saking ngalamipun&lt;br /&gt;Awit driyanira mung nyawiji,&lt;br /&gt;Kabeh kagungane Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula aja noleh&lt;br /&gt;Mula kudu mantheng&lt;br /&gt;Katuta baitagung&lt;br /&gt;Nyuwuna palilahe Hyang Agung&lt;br /&gt;Awit kuwi Kagunganipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aja ninggal trapsila&lt;br /&gt;Aja nggugu kersaning pribadi&lt;br /&gt;Aja dumeh wus katam kitabe&lt;br /&gt;Najan wus apal dongane&lt;br /&gt;Najan wus guntur sujude&lt;br /&gt;Ning durung kaparingan ridhaning Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula dudu rapale, ning atine&lt;br /&gt;Mula dudu wujude, ning lire&lt;br /&gt;Mula dudu jlegere, ning makripate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poma, sindukara karaning ronsih&lt;br /&gt;Sawunging swara sawang suwung&lt;br /&gt;Gebyaring gebyur gambyong grambyangan&lt;br /&gt;Rinakit, rinasa, rapita, retyakaning radya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jung, jung baitagung&lt;br /&gt;Wus tinata ambaruyung&lt;br /&gt;Lir grimis handaridis&lt;br /&gt;Re-rep pantiarsaning resep&lt;br /&gt;Pindha tilasing atilas tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tlusurana sing tlaten&lt;br /&gt;Anggita gitaning suksma&lt;br /&gt;Andungkap sunaring padhang&lt;br /&gt;Njingglang ngawang-awang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamung sawiji kang kinanthi&lt;br /&gt;Wahyuning Hyang Widhi,&lt;br /&gt;Kang pinuji-puji.&lt;br /&gt;Wus pupus barang kalire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAHDATULWUJUD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wujuding wijil wahyuning wangsit&lt;br /&gt;Wiyoto woting waskitha kang winasis&lt;br /&gt;Jajaning janma jatining jasad&lt;br /&gt;Jumujuging jaladara jantra jinajah.&lt;br /&gt;” Wujud keluarnya ilham&lt;br /&gt;” melalui orang yang mengerti yang terpelajar&lt;br /&gt;” dada manusia sejatinya jasad&lt;br /&gt;” menuju ke alam jajahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amrih amining amaranti&lt;br /&gt;Amina mastani mantra mastadi&lt;br /&gt;Samudananing samudra samun&lt;br /&gt;Sesongaran sasat susantiningrum.&lt;br /&gt;” supaya perkataanya merata&lt;br /&gt;” boleh dikatakan mantra mastadi&lt;br /&gt;” berkedok berlindung di samudra ( mungkin mengatasnamakan kekuatan mayoritas)&lt;br /&gt;” sombong/ugal ugalan menjadi pedomannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungguh asmaning mung kanggo mupus&lt;br /&gt;Dipeh prana nalika daruna dumateng&lt;br /&gt;Tebining dhandhaka anyatrani&lt;br /&gt;Lubering ludira anebaki daruni.&lt;br /&gt;” namanya hanya untuk meredam&lt;br /&gt;” cuma pas bisa melihat waktu kesedihan datang&lt;br /&gt;” luasnya “dhandhaka” menyertai&lt;br /&gt;” lubernya darah memenuhi hati/kesedihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Najan hamung kinanthi sih utami&lt;br /&gt;Awit diniyati tan kenging rinuyit,&lt;br /&gt;Anggraitaa murih wekasanipun jrih&lt;br /&gt;Muncrat handalidir mring bantala.&lt;br /&gt;” walau hanya dengan kasih sayang&lt;br /&gt;” sudah diniyati sebagai pegangan&lt;br /&gt;” merasalah supaya akhirnya takut&lt;br /&gt;” menyembur membasahi/mengaliri bumi(sujud syukur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba grahaning Hyang Suksma&lt;br /&gt;Memitri awit saking nggenira&lt;br /&gt;Njangkah tan angoncati&lt;br /&gt;Tibaning Rohul Kudus amrih miranti.&lt;br /&gt;” tiba ke tempat Hyang Suksma&lt;br /&gt;” melihat karena keteguhanmu&lt;br /&gt;” yang berjalan tanpa meninggalkanNya&lt;br /&gt;” keluarnya “rohul kudus” supaya dapat berguna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jinantra ontran-ontran kang amurwat&lt;br /&gt;Murwating angkara murka&lt;br /&gt;Nabrak, nunjang, ngobok-obok&lt;br /&gt;Nggelar kadurjanan&lt;br /&gt;Ngobrak-abrik tatanan&lt;br /&gt;Salang-tunjang&lt;br /&gt;Gede-cilik tanpa wirang.&lt;br /&gt;” pada jaman kerusuhan yang tak lazim&lt;br /&gt;” lazimnya angkara murka&lt;br /&gt;” sengaja menabrak, menggeser, mengobok obok(tatanan)&lt;br /&gt;” mengadakan hal hal yang bertentangan dengan adat (maling,jambret dsb)&lt;br /&gt;” mngorak abrik tatanan yang berlaku (hukum adat)&lt;br /&gt;” berebutan&lt;br /&gt;” tua muda tak punya malu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana jalma mimba Gusti&lt;br /&gt;Ngaku Allah sinarawedi&lt;br /&gt;Ngendi ana titah padha karo Gusti&lt;br /&gt;Kadunungan iblis pinasthi.&lt;br /&gt;” ada manusia mengaku aku Tuhan&lt;br /&gt;” dan mengaku sodara Allah&lt;br /&gt;” mana ada manusia(ciptaan) mengaku sama dengan Tuhan&lt;br /&gt;” dapat dipastikan itu iblis/setan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manunggal kuwi ‘ra teges sami&lt;br /&gt;Hamung celak raket ring Gusti&lt;br /&gt;Hamung Allah kang pinuji-puji&lt;br /&gt;Ya mung jalma najan wali.&lt;br /&gt;” bersatu bukan berarti sama&lt;br /&gt;” hanya dekat dengan Tuhan&lt;br /&gt;” hanya Tuhan Allah yang patut disembah&lt;br /&gt;” semua hanya manusia walau wali sekalipun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyuwun ngapura mring Hyang Widhi&lt;br /&gt;Wani nranyak mring Malikul’alam&lt;br /&gt;Wus madhani Sing Gawe Urip&lt;br /&gt;Dudu kuwi wahdatulwujud.&lt;br /&gt;” minta ampunan kepada Tuhan&lt;br /&gt;” karena berani kepada sang Pencipta Alam&lt;br /&gt;” sudah menyamakan diri dengan Tuhan&lt;br /&gt;” bukan itu arti wahdatulwujud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sing bener kuwi ya mung aran titah&lt;br /&gt;Ora samar angambrah-ambrah&lt;br /&gt;Aja nerak hukume lumrah&lt;br /&gt;Kawistra ora narimah.&lt;br /&gt;” yang benar itu cuma dapat disebut hamba&lt;br /&gt;” yang tidak kuatir yang berlebihan&lt;br /&gt;” jangan melanggar hukum alam&lt;br /&gt;” nanti akan terlihat tidak bersyukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh Gusti Kang Maha Lestari&lt;br /&gt;Mugi kersa paring lubering pangastuti&lt;br /&gt;Kang samya memesu ring karsaning Gusti&lt;br /&gt;Najan sasarsusur yekti.&lt;br /&gt;” ya Tuhan yang Maha Langgeng/tak pernah mati&lt;br /&gt;” smoga sudi memberi limpahan Rahmat&lt;br /&gt;” kepada orang yang mendekatkan diri melaksanakan kehendakMu&lt;br /&gt;” walau masih banyak salah dalam menjalaninya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAHDATULWUJUD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wujuding wijil wahyuning wangsit&lt;br /&gt;Wiyoto woting waskitha kang winasis&lt;br /&gt;Jajaning janma jatining jasad&lt;br /&gt;Jumujuging jaladara jantra jinajah.&lt;br /&gt;Amrih amining amaranti&lt;br /&gt;Amina mastani mantra mastadi&lt;br /&gt;Samudananing samudra samun&lt;br /&gt;Sesongaran sasat susantiningrum.&lt;br /&gt;Mungguh asmaning mung kanggo mupus&lt;br /&gt;Dipeh prana nalika daruna dumateng&lt;br /&gt;Tebining dhandhaka anyatrani&lt;br /&gt;Lubering ludira anebaki daruni.&lt;br /&gt;Najan hamung kinanthi sih utami&lt;br /&gt;Awit diniyati tan kenging rinuyit,&lt;br /&gt;Anggraitaa murih wekasanipun jrih&lt;br /&gt;Muncrat handalidir mring bantala.&lt;br /&gt;Tiba grahaning Hyang Suksma&lt;br /&gt;Memitri awit saking nggenira&lt;br /&gt;Njangkah tan angoncati&lt;br /&gt;Tibaning Rohul Kudus amrih miranti.&lt;br /&gt;Jinantra ontran-ontran kang amurwat&lt;br /&gt;Murwating angkara murka&lt;br /&gt;Nabrak, nunjang, ngobok-obok&lt;br /&gt;Nggelar kadurjanan&lt;br /&gt;Ngobrak-abrik tatanan&lt;br /&gt;Salang-tunjang&lt;br /&gt;Gede-cilik tanpa wirang.&lt;br /&gt;Ana jalma mimba Gusti&lt;br /&gt;Ngaku Allah sinarawedi&lt;br /&gt;Ngendi ana titah padha karo Gusti&lt;br /&gt;Kadunungan iblis pinasthi.&lt;br /&gt;Manunggal kuwi ‘ra teges sami&lt;br /&gt;Hamung celak raket ring Gusti&lt;br /&gt;Hamung Allah kang pinuji-puji&lt;br /&gt;Ya mung jalma najan wali.&lt;br /&gt;Nyuwun ngapura mring Hyang Widhi&lt;br /&gt;Wani nranyak mring Malikul’alam&lt;br /&gt;Wus madhani Sing Gawe Urip&lt;br /&gt;Dudu kuwi wahdatulwujud.&lt;br /&gt;Sing bener kuwi ya mung aran titah&lt;br /&gt;Ora samar angambrah-ambrah&lt;br /&gt;Aja nerak hukume lumrah&lt;br /&gt;Kawistra ora narimah.&lt;br /&gt;Duh Gusti Kang Maha Lestari&lt;br /&gt;Mugi kersa paring lubering pangastuti&lt;br /&gt;Kang samya memesu ring karsaning Gusti&lt;br /&gt;Najan sasarsusur yekti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking: Kang Mas Kumitir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-1518163355299383343?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/1518163355299383343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=1518163355299383343&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/1518163355299383343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/1518163355299383343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/06/wejangan-urip.html' title='WEJANGAN URIP'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-1870236066337933878</id><published>2009-06-21T22:27:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T04:06:55.356-07:00</updated><title type='text'>MERUHI KAWERUH</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/StMLdi_hSwI/AAAAAAAAACA/AFHozgcNPxY/s1600-h/Ragil+Sudjono.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/StMLdi_hSwI/AAAAAAAAACA/AFHozgcNPxY/s200/Ragil+Sudjono.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391665781129956098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mangertos punika salah satunggaling bab ingkang sesambetan kaliyan muluring pamikir, ingkang sakawit saged mangertos sebab saking mikir utawi mangertos sebab saking pangraos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadaya kempaling pangertosan kala wau mujudaken undhuh-undhuhan saking sumereb, kasebat kaweruh. Punika amargi asalipun saking tumanduk ing weruh. Lha nyumerabi punika saged dipun tegesi nanggapi dhateng ebahing indriya, nabet saha mangertos dhateng tabet punika. Nampi ebahing indriya saged kanthi nginjen, mrisani, mireng, ngambet, ngraosaken, lan nggrayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amila ing blabaraning piwulang, panglantih sagedipun olah nalar lan guneman kanthi patitis [njlentrehaken punapa ingkang sampun dipun sumerabi], punika raket supeket sesambetanipun kaliyan piwulang nyumerabi kawontenanipun [pangrembuging] barang-barang, basa monceripun mungel Zaakonderwijs verbonden met spreek en verstands oefeningen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikajenganing manungsa ingkang kasurung dening raos hambetahaken saha niyatipun kepingin mangertos punika ingkang dados dhasaring kaweruh. Saking daya pakartining pikir, kaweruh punika lajeng nuwuhaken pangertosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuwuhing pangertosan punika boten cekap namung saking ngapalaken utawi nirokaken isining buku utawi saking maos reriptan ing Pawartos Jawi upaminipun, lajeng njajal-njajal piyambak ngiras pantes nyinau neniteni lan nggagas-nggagas utawi nglimbang-nglimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu iku kalakone kanthi laku, sadaya piwulang punika sagedipun tumanja kedah kanthi tumandang utawi nglampahi piyambak, boten cekap namung taberi ngemba-ngemba damel warna-warni pitakenan, nanging kedah purun nyobi madosi piyambak jawaban saking pitakenanipun kalawau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancen pikiran punika ingkang saged nuntun kitanyinau kaweruh. Awit saking punika kaweruh lelandhesan barang mesthi, tegesipun wonten bukti mawujud nyata wontenipun lan saged dipun buktekaken kanthi limrah, pinanggih ing nalar saha encering pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing kaweruh boten wonten bab ingkang winadi, sadaya kedah dipun dhasaraken barang ingkang mesthi. Pitados dhateng dhiri pribadi saha pikajengan ingkang sentosa, punika ingkang dipun betahaken kangge nyinau kaweruh, saking tataran ngira weruh, ngaku weruh, ngantos dumugi nyata weruh utawi temen weruh [badhe kapisah kababar ing wingking]. Sapunika badhe kula lajengaken malih anggen kula gendhu-gendhu rasa bab kaweruh, mliginipun kaweruh bab nalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaweruh bab nalar punika kaweruh ingkang madosi dhateng hukum-hukumipun pikir. Nalar gadhah kewajiban madosi dhateng cara utawi teknikipun mikir. Ing sabrang Kilenan kaweruh bab nalar punika dipun wastani logika, saking tembung logos ingkang ngemu teges piwulang kangge cara mikir ingkang mlesed, saha nyukani pitedhah supados boten mlesed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramila logika ugi dipun wastani piwulang bab rasio utawi perbandingan, amargi logika saweg tumindak makarya manawi wonten tiyang mastani *anu* dipun gandheng kaliyan *anu* sanesipun, ngantos nuwuhaken pamanggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supados pikir wau ketingal, pikir wau dipun wujudaken mawi tembung/ukara/basa. Logika lajeng ngonceki pamanggih wau lan ngudi dhateng ceplesipun pamanggih wau, tegesipun madosi zhang-zhanganipun, inggih punika gandhengipun si *anu* kaliyan pun *anu* sanesipun wau, cocog miturut nalar punapa boten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanadyan zhang-zhanganipun utawi gandhengipun wau sampun miturut paramasastra, nanging isinipun ukara sok saged cocog lan sok ugi saged mlesed kaliyan kanyatanipun. Ingkang dipun wastani cocog manawi boten mlesed. Pamanggih ingkang mlesed punika kosokwangsul kaliyan pangertosan [upaminipun: pasagi-bunder], utawi boten laras malah congkrah kaliyan pengalaman sanyatanipun [upaminipun: geni-adhem].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika boten madosi kasunyatan awit punika sanes wajibipun. Madosi leres utawi ngudi dhateng sejatining bener punika dados tanggel-jawabipun Filsafat, sanes urusanipun Logika [ingkang mligi namung madosi bener tumrap bageyanipun], dados benten kaliyan Filsafat ingkang madosi bener tanpa wates, umum, mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika namung dados prabot kangge nitipriksa lampahing pikir ingkang leres. Tiyang saweg saged madosi kasunyatan utawi sejatining bener manawi anggenipun ngedalaken pamanggih wau boten nalisir saking nalar, inggih makaten punika ingkang dipun wastani lampahing pikir ingkang leres. Ngantos dumugi pundi pentog wohipun pikir, punika boten dados obyek wawasanipun logika.&lt;br /&gt;Kados ingkang sampun kula serat lan kapacak ingPawartos Jawi mriki riptan asesirah Lung Tinampen, satunggaling pamanggih punika saged dipun wujudaken sarana ngaku utawi selak, ngantebaken/positif utawi ngorakaken/negatif, dados saged ya utawi ora, inggih punapa boten [manawi ngedalaken pamanggih mbokya aja karo ngeden].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pamanggih punika rak namung keyakinan, ingkang tiyang sanes boten kedah sarujuk, “Lho, punika rak pamanggih panjenengan, manawi miturut kula boten makaten …”, sanadyan ta anggenipun ngedalaken pamanggihipun wau kanthi lelandhesan bukti-bukti ingkang kiyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dados pamanggih punika namung mahyakaken *mbokmanawi*, sanes barang ingkang sampun tamtu kasunyatanipun [they express probabilities rather than certainties] lan taksih ngemu suraos *kinten-kinten* [they are subject to doubt].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saben tiyang tamtu anggadhahi pengalaman ingkang dipun alami piyambak. Manawi tiyang kathah ugi nggadhahi pengalaman ingkang sami lan hasilipun inggih sami, lajeng pengalaman wau dipun wastani pengalaman obyektif, awit wonten cundhukipun antawisipun pengalaman subyektif lan obyektif ngantos tiyang saged ngertos-ingertosan, lajeng saged linton-lintonan pamanggih mawi dhasar nalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalar wau lajeng saged mbedakaken pundi ingkang cocog lan pundi ingkang mlesed. Wonten ing babagan kasusilan, tiyang saged mbedakaken pundi ingkang leres lan pundi ingkang klentu sarana nalar. Wonten ing pikir, tiyang saged mbedakaken nyata lan ora nyata, cocog lan mlesed. Kangge ngedalaken pamanggih, tiyang saged mastani manawi positif [ya/ngaku/ngantebaken]: godhonge ijo. Utawi manawi negatif/ora/selak/ngorakaken: godhonge ora ijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wujudipun ingkang sanyatanipun [gagasanipun nyata utawi nyatanipun] pancen kados ingkang dipun tingali tiyang wau sanadyan cara nerangaken benten. Bentenipun manawi nerangaken sarana positif, punika genah nyata/konkrit, upaminipun: ijo. Cetha warnanipun setunggal inggih punika ijo, nanging saged ugi dipun terangaken manawi *ora ijo* punika saged nggadhahi teges warni-warni, waton boten ijem.&lt;br /&gt;Manawi tiyang ngedalaken pamanggih, punika tamtu mawi dhasar keyakinan ingkang leres sampun kados makaten punika wontenipun, tegesipun tiyang wau nggadhahi kemanteban tumrap bab ingkang dipun pikir, dene pamanggih wau saged nggambaraken keyakinanipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan wau saged ngengingi punapa satunggaling bab punika *saged kelampahan*, *boten saged kelampahan babarpisan*, *kedah kelampahan*, utawi *saged kelampahan dados saestu*.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab ingkang *kedah kalampahan*, punika tamtu ugi *saged kelampahan*, dados boten dipun endani lan *kedah kalampahan*, wonten ing salebetipun kawontenan ingkang kados punapa kemawon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosokwangsulipun, bab ingkang *saged kelampahan dados saestu*, punika ugi tansah kadosa pundi kemawon punika *kedah kelampahan*, jalaran manawi boten, tamtunipun bab wau boten badhe kelampahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab ingkang *boten saged kelampahan babarpisan*, punika boten saged kelampahan kanthi kados punapa kemawon. Kosokwangsulipun, bab ingkang *saged kelampahan*, punika wonten warni-warni caranipun *kinten-kinten* saged kelampahan. Watesipun *kinten-kinten* wau celak kaliyan *kedah kelampahan*, nanging tamtunipun boten saged sami kaliyan *kedah kelampahan* wau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingkang boten saged dipun kinten-kinten punika tansah *saged kelampahan*, nanging punika watesipun celak kaliyan *boten saged kelampahan babarpisan*, nanging ugi boten saged sami kaliyan *boten saged kelampahan babarpisan*. Manawi ingkang *saged kelampahan* punika *saged kelampahan dados saestu*, inggih lajeng dados *nyata*.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punapa ingkang sampun nyata saestu, punika tansah kadosa pundi kemawon sampun kedah makaten. Manawi punika boten saged dipun tampi, sadaya ingkang nyata badhe ical sesambetanipun kaliyan ingkang rasional. Dados ingkang *kedah kelampahan* punika ugi nyata badhe dados nyata lan punika *kedah kalampahan*, wonten ing kawontenan ingkang kados punapa kemawon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosokwangsulipun, ingkang sampun dados nyata, punika inggih *kedah kalampahan*, sanadyan gandhenganipun boten saged dipun tedhahaken [dipun ketingalaken]. Tiyang ngedalaken pamanggih ingkang limrah dipun dhasaraken mawi punapa ingkang ketingal ing mripat, upaminipun: godhonge ijo. Pamanggih wau mawi dipun yakini saestu kanthi tamtu. Tanpa keyakinan ingkang sentosa/pasti wau, tiyang boten saged mikir miturut nalar/logika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saged ugi pamanggih wau lajeng kasusul boten leres jalaran mripatipun goroh, nanging pamanggih wau lajeng saged dipun leresaken, dipun ewahi dados cocog. Nanging *caranipun* ngedalaken pamanggih boten lepat, awit sanadyan pancadriyanipun boten saged dipun pitados satus persen, nanging pamanggih ewa semanten tetep pitados dhateng keyakinanipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punika amargi nalika ngedalaken pamanggih taksih pe-dhe bilih kawontenan wau inggih kados nalika dipun sumerebi/tingali, punika dados dhasaripun sedaya cara mikir [ingkang cundhuk kaliyan nalar]. Mawi dhasar punika satunggaling pamanggih saged ngengingi bab ingkang boten kedadosan utawi bab ingkang dereng kedadosan. Pamanggih kados makaten wau taksih nggadhahi teges *kinten-kinten*. Tumrap ingkang sampun *tamtu* punika ugi nggadhahi undha-usuk. Wonten *tamtu ingkang mesthi*, lan wonten *tamtu ingkang mesthi boten*. Upaminipun: *tamtu ingkang mesthi* bilih sebageyan punika langkung alit tinimbang kaliyan wetah [the whole should always be greater than any of its parts], punika minangka tuladha tamtu ingkang boten saged dienyang malih, liripun jawabanipun sampun gumathok. Punika saged damel conto manawi badhe ngrembag bentenipun punapa ingkang namung *pamanggih* lan punapa ingkang saged kawastanan *kaweruh *.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipunwastani kaweruh manawi barang ingkang saweg dipun pikir punika njalari kita mikir kanthi cara tartamtu, ingkang sampun boten saged dienyang malih. Anggen kita mikir madosi jawabanipun arahipun tumuju dhateng jawaban ingkang sami, boten wonten pilihan sanesipun malih. Mila jawabanipun boten saged dipun lebetaken dhateng ewoning pamanggih pribadi malih, amargi saben tiyang waras mesthi sarujuk utawi sami pamanggihipun bilih saperangan punika mesthi langkung alit tinimbang kaliyan ingkang taksih wetah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosokwangsulipun, manawi kita taksih rumaos bebas anggen kita mikir madosi jawabanipun, punika taksih winates arupi pamanggih, dede kaweruh. Minangka tuladha: “Punapa tiyang Jawi remen dhahar gudheg?” *Temtu ingkang mesthi boten* bilih loro ping loro kuwi padha karo lima. Tamtu-tamtu kados nginggil wau ngengingi babagan ingkang abstrak lan tumrap barang-barang ingkang wujudipun sarana dipun sukani pangertosan/definisi, mila abstrak/boten nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benten kaliyan babagan ingkang konkrit/nyata. Wonten ingriku, sanadyan tamtu, nanging taksih wonten mlesedipun. Manawi wonten mendhung lelimengan, kula sanjang “Wah udan”, sanadyan kula saged lepat, nanging sekedhik sanget amargi limrahipun inggih jawah saestu, mesthi udane. Nanging sanadyan namung sakedhik, kula ugi saged mlesed, sareng wonten angin ageng, mendhungipun ical, boten saestu jawah … weee ngapusi mendhunge!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanging ugi wonten kawontenan ingkang tamtu kenging dipun temtokaken nyata saestu, upaminipun: sepur Taksaka mangkat saking Yogya tujuwanipun dhateng Jakarta, punika tamtu ingkang kenging dipuntemtokaken nyata saestu badhe dumugi Jakarta, awit umumipun badhe dumugi Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanging ugi wonten malih kawontenan bilih katemtuan wau gumantung saking ingkang ngendika piyambak. Upaminipun kados conto kula ing ngajeng: “Wah hawane kok adhem biyanget”, kamangka ingkang dipun ajak wicantenan saweg kringeten gobyos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dados saged dipun tetepaken bilih wonten ing babagan konkrit/nyata, bab tamtu punika taksih saged dienyang, nanging wonten ing babagan ingkang abstrak/boten nyata, bab tamtu punika sampun boten saged dipun awis malih, fixed price, tamtu nggih tamtu, nanging, sepisan malih nanging … manawi sampun sami cocogipun ing bab definisinipun. Tegesipun, manawi pangertosanipun boten saged sami, wonten ing babagan abstrak wau ugi boten wonten tamtu ingkang satus persen tamtu.&lt;br /&gt;Para sutresna Pawartos Jawi ingkang saweg rumagang ing damel, ingkang saweg suka parisuka sasampunipun pikantuk suka bebungah saking akathah, ingkang gesangipun nyawo glethak namung dalederan tansah dhahar tuwin nendra kewala, punapa dene ingkang namung lelambaran sumendhe dhateng kodrat, wewengan, wewarah, sasmita, lumantar acara-acara ritual, lan sapanunggalanipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampun njih, sapunika keparenga kula minca-mincu umik-umik ngungelaken aji-aji tan ana ajine:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ila-ila dina sinabetna ing ila duni tinebihna tulak sarik dhumawahing tawang-towang, kalilanana ingriki Mastoni njegur mak byurrr, tumut ceciblon penak seger munyer-munyer mak serrrr, sinambi tetembangan hambarang jantur tuwin hambalang gondhang tutur, sanadyan namung badhe sinurak hambata rubuh kabalang tetembungan nonjok wadhuk nyogrok tenggak dening para *sutresna* budaya ingkang anggung memardi mardawaning budaya luhur, nanging pangandikanipun sarwa-sarwi jeleh-jeleh anjelalak sajak ngemu groyok boten wewah menthes lan maedahi punapa dene salaras kaliyan kayektosan mekar mungkaring jaman gagrag enggal, puput pepet pepunthoning nggalih lajeng boten ajrih ing tumindak worsuh ngidak-idak asmanipun asanes ing sangajengipun akathah, nama tiyang pancen sampun remuk rempu rasa retu panggraitanipun, bangsat keparat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murih boten sangsaya kapanjangan panglantur kula, prayoginipun kula lajengaken malih nyobi ngonceki bab Meruhi Kaweruh punika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyata Weruh, Ngakoni Weruh, lan Ngira Weruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tataran Nyata Weruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanci sonten kula saweg mlampah-mlampah. Sareng dumugi margi prapatan ingkang rame, kula sumerab wonten becak kaserempet truk gandheng, becak jempalik, penumpange wutah, tangise mutri Cina, sambate wedhus Jawa, gelasaran melas asih. Kaweruh kula ing inggil wau nama tuwuh saking temen weruh utawi saking nyata weruh, sarana manoni piyambak prastawa utawi kedadosanipun, dede saking tembung jare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaweruhipun tiyang ingkang saking nyata weruh utawi temen weruh, punika kaweruh ingkang tuwuh saking panyrawungipun pancadriya kita dhateng jagad gumelar. Kaweruh ingkang asalipun kados mekaten punika, tiyang sinten kemawon manawi dipuntakeni jawabanipun mesthi sami, sauger tiyang wau taksih waras utawi boten gothang salah satunggaling pancadriyanipun, upaminipun: es punika asrep, sarem punika asin [yen duwe karep mbok aja isin-isin].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tataran Ngaku Weruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiyang jaman samangke sampun sami ngakeni bilih bumi punika bunder radi lonjong sakedhik. Kajawi punika, bumi punika ebah mubeng ngubengi porosipun, sarana makaten lajeng lumampah ngubengi surya. Dene pun sasangka lampahipun ngubengi bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaweruh kados conto ing inggil punika nama kaweruh nyata, ingkang tuwuh saking ngaku weruh utawi ngakoni weruh awit kaweruh wau tuwuh saking muluring pamikir, tuwuh saking kamajenganing pamikiranipun manungsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manawi pamikir kita boten mulur, inggih boten saged katuwuhan kaweruh makaten wau. Punika jalaran manawi kita namung lugu migunakaken pancadriya lan raos pangraos, cobi bumi punika manawi dipun sawang ngangge paningal, mrika-mrika rak ketingalipun radin kemawon, namung kados klasa memet dipun gelar, boten awangun bunder. Saya kok dipun cariyosaken bumi punika ngubengi surya, sangsaya boten mathuk awit ingkang genah miturut pangraosing manah kita surya ingkang ngubengi bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makaten manawi tiyang namung ngangge pirantos pancadriya lan raos pangraos. Nanging sareng tiyang pikiranipun saya majeng, dangu-dangu kraos, ngertos manawi bumi punika bunder, antawisipun dipun buktekaken kaliyan sinten niku sarana nitih baita ing seganten, angkatipun mangilen terus, jebul njedhulipun lha kok saking wetan. Ingriku tiyang tansaya kenceng anetepaken bilih bumi punika bunder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuladha malih bab muluring pikir: Kita sadaya ngakeni manawi ing tembe kita mesthi pejah. Raos ngakeni makaten punika sayektosipun inggih tuwuh saking muluring pamikir, jalaran kita tansah manoni bilih sadaya ingkang asipat gesang punika ing tembe mesthi sami nemahi pejah. Wekasan saking muluring pamikir kita, kita lajeng wani netepaken bilih kita sadaya punika ugi badhe nemahi pejah sanadyan dereng sumerab benjang punapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tataran Ngira Weruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Kaweruh* ingkang tuwuh saking ngira weruh makaten nyatanipun pancen ora weruh, dados sanes kaweruh [kangge nggampilaken anggen kita mbandhingaken lajeng kula dadosaken setunggal ingriki]. Nanging sanadyan nyatanipun ora weruh, sampun dados wataking manungsa, manawi dipun peksa-peksa purih weruh inggih saged, hla lajeng ngira-ngira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upami wonten pitakenan, “Bab lelampahanipun tiyang sasampunipun pejah punika kados pundi?” Punika pamanggihipun tiyang satus trekadhang inggih warni satus. Lah sayektosipun dipun punapak-punapakna tiyang boten sumerab. Mila manawi wonten ingkang kenceng netepaken pamanggihipun, saupami dipun suwun kapurih mbuktekaken saknyatanipun inggih glagapen. Dados agami punika sanes kaweruh, nanging punika pangandel/iman/faith, tiyang kantun ngandel kaliyan boten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiyang badhe ngandel dhateng rembaging sanes punika ugi wonten saratipun: tiyang ingkang cariyos wau mitadosi, lan salajengipun angsal paseksen tiyang tiga sekawan gangsal cariyosipun sami, cocog kaliyan rembagipun tiyang sanes ingkang mitadosi wau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upami wonten tiyang cariyos bilih ing New York punika saben taun dhawah salju. Lha ingkang cariyos makaten boten tiyang setunggal kalih, prasasat kathah sanget, cariyosipun nggih sami, cocog boten beda-beda. Lah punika ugi kenging dipun pitados sanadyan punika taksih tembung jare. Saupami ing tembe saged tindhak dhateng Noo Yawk piyambak ing wanci musim asrep, kaweruhipun tiyang wau saged dados kasunyatan. Ing ngriki kaweruh wau lajeng ngancik saking tataran ngira weruh tumuju dhateng tataran nyata weruh. Sing maune mung jare, sapunika sampun saged mbuktekaken piyambak manawi ing Noo Yawk dhawah salju ing wanci musim asrep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makaten ugi kaweruh saking agami [saking ngira weruh], punika taksih gondar-gandir. Nanging saged ugi ngancik dhateng tataran ngaku weruh sarana muluring pamikir, lan saged ugi ngancik dhateng tataran nyata weruh. Ning inggih saged mbleduk tanpa kukuban. Upami wonten pitakenan kados ing ngajeng, “Swarga lan neraka punika punapa pancen wonten lan kados pundi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pitakenan punika manawi badhe dipun jawab mawi wewaton tataran nyata weruh genah boten saged, jalaran tiyang ingkang badhe jawab wau tiyang gesang ingkang dereng nate pejah lan dereng nate ngalami utawi ngraosaken piyambak kados pundi swarga neraka punika..Yen wantun cariyos kados pundi lelampahanipun tiyang sasampunipun pejah lajeng manggen ing swarga utawi neraka, punika mesthi ngapusi, goroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saged ugi dipun *buktekaken*, nanging kedah mangkat saking wewaton tataran ngakoni weruh utawi saking muluring pamikir, awit muluring pamikir punika ugi wonten ingkang dumugi kasunyatan. Nanging kedah prayitna paseksenipun, manawi sepen ing tandha saksi namanipun taksih wonten in tataran ngira weruh, dados namung kapitadosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuladha malih: Sukarjo ngakeni bapakipun punika pun Wakidjo. Pangakenipun Sukarjo punika sayektosipun sakawit mesthi namung ngira weruh, namung saking kapitadosan, awit dipun punapak-punapakna pun Surya mesthi boten utawi dereng sumerab bapakipun punika sinten, wong wiwit dereng mbrojol sampun dipun *bucal*. Sumerabipun Sukarjo punika saking ibunipun [utawi tiyang sanes] ingkang nyariyosaken bilih Wakidjo punika bapakipun, sarta saksinipun kuwawi, inggih punika tiyang-tiyang ingkang katranganipun sami, cocog. Sareng sasampunipun dipun padosi lan saged kepanggih, nyata leres bilih pun Wakidjo punika bapakipun. Lha ingriki kaweruhipun Sukarjo ingkang sewaunipun mangkat saking tataran ngira weruh, sapunika sampun saged ngancik dhateng tataran nyata weruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dados *kaweruh* agami punika prayoginipun kita tampeni kanthi muluring pamikir rumiyin, salajengipun kita kedah nyinau gladhen piyambak, ngantos saged ngancik tataran nyata weruh. Kados pundi? nyuwun pangapunten awit kula piyambak dereng dumugi ingriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing wasana, mugi lumintuning pudyastawa saking Gusti hambabar daya pangaribawa ingkang tumandhuk dhumateng kawula dasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Ta'lim kagem Keluarga ageng ipun Kang Mas Kumitir. Nuwun&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-1870236066337933878?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/1870236066337933878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=1870236066337933878&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/1870236066337933878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/1870236066337933878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/06/meruhikaweruh.html' title='MERUHI KAWERUH'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/StMLdi_hSwI/AAAAAAAAACA/AFHozgcNPxY/s72-c/Ragil+Sudjono.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-79820420087603393</id><published>2009-06-17T00:02:00.001-07:00</published><updated>2009-10-12T03:58:15.793-07:00</updated><title type='text'>MEPER HAWA NAFSU</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/StMLdi_hSwI/AAAAAAAAACA/AFHozgcNPxY/s1600-h/Ragil+Sudjono.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/StMLdi_hSwI/AAAAAAAAACA/AFHozgcNPxY/s200/Ragil+Sudjono.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391665781129956098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hawa nepsune manungsa dijlentrehake ing jagad pakeliran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laku pasa, ing wulan Pasa apadene ing saliyane wulan Pasa, kaprah diarani minangka salah sijine laku kanggo ngendhaleni hawa nepsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumrap wong Jawa, meper utawa ngendhaleni hawa nepsu dadi salah sijine laku tumuju dadi manungsa kang utama. Paugeran urip ing filosofi kabudayan Jawa kang nengenake sandhang tinimbang pangan mujudake salah sijine asil saka laku meper hawa nepsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sing dikarepake nengenake sandhang dudu arupa menganggo lan nglumpukake sandhangan-sandhangan kang sarwa apik, ananging ateges nengenake upaya ngapikakae pribadi, mbangun citra kanthi sarana tansah ngupadi apike kapribaden lan solah bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dene ngiwakake pangan, cetha bisa ditegesi laku ngendhaleni kasenengan marang panganan utawa meper hawa nepsu kang metu saka weteng. Laku pasa mujudake salah sijine cara kang kaprah dilakoni wong Jawa kanggi meper hawa nepsu iki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing filosofi kabudayan Jawa kang dadi pancadan uripe wong Jawa akeh sumadya ubarampe kanggo nyinau babagan prelune tansah meper hawa nepsu. Tumrap wong Jawa ora kangelan yen pengin nyinau, mangerteni lan ndhudhah babagan hawa nepsune manungsa kang wis dijlentrehake ing jagad pakeliran wayang kulit. Para pujangga Jawa jaman kawuri uga duwe kawigaten gedhe marang babagan hawa nepsu, saengga kabeh kang gegayutan kalawan hawa nepsu iki tansah diwulangake kanthi sarana seni pedhalangan utawa pakeliran Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumrap wong Jawa, kayadene kang dijlentrehake ing buku Pengendalian Hawa Nafsu Orang Jawa, anggitane Wawan Susetya, weton Narasi, Yogyakarta, 2007, babagan hawa nepsu iki dadi kawigaten karana makmur utawa rusak lan remuke donya iki gumantung hawa nepsune manungsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yen ana pemimpin kang duwe watak lan kapribaden kang apik, hawa nepsune kagolong apik yaiku muthmainah, saengga bisa mujudake memayu hayuning bawana (nglestarekake lan makmurake bumi saisine). Suwalike, yen sawijining pemimpin iku tansah nguja hawa nepsu amarah utawa kamurkan, bakal numusi rusake bebrayan kang tundhone uga nemahi rusake bumi saisine. Nepsu amarah kang tansah ngejak marang laku duraka, nerak angger-angger lan mburu senenge dhewe, bebasan kayadene geni. Kanthi mangkono mung cukup pawitan penthol rek jres siji wae wis bisa ngobong apa wae. Watake wong kang dikuwasani nepsu amarah iku tansah kumawasa, pengin menange dhewe, lan kumudu-kudu minangkani hawa nepsune lan syahwat-e.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing jagad pewayangan utawa pakeliran wayang kulit ana paraga wayang kang dadi pralambang hawa nepsu kang tansah nggubel jiwane manungsa. Dene hawa nepsu kang tansah nggubel uripe manungsa iku kaperang dadi papat yaiku amarah, lawwamah, supiyah utawa mulhimah lan muthmainnah. Watake wayang Dasamuka kang kebak angkara dadi pralambang nepsu amarah, yaiku nepsu kang tansah ngejak manungsa marang tumindak duraka, dur angkara kanthi sarana sipate kang tansah adigang, adigung lan adiguna. Wayang Kumbakarna dadi pralambang nepsu lawwamah, yaiku hawa nepsu kang tansah nyacat salahe liyan, kalebu salahe dhewe. Hawa nepsu lawwamah iki sejatine wus nuduhake sipat kang luwih apik kang tuwuh saka kasadharane dhewe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Watake wayang Dewi Sarpakenaka, pralambang wong wadon kang tansah kagodha dening wong lanang kang bagus praupane, mujudake pralambang nepsu supiyah utawa mulhimah. Hawa nepsu iki sejatine wis alus, saengga meh padha kalawan wisik utawa ilham, yaiku wisik kang apik lan wisik lang asipat ala. Dene wayang Wibisana mujudake pralambang saka nepsu muthmainnah, yaiku jiwa kang anteng lan jatmika ing badan wadage manungsa. Karana iku Wibisana iku kang dadi pralambang nepsu muthmainnah ora melu sedulur-sedulure, yaiku Prabu Dasamuka, Kumbakarna lan Sarpakenaka, ananging malah melu Sri Rama Wijaya, mungsuhe sedulur-sedulure. Ana candhake.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manungsa dadi palagan paprangan nepsune dhewe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumbuh kalawan pralambang hawa nepsune manungsa cacah papat kang dijlentrehake ing pakeliran wayang kulit, miturut Imam Al Ghazali kaya kang diandharake ing Ihya Ulumuddin, manungsa kuwi diwernani patang kekuwatan sipat lan nepsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nepsu cacah telu asipat duraka, yaiku asipat kayadene kewan asu kang nglambangake sipat galak, asipat kayadene kewan babi kang nglambangake sipat kemaruk, asipat syaithoniyah kang dadi pawadan tuwuhe sipat kewan asu lan babi iku. Dene sing pungkasan sipat rubbubiyah utawa uluhiyah kang nuwuhake rasa eling marang Gusti Allah Kang Maha Kuwasa. Sipat sing kaping papat iki yen dirembakakake lan dikemonah kanthi temen-temen bisa ngluwari sipat syaithoniyah saka pribadine manungsa. Kanthi mangkono, sejatine manungsa iku dadi palagan paprangan antarane telung kekuwatan kang asipat ala, dur angkara, duraka lan siji kekuwatan kang asipat tansah njurung lan nggeret pribadine manungsa marang kabecikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamung wong-wong pinilih wae kang bisa menangake papranganan antarane telung nepsu dur angkara lan siji sipat kabecikan iku. Paprangan iku kudu dilakoni kanthi temen-temen murih siji sipat kabecikan iku bisa menang nalika adhep-adhepan kalawan telung sipat nepsu kang dur angkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gusti Allah Kang Maha Asih sejatine wus mepaki ubarampe tumrap manungsa ing alam donya supaya bisa ngemonah paprangan antarane siji sipat kabecikan kalawan telu hawa nepsu asipat dur angkara iku. Ubarampe kang dikarepake yaiku ubarampe-ubarampe rohaniah arupa akal lan nepsu. Iki kang ndadekake manungsa beda kalawan malaikat kang mung antuk ubarampe akal saka Gusti Kang Maha Kuwasa, ananging ora duwe nepsu. Samono uga beda kalawan sato kewan kang mung antuk ubarampe nepsu tanpa akal. Dene manungsa, menawa luwih ketarik marang ”tarikane langit”, tegese bakal luwih cerak marang sipat taat kayadene malaikat. Suwalike, yen manungsa iku luwih seneng marang ”tarikane bumi” utawa kadonyan, ateges dheweke luwih cerak marang sipat kewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amarga manungsa iku dipepaki ubarampe akal lan nepsu, mula dheweke duwe kalodhangan dadi titah kang apik dhewe, bisa luwih apik tinimbang malaikat. Ananging, manungsa uga duwe bisa dadi titah kang drajate luwih ala tinimbang sato kewan kang mung ngudi mareme hawa nepsune. Para pujangga Jawa jaman kawuri, ya para leluhur kabudayan Jawa, akeh kang kondhang minangka insan kamil (manungsa paripurna). Iku karana para pujangga iku wus kasil meper hawa nepsune kanthi maneka rupa cara lan upaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatine, hawa nepsu mono duwe sipat kang kas lan ketara banget. Miturut anggepane wong Jawa, ”hawa” iku ateges rasa wegah nindakake samubarang laku kang asipat nyedhak marang sipat taat (marang Gusti Allah Kang Maha Asih). Dene ”nepsu” ateges semangat kanggo nindakake laku maksiyat. Kanggo ngemonah ”hawa nepsu” iku kudu kanthi cara mindhahake ”hawa” marang ”nepsu” lan suwalike, mindhah ”nepsu” marang ”hawa”. Tegese, rasa wegah nindakake parentahe Gusti Kang Maha Asih dipindhah menyang wewengkon ”nepsu”. Saengga kang tuwuh sabanjure rasa wegah nindakake laku maksiyat. Suwalike, semangat kanggo nglakoni tumindak maksiyat (nepsu) dipindhah menyang wewengkon ”hawa”. Saengga kang tuwuh lan ngrembaka arupa semangat nindahake kabeh prentah-E. Ing jagad kabudayan Jawa, wus akeh tuladha laku mindhahake ”hawa” marang ”nepsu” lan ”nepsu” marang ”hawa” iku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumrap wong Jawa, salah sijine laku kanggo meper hawa nepsu yaiku laku ngurang-ngurangi, kalebu laku pasa lan laku tapa kang nglimputi tarak brata, mesu brata, tapa brata lan pati brata. Tarak brata iki ing bebrayane wong Jawa kang sinebut ngurang-ngurangi, yaiku ngurangi mangan, ngombe lan turu (cegah dhahar lawan guling). Mesu brata yaiku lelaku kang kwalitase luwih dhuwur tinimbang tarak brata. Ing kene, wong wus ngupadi marang laku prihatin rohaniah. Tapa brata mujudake lelaku kang luwih manther marang sangkan paraning dumadi utawa manunggaling kawula gusti. Dene pati brata arupa lakune manungsa Jawa kang wus nggayuh tingkat dhuwur dhewe, yaiku wus tekan marang mangerteni lan ngenali Gusti Allah kang haq. Ing laku pati brata iki kang kabudayan Jawa sinebut wus kasil nggayuh manunggaling kawula gusti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-79820420087603393?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/79820420087603393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=79820420087603393&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/79820420087603393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/79820420087603393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/06/meper-hawa-nafsu.html' title='MEPER HAWA NAFSU'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/StMLdi_hSwI/AAAAAAAAACA/AFHozgcNPxY/s72-c/Ragil+Sudjono.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-6530280320095222264</id><published>2009-06-15T04:27:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T04:54:25.447-07:00</updated><title type='text'>AJI PAMELENG</title><content type='html'>Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan wau winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan, pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun. Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta, tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan, kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningr at pangruwating diyu lan sapanunggalanipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge sarananing panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken dhateng sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking pandamel kita ingkang boten tilar murwat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih miturut saking tembung-tembungipun , sanyata kathah ingkang nagngge basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun. Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa Indhu ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden. Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun. Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun, margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau saget nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila kalayan gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi. Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun. Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa’indhengipun maratah sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi saking wohing kawruh pandamel wau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad, kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu, sebab lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon wedharing agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing nginggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari, inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami, serta kedah santun angrasuk agami Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih angrungkepi agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau, ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-ara, ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen. Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes, sanadyan suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih dados manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan kawruh pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados, menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten; dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning lalampahan ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi dados pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing ndalem serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun, lajeng mungel : salat daim (salat – basa arab, daim saking daiwan basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim, punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing ngriku salat limang wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung gampil, terang lan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden, ingkang mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh asamaden, dening Seh Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun amencaraken piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami rumaos kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-muridipun Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten kacepeng sami lumajar pados gesang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka’arubiru dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing ngandhap punika :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim, karangkepan wuwulang salat limang wekdal tuwin rukuning Islam sanes- sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan tafakur. Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden&lt;br /&gt;lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar. Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai, pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados purwaning piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis, kados ing ngandhap punika :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami, boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak panganiaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking dayaning mas picis rajabrana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang sami kataman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampah limang prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah limang prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad, kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar, sampun ka’andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah umandanging samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih punika makaten :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid saking cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten punika tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung samadi = sarasa – rasa tunggal – maligining rasa – rasa jati – rasa nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalam an ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Inggih makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau, pikir lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara, pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep namung ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten wonten malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing riku punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah, saha sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng. Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta (panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa’antawising netra kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah kalayan angeremaken netra kakalih pisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten : panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) , sarta mawi kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun ingkang kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun napas, inggih lajeng ka’edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten saget dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan), pikajengipun : mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu’ kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas saking puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya’, kasarengan kalihan wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak. Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken mantra sastra kakalih : hu – ya, wedaling swara ingkang namung kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling mantra utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah kaewahan dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah – haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil, sa’angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi sampun sareh, inggih lajeng ka’angkatana malih, makaten salajengipun ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu, sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa’angkataning pandamel wau kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat = jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula. Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning cipta kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan angeningaken (ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking rahsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi kenging karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel inggih kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau, ingkang sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa ing nginggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung, utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng, inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, kedah kapanjang-panjangan a lampahipun, murih panjanga ugi umur kita, temah saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak, putu, buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. Tegesipun sastra = empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja endra. Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu – wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun : Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, kaharjan, katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating diyu = amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta, punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya, pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun, sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi, punika bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih. Tiyang goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia, waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka pangawak braja asarira bathara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat Giling @ alang alang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-6530280320095222264?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/6530280320095222264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=6530280320095222264&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/6530280320095222264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/6530280320095222264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/06/aji-paeleng.html' title='AJI PAMELENG'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-6756501142380018697</id><published>2009-06-15T04:23:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T03:30:55.133-07:00</updated><title type='text'>Piwulang Bab HANACARAKA</title><content type='html'>DANDANGGULA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hananing wong sing ENENG duk dihin,&lt;br /&gt;Hawarana anasir samoha,&lt;br /&gt;Hagni angin bantala her,&lt;br /&gt;Hiya Hyang Maha Luhur,&lt;br /&gt;Hingkang wujud Eneng menuhi,&lt;br /&gt;Hisining rat winahya,&lt;br /&gt;Hobah osik tuhu,&lt;br /&gt;Hamung saking ananing Hyang,&lt;br /&gt;Hanartani jroning alam kabir sahir,&lt;br /&gt;Hananing titahing Hyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Asale manungsa kuwi saka “Eneng” ngrasuk awak-awakan anasir geni,angin, bumi, banyu.&lt;br /&gt;2. Ana dene sing kita jejuluki asma Allah kuwi ENENG ngebaki alam semesta.&lt;br /&gt;3. Kabeh isining jagad iki lan kabeh mobah mosik iki, sanyata saka anane Allah&lt;br /&gt;4. Panjenengane anglimputi sadjroning jagad gede lan jagad cilik.&lt;br /&gt;5. ……. kalebu ing aksara NA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nora akeh ingkang arsa uning,&lt;br /&gt;Nalaring reh yen Sang Hyang Suksmana,&lt;br /&gt;Nartani ing saanane,&lt;br /&gt;Nadyan aran dumunung,&lt;br /&gt;Neng isining jagad tan keni,&lt;br /&gt;Netepken winastanan,&lt;br /&gt;Neng kono dumunung,&lt;br /&gt;Nanging mungguh Hyang Suksmana,&lt;br /&gt;Namung namar namur more anartani,&lt;br /&gt;Nora manggon mring ana.&lt;br /&gt;Ha (10) ananing titahing Pangeran kuwi …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ora akeh kang kepengin mangerti bab Allah, sing sipate nglimputi alam semesta iki.&lt;br /&gt;2. Sanadyan katembungake “dumunung” ana ing isining jagad iki, ora kena diarani “manggon” ana ing kono&lt;br /&gt;3. Allah kuwi, dumununge, momore, lan panglimpute, tembunge mung namar lan namur (tegese: ora katon tetela), mulane ya ora kena diarani manggon ana ing kahanan sing katon gumelar iki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cekakane Hyang Kang Maha Suci,&lt;br /&gt;Cetha nanging tan kena wineca,&lt;br /&gt;Cag-ceg lamun nora ceceg,&lt;br /&gt;Curna temah katrucut,&lt;br /&gt;Cupet cacad yen nora lancip,&lt;br /&gt;Ciptane tan trawaca,&lt;br /&gt;Cutel nora cancut,&lt;br /&gt;Caritane kang wus lancar,&lt;br /&gt;Careming Hyang cihnane neng ati suci,&lt;br /&gt;Cewet lamun den ucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cekakane bab anane Allah kuwi ceta, nanging angel anggone nerangake&lt;br /&gt;2. Cag-ceg pada duwe pangira, sing kita tengeri jejuluk asma Allah kuwi ‘iki utawa iku’, nanging pangira mau ora bener&lt;br /&gt;3. Katrucute panganggep sing ora bener mau ateges cacat, awit pancen ora dong, mung awur-awuran wae, katarik saka buntune lan ketule akal pikirane.&lt;br /&gt;4. Ana dene ngandikane sang wicaksana manunggale Pangeran kuwi kacihna ana ing ati suci, nanging yen dikandakake mengkono, iya kliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasakena jroning sanubari,&lt;br /&gt;Rumakete lawan angganira,&lt;br /&gt;Raket lan rasa pamore,&lt;br /&gt;Rorone lwir sajuru,&lt;br /&gt;Rina wengi awor lestari,&lt;br /&gt;Rata jroning sarira,&lt;br /&gt;Rumasuk anurut,&lt;br /&gt;Rosing urat daging darah,&lt;br /&gt;Rambut-rambut kabeh kasrambah tan kari,&lt;br /&gt;Rinoban uripira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Rasakena ing ndalem atimu, sang Eneng sing nganggo awak- awakan anasir mau, anggone anjumenengi wadagmu, awor manunggal karo rasamu.&lt;br /&gt;2. Anasir lan rasa kuwi bleger loro nanging kaya mung siji, sakarone rina wengi tansah awor.&lt;br /&gt;3. Nyrambahi sajroning badan sakojur, rumasuk ing urat, daging, getih, dalah rambut pisan, ora ana sing kliwatan ora kesrambah. Ngerobi uripe manungsa iki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakekate kawruhana kaki,&lt;br /&gt;Kaya priye yakine ingkang khak,&lt;br /&gt;Kahanane Pangran mangke,&lt;br /&gt;Kalamun sira ngaku,&lt;br /&gt;Kahanane Hyang Suksma kaki,&lt;br /&gt;Kumpul lan sira mangkya,&lt;br /&gt;Kompra kumalungkung,&lt;br /&gt;Kena ingaranan mokal,&lt;br /&gt;Kudu ngaku kumpul lan kang mengku kaki,&lt;br /&gt;Kuwur kurang weweka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kawruhana kanti yakin kepriye sanyatane kahanane Allah kuwi&lt;br /&gt;2. Yen kowe ngrumangsani kahanane Allah kuwi kumpul karo kowe, kuwi panganggep kliru lan kumalungkung&lt;br /&gt;3. Mokal banget ingatase kowe kuwi kawula sing kawengku, teka kumpul karo Allah sing mengku. Panganggep sing mangkono mau kuwur (kupur?) lan lacut (kurang weweka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dene lamun sira angingkedi,&lt;br /&gt;Dumadinta datan awor ing dat,&lt;br /&gt;Durung weruh ing kadaden,&lt;br /&gt;Dadi mungkir ing pandum,&lt;br /&gt;Dinalih yen dadi pribadi,&lt;br /&gt;Duraka dora arda,&lt;br /&gt;Datan wruh ing udur,&lt;br /&gt;Dunungena kang waspada,&lt;br /&gt;Darunaning jatining dat dennya dadi,&lt;br /&gt;Dandananing dumadya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dene yen kowe anekadake dumadimu kuwi ora kasamadan Dattullah, sanyata kowe durung dong bab asaling dumadi.&lt;br /&gt;2. Panganggep mengkono mau (ora ngrumangsani) ateges nyelaki kuwasaning Pangeran, pangiramu dumadimu kuwi “dengan sendirinya”. Panganggep mangkono mau duraka lan goroh banget, terang yen kowe ora ngerti marang kawruh bab dumadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Genahna sing gamblang, kepriye sabab musababe (darunane), dattullah (jatining dat) ngeja wantah awujud titah iki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takokena mring kang wus patitis,&lt;br /&gt;Teraping dat dennya moring titah,&lt;br /&gt;Terangena wit tumetes,&lt;br /&gt;Tekeng tlanakan tuntum,&lt;br /&gt;Tata-tata amurweng gati,&lt;br /&gt;Triloka amirantya,&lt;br /&gt;Tigang candra tamtu,&lt;br /&gt;Tamat rampung wujud kita,&lt;br /&gt;Tinengeran kakung atanapi estri,&lt;br /&gt;Tetela daya titah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Takokna marang gurumu kepriye jelase pangeja wantahe dating Pangeran, awujud titah manungsa iki.&lt;br /&gt;2.  Terangna wiwit banyuning Bapa tumestes ana ing guwa garbaning biyung, perkembangane dadi getih, banjur dadi daging, sabanjure kasinungan triloka (betalmakmur, betalmucharam, betalmukadas).&lt;br /&gt;3. Sawise ganep telung sasi, sempurna wujud bayi, katamtokake dadi manungsa lanang utawa wadon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Hyang Esa sangang wulan keksi,&lt;br /&gt;Saking jroning guwa garba mesat,&lt;br /&gt;Sumeleng suwung wiyose,&lt;br /&gt;Sampun sarira rasul,&lt;br /&gt;Sulihing Hyang minangka saksi,&lt;br /&gt;Sing kwaseng Hyang Wisesa,&lt;br /&gt;Sinung sih rinasuk,&lt;br /&gt;Sinedhahan amisesa,&lt;br /&gt;Sesining kang sarira Sang Hyang Sa maksih,&lt;br /&gt;Sipat siki tan pisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jatining dat sing ngejawantah mau, sawise sangang sasi, banjur metu saka guwa garba, awujud jirim mawa papan, jirim.&lt;br /&gt;2. Bayi sing lahir saka guwa garba mau apengawak “utusan” minangka pratanda bab kuwasaning Pangeran.&lt;br /&gt;3. Saka kuwasaning Pangeran, deweke kaparingan sih sarta ditugasake mranata dirine sakojur. Dene jatining Dat kuwi isih lestari sipat siji karo dirine, ora tau pisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wasitane pra parameng kawi,&lt;br /&gt;Wali-wali neng srat kawi jarwa,&lt;br /&gt;Wong urip jwa salah weweng,&lt;br /&gt;Wruha wosing tumuwuh,&lt;br /&gt;Wit sing purwa myang madya tuwin,&lt;br /&gt;Wusana ajwa kewran,&lt;br /&gt;Waskitaning kawruh,&lt;br /&gt;Wruh woring kawula lawan,&lt;br /&gt;Wujuding Hyang Winastan waluyeng uwit,&lt;br /&gt;Wawasen den kawang-wang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Para pujangga rambah-rambah paring wejangan kamot ing layang-layang tembang lan banjaran ngelingake wong urip mono aja salah weng-weng.&lt;br /&gt;2. Kudu ngerti wose anggone dititahake kuwi kepriye. Kudu damang purwa, madyo, lan wusanane.&lt;br /&gt;3. Waskitaning kawruh kuwi ngerti sagunging titah karo sing nitahake. Persudinen sing gamblang bab bisane mulih marang asal (asal saka pangeran, mulih marang pangeran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laksitane lena den kalingling,&lt;br /&gt;Lalangene nalikarsa ilang,&lt;br /&gt;Luwih angel yen tan oleh,&lt;br /&gt;Laraping kang pitulung,&lt;br /&gt;Lenging wulang ingkang dumeling,&lt;br /&gt;Luluh aneng dadalan,&lt;br /&gt;Lingak-linguk linglung,&lt;br /&gt;Liyepe kyeh kang kawulat,&lt;br /&gt;Lalu lali kalunglun kang ngatingali,&lt;br /&gt;Lebur keneng begalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mangertio pangalaman nalikane sakaratul maut (ngancik plawanganing pati). Goda rencanane, nalika arep pecating nyawa kuwi Gawat, tumrap wong sing durung oleh wejangan sing ceta gamblang.&lt;br /&gt;2. Sajroning ngalami krisis (gawat) kuwi, rumongso ora biso nerusake lakune, tingak tinguk bingung atine.&lt;br /&gt;3. Ing waktu kuwi katon sesawangan werna-werna, samongso deweke lali kerem marang sawangan mau, ateges kebegal, ora patitis patine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pati papa kalempiting kapir,&lt;br /&gt;Pakolehe duk uripe tanpa,&lt;br /&gt;Puruita panganggepe,&lt;br /&gt;Patrape prapteng lampus,&lt;br /&gt;Pantog tanpa kawruh nyukupi,&lt;br /&gt;Prandene bareng wapat,&lt;br /&gt;Paksa kempas-kempus,&lt;br /&gt;Pan nora pasrah amapan,&lt;br /&gt;Polahane palintiran nora apik,&lt;br /&gt;Pratanda yen kalepyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mati sing kasebut ing aksara LA baris angka sepuluh mau: mati sasar, jalarane suwung tanpa kawruh (kapir). Yakuwi akibate nalika isih urip ora gelem golek kawruh. Pamikire patrape mati kuwi gampang cukup tanpa kawruh.&lt;br /&gt;2. Bareng ngancik plawangane pati kempas kempus, ora pasrah, ora mapan polahe palintiran, mracihnani yen deweke lali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhasar beda lan kang wus amundhi,&lt;br /&gt;Dhawuhing sang Pandhita kang medhar,&lt;br /&gt;Dhanurdara mung sumendhe,&lt;br /&gt;Dhatenging kang riridhu,&lt;br /&gt;Dhadhag dhokoh tyas tan kalindhih,&lt;br /&gt;Dhineseg gora godha,&lt;br /&gt;Dhangan nora kidhung,&lt;br /&gt;Dhangah-dhangah mandi pedhang,&lt;br /&gt;Dhatenging kang ripu wirodha tinandhing,&lt;br /&gt;Dhinendha tadhah dhadha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Wong sing wis tampa wejanganing guru bab kawruh kasampurnan, sayekti beda karo sing kasebuting aksara PA mau. Wong sing wis tampa wejangan kuwi, nalika ngancik sakratul-maut, mung sumendhe&lt;br /&gt;2.  Ana reridu teka, ana goda rencana teka, deweke tatag wae, ora kaget lan ora mrebawani atine.&lt;br /&gt;3.  Kaya wong anggawa pedang ligan, ana mungsuh teka nrajang yo ditandingi. Mungsuhe menthung nganggo ‘DHENDHA” dadhane diungalake.&lt;br /&gt;Jatining kang wus weruh ing janji,&lt;br /&gt;Janji-janji janjining sang Dwidja,&lt;br /&gt;Jenak jenjem karem ijen,&lt;br /&gt;Jangkane mung angejum,&lt;br /&gt;Jumenenging jiwangga mbenjing,&lt;br /&gt;Jinungkung jro pamujan,&lt;br /&gt;Jejeg terus tuwajuh,&lt;br /&gt;Jejering driya prasaja,&lt;br /&gt;Joging seja ing mbenjing praptaning janji,&lt;br /&gt;Jatmika srah jiwarja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sing kacaritake ana ing aksara DHA kuwi wong sing wis insyaf yen wong urip kuwi pacangane pati. Lan wis oleh kaweruh saka gurune (utawa saka maca buku-buku) banjur tawakal lungguh ijen ‘olah cipta’.&lt;br /&gt;2. Tujuane ora liya, supaya sakwise ninggal donya iku jiwane nemu lelakon opo benere. Mulane deweke ngulinake ngolah cipta ana papan mirunggang. Kanti temen-temen, sabar lan telaten.&lt;br /&gt;3. Adege uripe prasaja, dene yen wis teka wektune kudu mati, iya bakal dilakoni kanti anteng lan pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya marmane kulup kang kariyin,&lt;br /&gt;Yaktekena waluyaring laya,&lt;br /&gt;Yakina jrone urip kiye,&lt;br /&gt;Yakti tan wurung layu,&lt;br /&gt;Yen sira tan weruh kariyin,&lt;br /&gt;Yuda-brataning laya,&lt;br /&gt;Yatna liyep luyut,&lt;br /&gt;Yitmanta wastu ngalaya,&lt;br /&gt;Ywa pepeka myang mamrih mulyaning mayit,&lt;br /&gt;Yogya den parsudiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kulup, mulane wong kuwi perlu ngudi kawruh, supaya patine ora sasar. Soal pati kudu diyakinake sajrone isih urip iki.&lt;br /&gt;2. Sabab wong urip mono mesti bakal mati. Yen kowe ora ngerti kawruh bab pati, iyo kuwi “yatno liyep luyut”, oncate jiwamu saka raga bakal klambrangan.&lt;br /&gt;3. Aja gumampang Lho !. Lan maneh, kawruh supaya jinasahmu mulya, uga perlu kok parsudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyataning neng nyatakna ing sunyi,&lt;br /&gt;Nyenyeting rat lawan kahanannya,&lt;br /&gt;Nyirnakna nyet ajwa grenyeh,&lt;br /&gt;Nyaring ilining banyu,&lt;br /&gt;Nyuda rasa kang monyar-manyir,&lt;br /&gt;Nyirnakake kedunyan,&lt;br /&gt;Nyarong sirna kanyut (kang nyut),&lt;br /&gt;Nyeneni naya kumenyar,&lt;br /&gt;Nyamleng tentrem ayem tyase mari nyang-nying,&lt;br /&gt;Nyata wus tekeng sunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Enenge atimu terusna nganti tekan ora rasa rumongsa (suwung).Kahananing jagad aja kok rasakake, aja mikir kae-kae.&lt;br /&gt;2. Napasmu sarehna kaya nyaring ilining banyu, rasamu sing monjar-manjir temahan lerem. Bakune aja mikir bab kadonyan, amesthi rasa kang monjar-manjir mau ilang.&lt;br /&gt;3.  Wusana kaya kataman cahya, polatanmu dadi sumringah, atimu ayem tentrem, ora karoneyan. Pranyata wis tekan ing kahanan suwung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulane ta pra taruna sami,&lt;br /&gt;Marsudiya ngelmu kang utama,&lt;br /&gt;Mrih marem karem tumameng,&lt;br /&gt;Madyeng ngalam ngalimun,&lt;br /&gt;Meneng mrih wruh mring kang ngayomi,&lt;br /&gt;Manawa wus tan samar,&lt;br /&gt;More mring anggamu,&lt;br /&gt;Muksane luwih utama,&lt;br /&gt;Marga uwus tan samar denira mamrih,&lt;br /&gt;Mulih alame lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mulane para anom, prayoga pada marsudio ngelmu CHAK (utama).&lt;br /&gt;2. Temahan kowe rumongso marem, lan duwe sedya ngambah alam gaib-gaib sarana meneng, supaya ngerti kanthi yakin bab anane Allah (kang ngayomi).&lt;br /&gt;3. Yen kowe wis yakin temenan: Allah kuwi ora tau pisah karo kowe,patimu ora bakal sasar.&lt;br /&gt;4. Amarga kowe wis ora samar anggonmu nedya mulih marang asalmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagarane kang luwih prayogi,&lt;br /&gt;Gagayuhan arsa munggah swarga,&lt;br /&gt;Gunung Tursena jujuge,&lt;br /&gt;Grane kang luwih munggul,&lt;br /&gt;Gondhelana den amaligi,&lt;br /&gt;Gulunganing jiwangga,&lt;br /&gt;Gumeleng saglugut,&lt;br /&gt;Gigiten jwa ringga-ringga,&lt;br /&gt;Gagar lamun sira tan nurut ing margi,&lt;br /&gt;Graning Tursena arga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sarate sing prayoga banget tumrap setya munggah swarga kuwi:ngliwatane gunung TURSINA sing puncake duwur banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Puncake kuwi anggonen sipatan aja mangro mertelu. Anggonmu nyawijekake jiwa rogomu, sing nganti gumolong temenan, bebasan dadi sak glugut. Pangestimu aja samar-samar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Yen kowe ora ngliwati puncake gunung tursina mau, sedyamu munggah swarga ora bakal kaleksanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babarane prapteng alam kabir,&lt;br /&gt;Bali murba angebaki keblat,&lt;br /&gt;Busana kauban kabeh,&lt;br /&gt;Bumi baruna klebu,&lt;br /&gt;Badaning Hyang tetep ngelebi,&lt;br /&gt;Babaran njero njaba,&lt;br /&gt;Bola bali jumbuh,&lt;br /&gt;Balik yen tan bangkit murba,&lt;br /&gt;Bakal bali kapurba ing alam kabir,&lt;br /&gt;Bubrah tan bisa mbabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. (Yen kaleksanan tekan ing kahanan suwung) temahan babar apengawak jagad gede (alam semesta), ateges bali kaya asale angebaki keblat. Jagad iki: bumine, segarane, kauban kabeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pranyata njero (jagad cilik, mikro kosmos) lan njaba (jagad gede,makro kosmos) kuwi kaebekan datullah, kalimputan sipatullah, tetep salawas-lawase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Yen ora biso tekan ing kahanan suwung, kapeksa bakal kapurba maneh dening angger-anggering kodrat: nandang penderitaan bungah susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thenging dwista tan ana kang kaesthi,&lt;br /&gt;Thileg-thileg tan lalu palastha,&lt;br /&gt;Thenger-thenger tanpa canthel,&lt;br /&gt;Thok-thele mung ngalunthung,&lt;br /&gt;Thering sedya tan bangkit mesthi,&lt;br /&gt;Thukule pasti nistha,&lt;br /&gt;Thinotol blegthuthur,&lt;br /&gt;Thong-thongsot prapta pepathan,&lt;br /&gt;Thek-ethekan nuthuki si kuthung nisthip,&lt;br /&gt;Thinethel mring kanisthan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. (Sing ora biso bali marang asale mau): bingung ora karuwan sedyane.Temah tilek-tilek lan tenger-tenger wae. Pepuntone mung ngeluntung kanthisedya sing ora gumatok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bareng tukul sedyane, mesthi sedya sing remeh-remeh, dituntun blekutur. Para tong-tongsot teka, pada milara wong sing bingung kuwi,digeret marang kanisthan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nging kang paksa ngemba pra wirangi,&lt;br /&gt;Nganggit ngelmu ngawag tan uninga,&lt;br /&gt;Ngawur muhung andedongeng,&lt;br /&gt;Ngluluri reh ing dangu,&lt;br /&gt;Ngandikane pra mrih lulungit,&lt;br /&gt;Ngudiya wadining rat,&lt;br /&gt;Nging ywa rangu-rangu,&lt;br /&gt;Ngungseda nganti uninga,&lt;br /&gt;Ngracut ngukut wosing angga kang piningit,&lt;br /&gt;Ngayuh wor kang wurweng rat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengarange buku iki agahan tiru-tiru para pandhito: medharane ngelmu, satemene ora weruh. Mung ngawur kaya adongeng wae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mung ngestoake ngendikane para leluhur, ahli kebatinan, supaya kita ngudi kaweruh wadhine buwana kanthi temen- temen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Supaya telaten mangsah semadi, nganti kasil ngalami kahanan suwung,yakuwi manunggale titah karo sing nitahake.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-6756501142380018697?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/6756501142380018697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=6756501142380018697&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/6756501142380018697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/6756501142380018697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/06/piwulang-bab-hanacaraka.html' title='Piwulang Bab HANACARAKA'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-6021938090201472178</id><published>2009-06-15T04:18:00.000-07:00</published><updated>2009-06-16T22:53:34.213-07:00</updated><title type='text'>WUYUNG</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SjD4HNvjrSI/AAAAAAAAABU/kitpdzSNDU4/s1600-h/DSC_0407.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SjD4HNvjrSI/AAAAAAAAABU/kitpdzSNDU4/s400/DSC_0407.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5346045560520682786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana Tembung Tetembangan Ing Wengi&lt;br /&gt;Kekidungan Tembang Gegayuhaning Ati&lt;br /&gt;Ngambara Rasa Godhaning Jiwa&lt;br /&gt;Godaning Jiwa Karebut Ing Mangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana Sastra Kaserat Ing Mega&lt;br /&gt;Pujangga Muda Luruh Ing Asmara&lt;br /&gt;Ciptaning Rasa Gregeting Jiwa&lt;br /&gt;Rasa Jiwa Keselak Ing Branta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dak Suwun Sliramu Duh Kusuma&lt;br /&gt;Nora Cidra Garise Rasa&lt;br /&gt;Nora Sirna Mekaring Cundhup Asmara&lt;br /&gt;Cundhup Asmara Kang Banget Dak Rasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana Tembung Tetembanganing Wuyung&lt;br /&gt;Hanyandra Rasa Godhaning Sukma&lt;br /&gt;Marang Sastra Kaserat Ing Kidung&lt;br /&gt;Hangrerepa Marang Chandra Lan Kartika&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-6021938090201472178?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/6021938090201472178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=6021938090201472178&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/6021938090201472178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/6021938090201472178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/06/wuyung.html' title='WUYUNG'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SjD4HNvjrSI/AAAAAAAAABU/kitpdzSNDU4/s72-c/DSC_0407.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-2884396534077233426</id><published>2009-06-15T04:01:00.000-07:00</published><updated>2009-06-15T04:04:31.908-07:00</updated><title type='text'>Serat Maha Purwo</title><content type='html'>Serat Mahapurwa nyarioskeun lalakon Sang Hyang Adama, Sang Hyang Sita, Sang Hyang Nurcahya, Sang Hyang Nurasa, Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Tunggal, sareng Sang Hyang Manikmaya. Wawaton seratan iyeu ngarujuk kana Serat Paramayoga garapan Pujangga Ranggawarsita di Surakarta anu ngarujuk Serat Jitapsara garapan Begawan Palasara di Astina sareng ngarujuk Pustaka Darya garapan Sang Hyang Nurcahya di Lokadewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalakon Sang Hyang Adama&lt;br /&gt;Kocap kacarita Sang Hyang Adama saparantosna diturunkeun ka alam dunya sareng dihampura dosana, ngadeg raja di Kusniamalabari, ngaratuan sato kewan. Daharna tina pamuja. Sang Hyang Adama nyiptaken taun surya sareng taun candra, teras nyipta Tanajultarki kangge miwitan pepelakan na taun 129 SA atawa taun 133 CA. Teu lami bojona Sang Hyang Adama nyaeta Dewi Hawa babaran kembar dampit putra-putri. Kembar dampit kahiji rupana awon, kadua sae, katilu awon, kaopat sae, kalima awon, kitu saterasna dugi opat puluh dua kali, nanging anu kagenep sareng ka opat puluh hiji teu dampit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saparantosna gaduh putra lima dampit, Sang Hyang Adama bade ngajodokeun putra-putrina. Putra anu gagah dijodokeun sareng putri anu awon. Putri anu geulis dijodokeun sareng putra anu awon. Jadi teu dijodokeun saluyu sareng dampitanna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari pangersana Dewi Hawa, putra-putrina dijodokeun saluyu sareng dampitanna, anu gagah dijodokeun sareng anu geulis, anu awon sareng anu awon. Jojodoan iyeu jadi pasulaya antara Sang Hyang Adama sareng Dewi Hawa. Pasulayana ngantos rebutan kawasa ngaluarkeun rahsa anu diwadahan ku cupumanik sareng dipujakeun ka Gustina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saparantosna dugi kana wancina, cupumanik dibuka. Rahsa pamuja dina cupumanik Sang Hyang Adama janten babayi nanging ngan raragana wungkul; sedengkeun rahsa pamuja dina cupumanik Dewi Hawa ngawujud getih. Dewi Hawa ngarasa nalangsa ku kaayaan eta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabang bayi anu aya dina cupumanik Sang Hyang Adama kena ku dihim pinasti janten jabang bayi anu sampurna kacaangan ku cahya nurbuat sareng aya sasmita ti Gusti nami eta jabang bayi teh Sang Hyang Sita. Mantenna suka bungah anu teu aya papadana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teu lami aya gara-gara, cupumanik Sang Hyang Adama katiup angin puyuh lilimbungan tumiba kana teleng sagara hideung. Cupumanik kacekel ku Danyang Azazil, ratu banujan anu ngawasa sagara hideung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahirna Dewi Hawa manut kana aturan jojodoan Sang Hyang Adama. Sadaya putra-putrina lobana opat puluh dampit, sareng aya anu dua anu teu dampit nyaeta Sang Hyang Sita sareng Dewi Hunun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra-putri Sang Hyang Adama nyaeta&lt;br /&gt;Sang Hyang Kabila, Dewi Alima, Sang Hyang Habila, Dewi Damima, Sang Hyang Isrila, Dewi Sarira, Sang Hyang Israwana, Dewi Mona, Sang Hyang Basaradiwana, Dewi Dayuna, Sang Hyang Sita, Sang Hyang Yasita, Dewi Awisa, Sang Hyang Sesana, Dewi Aisa, Sang Hyang Yasmiyana, Dewi Ramsa, Sang Hyang Yanmiyana, Dewi Yarusa, Sang Hyang Suryana, Dewi Siriya, Sang Hyang Amana, Dewi Mahasa, Sang Hyang Kayumarata, Dewi Hindunmaras, Sang Hyang Yajuja, Dewi Majuja, Sang Hyang Lata, Dewi Uzza, Sang Hyang Harata, Dewi Haruti, Sang Hyang Danaba, Dewi Daniba, Sang Hyang Bantasa, Dewi Bintisa, Sang Hyang Somala, Dewi Susia, Sang Hyang Jamaruta dampitanna Dewi Malki, Sang Hyang Tamakala, Dewi Tamakali, Sang Hyang Adana, Dewi Adini, Sang Hyang Harnala, Dewi Harnila, Sang Hyang Samala, Dewi Samila, Sang Hyang Awala, Dewi Awila, Sang Hyang Astala, Dewi Astila, Sang Hyang Nurala, Dewi Nureli, Sang Hyang Nuhkala, Dewi Nuhkali, Sang Hyang Nuskala, Dewi Arki, Sang Hyang Sarkala, Dewi Sarki, Sang Hyang Karala, Dewi Karia, Sang Hyang Dujala, Dewi Dujila, Sang Hyang Katala, Dewi Katili, Sang Hyang Arkala, Dewi Arkali, Sang Hyang Mrihakala, Dewi Mrihakali, Sang Hyang Ardabala, Dewi Ardiati, Sang Hyang Sanala, Dewi Peni, Sang Hyang Pujala, Dewi Puji, Sang Hyang Sasala, Dewi Sasi, Sang Hyang Sahnala, Dewi Sani, Dewi Hunun, Sang Hyang Sahalanala, sareng Dewi Sahini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanging Sang Hyang Kabila, Dewi Alima, Sang Hyang Basaradiwana, Dewi Dayuna, Sang Hyang Lata, Dewi Uzza, teu manut kana aturan jojodoan Sang Hyang Adama. Sang Hyang Kabila teu saluyu, sareng hoyong dijodokeun ka jodo rayina nyaeta Sang Hyang Habila. Pasulaya rebutan jodo eta dugi ka rebutan pati. Sang Hyang Habila dipaehan ku Sang Hyang Kabila. Saparantosna rayina maot, Sang Hyang Kabila ngahuleng liyeur mikiran kumaha carana ngubur eta layon rayina. Teras aya manuk gaok totoker dina taneuh. Sang Hyang Kabila nurutan manuk gaok ngadamel liang lahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Hyang Kabila sareng bojona Dewi Alima jeung Dewi Damima ditundung ku Sang Hyang Adama, teras ngalalana dugi ka tanah Afrika, disarengan ku rayina Sang Hyang Basaradiwana, sareng Dewi Dayuna. Kitu oge Sang Hyang Yajuja sareng dampitanna Dewi Majuja nyusul Sang Hyang Kabila ka tanah Afrika. Sedengkeun Sang Hyang Lata Sareng Dewi Uzza ngalalana ka tanah Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saterasna Sang Hyang Adama ngaratuan sato-kewan sareng anak-turunanna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalakon Sang Hyang Sita&lt;br /&gt;Saparantosna dewasa Sang Hyang Sita dipasihan jodo bidadari ku Gusti. Nami bojona Dewi Mulat. Rumahtanggana silih asah silih asih silih asuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kocap kacarita, Danyang Azazil ratu banujan di Sagara Hideung hoyong ngajodokeun putrina anu namina Dayang Dalajah ka turunan Sang Hyang Adama sangkan bisa ngaratuan bangsa manusa. Danyang Azazil ngaboyong putrina ka Kusniamalabari. Kusaktina Danyang Azazil, putrina malih rupa janten Dewi Mulat. Sedengkeun Dewi Mulat anu asli kasarung leungit tanpa lebih ilang tanpa karana disumputkeu ku Danyang Azazil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasurung ku gandrung kasorang ku cinta, Sang Hyang Sita saresmi sareng Dewi Mulat mamalihan. Kama manjing ing kenyapuri Dayang Dalajah kena ku dihim pinasti, cabar tina mamalihanana lajeng mulang ka Sagara Hideung sareng ramana Danyang Azazil. Dewi Mulat anu asli parantos katingali deui, sare sareng Sang Hyang Sita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Mulat ngandung jabang bayi. Dina wancina ngalahirkeun, wayah janari Dewi Mulat babaran kembar, anu kahiji mangrupi bayi lalaki, anu kadua mangrupa cahaya. Wanci sarepna dina poe anu sami, Dayang Dalajah oge ngalahirkeun wujudna rahsa, lajeng dibawa ka Kusniamalabari Ku Danyang Azazil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahsa sareng Cahaya gumulung ngahiji jadi bayi lalaki anu kalimputan ku cahaya gilang gumilang teu tiasa digarayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eyangna, Sang Hyang Adama masihan aran ka eta bayi kembar. Anu kahiji namina Sang Hyang Nara, anu kadua Sang Hyang Nara, margi kalimputan cahaya katelah Sang Hyang Nurcahya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saparantosna dewasa, Sang Hyang Nasa suka kana elmu agama anu diwedar ku eyangna Sang Hyang Adama. Sedengkeun Sang Hyang Nurcahya suka tatapa di leuweung luwang-liwung, di pucuk-pucuk gunung, atawa dina jero-jero guha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Hyang Nurcahya suka ngalalana ngalanglang buana, teras papendak sareng Danyang Azazil anu malih rupa janten maharesi anu sakti mandraguna pasagi ku pangarti pinuh ku elmu jembar ku pangabisa. Sang Hyang Nurcahya guguru ka Danyang Azazil, diwuruk diwulang olah kanuragan, kasakten, elmu panemu jampe pamake, kawedukan, kabedasan. Sang Hyang Nurcahya teu tutung ku api teu baseh ku cai teu teurak ku badama, bisa mancala putra mancala putri, bisa ngaleungit tanpa lebih ilang tanpa karana, bisa ngagegana mapak mega jumantara, bisa ambles bumi neuleuman sagara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saparantosna tamat guguruna, Sang Hyang Nurcahya mulang ka Kusniamalabari. Sang Hyang Adama kaget ngaweruhan kaayaan incuna. Sang Hyang Nurcahya benten pisang sareng kembaranna Sang Hyang Nasa. Nanging Sang Hyang Adama teu kasamaran yen eta sadaya lantaran Danyang Azazil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Hyang Adama ngadawuhan putrana Sang Hyang Sita ngabaran yen Sang Hyang Nurcahya isukan bakal mukir tina agama Sang Hyang Adama lantaran nganut ajaran Danyang Azazil. Sang Hyang Sita ngahuleung ngaraga meneng, kaduhung ku kalakuan Sang Hyang Nurcahya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina umur 990 tahun Sang Hyang Adama tilar dunya. Sadaya elmuna diwariskeun ka Sang Hyang Sita; sedengkeun kakawasaanna diwariskenana ka Sang Hyang Kayumarata, putrana anu ka tilu belas. Pambagian eta dumasar kana kaunggulan putra-putrana. Sang Hyang Sita janten pangawasa babagan rohani; sedengkeun Sang Hyang Kayumaratan janten pangawasa babagan jasmani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalakon Sang Hyang Nurcahya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maotna eyang Sang Hyang Adama janten memengen incunna nyaeta Sang Hyang Nurcahya. Anjeuna ngaraos kaduhung margi Sang Hyang Adama kena lara pati. Upami anjeunna masih netepan elmuna Sang Hyang Adama, pinasti anjeunna bakal kena ku lara pati. Teras Sang Hyang Nurcahya nilar Kusniamalabari bade milari elmu anu hanteu kena ku lara pati sangkan hirupna mulus rahayu lestari abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Hyang Nurcahya ngalalana dugi ka luar batas nagari Kusniamalabari. Di tepis miring anu tumuju ka leuweung liwang-liwung, Sang Hyang Nurcahya papendak sareng Danyang Azazil. Anjeunna dibantun ka talatah Awinda nyaeta wewengkonna para siluman, anu kacida wingitna, poek-mongkleng, sareng tiis-tingtrim, ayanna di puser bumi belah kaler, anu teu kaambah ku cahaya panon poe. Di dinya ayana Tirtamarta Kamandalu, nyaeta cai kahuripan anu kaluar tina mustika mega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Hyang Nurcahya sareng Danyang Azazil muja ka Gusti sangkan dipasihan Tirtamarta Kamandalu. Lajeng aya mega lalambakan mocoran cai kahuripan tina Sagara Rahmat. Sang Hyang Nurcahya disuruh mandi sareng nginum Tirtamarta Kamandalu. Sang Hyang Nurcahya hoyong ngawadahan eta cai kahuripan nanging teu mawa wadah. Danyang Azazil masihan wadah namina Cupumanik Astagina anu saleresna kagungan Sang Hyang Adama waktu katiup angin puyuh liliwungan lagrag dina teleng Sagara Hideung wewengkonna Danyang Azazil. Cupumanik Astagina gaduh kasaktian sadaya anu diwadahan ku eta cupu moal bakal seep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lajeng Sang Hyang Nurcahya kaluar ti talatah Awinda, sareng Danyang Azazil leungit tanpa lebih ilang tanpa karana. Sang Hyang Nurcahya neraskeun lalampahanna sorangan. Di hiji talatah anjeunna mendak hiji tatangkalan anu akarna tiasa ngalantaran hurip kajati mulang ka asal kebo mulih makandangan, sumber kahirupanna alam dunya, anu katelah Lata Maosadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wancina Sang Hyang Nurcahya bade mulang ka Kusniamalabari bingung kasarung teu emut kamana jalanna. Anjeunna kalunta-lunta ngalalana ngambah jurang jungkrang, gunung nangtung, leuleuweungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina hiji poe anjeunna anjog ka sisi sagara, sareng ningali aya dua mahluk nangtung di luhur sagara. Sang Hyang Nurcahya nampak sancang leumpang di luhur cai nyaketan eta mahluk. Anu kahiji namina Danyang Haruta, anu kadua Danyang Maruta. Baheulana mah eta mahluk teh namina Sang Hyang Isyana sareng Sang Hyang Isaya anu meunang bebendu ti Gusti katulah janten banujan nyaeta bangsa jin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danyang Haruta sareng Danyang Maruta ngawuruk kaweruh Sang Hyang Nurcahya babagan lumakuna bumi, panon poe, bulan, bentang, anu katelah elmu palakiah, sareng elmu hikmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Hyang Nurcahya nyarita yen anjena hoyong terang sorga. Danyang Haruta sareng Danyang Maruta ngadongeng yen soga eta ayana dina hulu walungan anu pang ageungna di talatah Afrika. Sang Hyang Nurcahya percanten ka eta dongeng lajeng ngalalana milarian sorga nutuykeun eta walungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Hyang Nurcahya papendak sareng paman jeung bibina, nyaeta putra-putri Sang Hyang Adama anu ka lima belas namina Sang Hyang Lata sareng Dewi Uzza nuju tatapa di sisi eta walungan. Sang Hyang Nurcahya nyarita yen anjeunna putrana Sang Hyang Sita. Sang Hyang Lata sareng Dewi Uzza nampi kadatangan Sang Hyang Nurcahya, lajeng diwuruk elmu kaweruh sadurung winarah sadaya lalakon anu parantos atawa bakal kasorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lajeng Sang Hyang Nurcahya neraskeun milarian sorga dugi ka talaga Jambirilahiri di hulu walungan anu ayana di pucuk Gunung Kaspia. Sang Hyang Nurcahya ngahuleng ngaraga mineng kaduhung ku bingung margina teu mendakan ayana sorga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aya sora tina jero kawah Gunung Kaspia anu api sareng latuna pating kolenyay murub-mubyar, ngaku-aku yen mantena eta Gusti Amurba Bumi anu kagungan sora sareng naraka. Eta sora teh dadamelan Danyang Azazil anu malih warna. Sang Hyang Nurcahya mesat ka jumantara ngadep Gusti Amurba Bumi nyuhun diweruhan ayana sorga. Sang Hyang Nurcahya lebet kana sosoca anu katelah Ratnadumilah, ningali kaendahan sadaya eusi sogra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saparantosna kaluar tina jero sosoca, Danyang Azazil anu malih warni jadi Gusti Amurba Bumi masihkeun Ratnadumilah ka Sang Hyang Nurcahya. Kasaktian eta sosoca teh sadaya anu dipikacipta aya, anu dipikahayang datang, teu keuna ku tunduh, teu keuna ku laralapa. Lajeng Sang Hyang Nurcahya diwuruk elmu pangiwa panitisan, manjing suruping pati, lampahna cakramanggilingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Hyang Nurcahya teu hayang mulang ka Kusniamalabari. Danyang Azazil nuduhan hiji talatah anu tiasa didunungan ku Sang Hyang Nurcahya anu katelah Lokadewa. Lajeng Sang Hyang Nurcahya angkat ka eta tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Lokadewa, Sang Hyang Nurcahya neraskeun tapana di pucuk gunung nutuykeun lampahna panon poe. Wayah janari nyanghareup ka wetan, tengah poe nyanghareup ka luhur, wayah sareupna nyanghareup ka kulon. Lamina eta tatapa tujuh taun, dugi anjeuna ngaraga sukma lebet kana alam Sunyaruri awang-uwung, nyaeta alam Banujan. Sang Hyang Nurcahya dumunung di eta alam lamina sarebu taun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kocap kacarita aya hiji ratu banujan anu ngadanyangan Lokadewa namina Danyang Maladewa, putrana Danyang Harataketu. Anjeuna nuju ngider bumi ningali aya cahaya murub-mubyar sanes surya gilang gumilang sanes bentang kadia sosoca sanes candra, nanging cahaya sukma trahna Sang Hyang Adama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danyang Maladewa bade nyepeng eta cahaya nanging teu tiasa. Lajeng janten bandayuda ogol begalan pati sareng eta cahaya sukma anu ngaku-aku Amurbamisesa Alam. Danyang Maladewa kalah taluk ka Sang Hyang Nurcahya, anu saterasna ngadeg ratu di Lokadewa sareng migarwa putrina Danyang Maladewa anu katelah Dewi Mahamuni. Sadaya kulawarga sareng wadiabala Danyang Maladewa sami ngadep taluk hamarikelu ka Sang Hyang Nurcahya anu kasebat Dewata nyaeta guru linuhung Lokadewa. Eta wiwitanna para dewa disebat Sang Hyang magi julukan anu diagem ku Sang Hyang Nurcahya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kocap kacarita Sang Hyang Nurcahya julukanana Sang Hyang Dewata, Sang Hyang Dewapamungkas, Sang Hyang Atmadewa, Sang Hyang Sukmakawekas, Sang Hyang Amurbengrat, Sang Hyang Manon, Sang Hyang Permana, Sang Hyang Permata, Sang Hyang Mahawidi, Sang Hyang Mahasidi, Sang Hyang Mahamulia, Sang Hyang Kahanantunggal, Sang Hyang Jagatmurtitaya, eta putrana Sang Hyang Sita, incuna Sang Hyang Adama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Hyang Nurcahya gaduh putra tunggal ti garwana Dewi Mahamuni, anu namina Sang Hyang Nurasa margi kacipta tina aworna cahaya sareng rahsa anu disiram Tirtamarta Kamandalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalakon Sang Hyang Nurasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saparatosna Sang Hyang Nurasa dewasa, lajeng Sang Hyang Nurcahya ngawariskeun karaton ka putrana sareng masihan Cupumanik Astagina, Lata Maosadi, sareng Ratnadumilah. Sang Hyang Nurcahya lajeng nyipta Pustaka Darya, nyaeta seratan dina emutan, mantra tanpa sora, sora tanpa sastra, anu nyaritakeun lalampahan anjeunna. Pustaka Darya oge dipasihkeun ka Sang Hyang Nurasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Awang Uwung&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-2884396534077233426?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/2884396534077233426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=2884396534077233426&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/2884396534077233426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/2884396534077233426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/06/serat-maha-purwo.html' title='Serat Maha Purwo'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-1019687112727542167</id><published>2009-06-15T00:43:00.000-07:00</published><updated>2009-06-21T23:42:48.887-07:00</updated><title type='text'>Biar Aku Bersama Keluarga</title><content type='html'>Jika boleh meminta, &lt;br /&gt;Ijinkan selalu bersama  Ibu dan bapak yang menjadi pintu kelahiran, &lt;br /&gt;Istriku yang penuh kasih dan sayang, &lt;br /&gt;serta anak-anakku yang penuh rahmat dan barokah,&lt;br /&gt;kelak  kembali kehadirat-Mu. Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-1019687112727542167?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/1019687112727542167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=1019687112727542167&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/1019687112727542167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/1019687112727542167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/06/biar-aku-bersama-keluarga.html' title='Biar Aku Bersama Keluarga'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-492225620657298879</id><published>2009-06-11T05:14:00.000-07:00</published><updated>2009-06-11T05:27:46.812-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanah Jawa'/><title type='text'>Sebuah Perenungan tentang Sosok Ajisaka</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SjD4HNvjrSI/AAAAAAAAABU/kitpdzSNDU4/s1600-h/DSC_0407.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SjD4HNvjrSI/AAAAAAAAABU/kitpdzSNDU4/s400/DSC_0407.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5346045560520682786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karena kehendak Allah jugalah terjadinya manusia, hewan, pepohonan, kutu walang ataga, yang kesemuanya itu terjadi serta hidup dan dapat dilihat secara nyata wujudnya (ana rupa-wujude). Atas kehendak Allah tersebut yang luluh pada diri manusia, menyebabkan manusia memiliki keluhuran, keimanan, bawa laksana,&lt;br /&gt;welas asih, keadilan, ketulusan, eling lan waspada. Kesemuanya itu memberikan manusia kemuliaan (kamulyan) dan kesejahteraan (karahayon). Rasa tersebut juga menghubungkan kehidupan manusia dengan Allah Sang Maha Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ca-ra-ka sendiri pengertiannya adalah memuliakan Allah. Sebab tanpa ada bawana seisinya, apalagi tanpa adanya manusia, tentu tidak akan ada sebutan Asma Allah. Tanpa adanya caraka, tentu pula Hana-Ne tidak akan disebut Hana. Sementara makna Da-ta-sa-wa-la dapat dijelaskan maknanya sebagai berikut. Adanya yang ada (anane dumadi) sumber asalnya adalah Satu, yaitu Dzat Allah. Dari yang kasar dan halus (agal lan alus), wingit (penuh misteri) dan gha’ib, pasti pada dirinya melekat setidaknya secercah Dzat Allah (kadunungan sapletheking Dzat Allah). Artinya, pancaran kun fayakun itu tidak hanya mencipta bawana seisinya, namun terus-menerus memancarkan kasih, mencermati dan meliputi terhadap seluruh kehidupan (ngesihi, nyamadi lan nglimputi sakabehing dumadi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menciptakan bawana seisinya, khususnya dalam menciptakan manusia, bukan tanpa rencana, namun dengan keinginan dan tujuan yang nyata dan pasti. Titah Allah tidak dapat diingkari dari apa yang sudah ditetapkan menjadi kodrat (pepesthen). Demikian juga seluruh makhluk hidup di dunia (saobah-mosiking dumadi) pasti terkena keterbatasan dan pembatasan (wates lan winates), seperti halnya sakit dan kematian. Namun selain itu, juga melekat dalam dirinya (kadunungan) kelebihan satu dari yang lain, saling ketergantungan, lebih melebihi (punjul-pinunjulan) dan saling hidup-menghidupi (urip-inguripan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik dalam rupa, wujud, warna dan sosoknya (balegere dumadi), manusia dapat dikatakan sempurna tiada yang melebihi (kasampurnaning manungsa). Terciptanya manusia yang ditakdirkan (pinesthi) menjadi Wali Allah, menandakan bahwa hanya sosok manusia sajalah yang mampu menjadi Warangka Dalem Yang Maha Esa (wakil Tuhan di dunia). Kelahiran manusia dalam wujud raga-fisik dan bentuk badan itu merupakan sari-patining bawana. Maka, menjadi keniscayaan jika manusia mampu menggunakan dayanya guna mengungkap rahasia alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran hidup manusia, merupakan wujud dari sukma, yang dalam proses mengada dan menjadi (being and becoming) terbentuk dari sari-pati terpancarnya Dzat Allah (dumadi saka sari-pati pletheking Dzat Allah). Oleh sebab itu, manusia mampu mengkaji dan menelusuri, menggali dan mencari serta meyakini dan mengimani adanya Allah (nguladi, ngupadi, ngyakini lan ngimani marang kasunyataning Allah), sebab sukma sejati manusia itu berasal dari Sana (sabab suksma sajatining manungsa asale saka Kana). Selanjutnya Pa-dha-ja-ya-nya, maknanya bahwa sawenehing kang dumadi atau apa pun dan siapa pun tidak akan dapat hidup sendiri, sebab ia akan senantiasa menjalani hidup dan kehidupan bersama, sebagaimana keniscayaan&lt;br /&gt;fitrahnya, bahwa: panguripaning dumadi tansah wor-ingaworan -dalam kehidupan manusia selalu saling pengaruh mempengaruhi— selain juga punya ketergantungan satu sama lain. Begitu juga hidup manusia, bahwa perangkat badaning manungsa tidak mungkin secara parsial dapat hidup sendiri-sendiri. Artinya, ana raga tanpa sukma/nyawa tidak mungkin bisa hidup, tetapi ana sukma tanpa raga juga tidak bisa dikatakan hidup, karena tidak bisa bernafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seluruh anggota badan makarti semua, baru disebut urip kang sejati. Daya hidup (sang gesang) akan melekat (built-in) pada setiap diri-pribadi seseorang, yaitu rupa, wujud berikut segala tingkah-lakunya. Dapat dikatakan daya hidup akan luluh pada dirinya (sing kadunungan). Semua yang berwujud dan hidup pasti bakal tarik- enarik, saling bersinergi (daya-dinayan), sehingga menimbulkan daya-daya, seperti: daya&lt;br /&gt;adem-panas, positif-negatif, luhur-asor, padhang-peteng, dan kesemuanya itu senantiasa berputar silih berganti (cakra manggilingan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua inti dari interaksi tersebut ada pada diri manusia, di mana inti tadi sebenarnya telah terserap dari badan manusia sendiri. Maka dapat disimpulkan, bahwa obah-mosiking jagat/alam, juga terjadi pada obah-mosiking manungsa secara pribadi. Di mana ketika terjadi gonjang-ganjinging jagat/ alam, kejadian pada manusia juga demikian adanya. Ketika manusia bertingkah-laku angkara-murka, merusak dan sebagainya, jagat/alam juga berada dalam ancaman bahaya, misalnya musibah banjir, lahar, tanah longsor, banyaknya kecelakaan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, manusia harus selalu ingat akan kewajiban pokoknya, yaitu: Hamemayu-Hayuning Bawana. Artinya, kanthi adhedhasar sarana sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu sebetulnya manusia dapat nyidhem atau menghindari kerusakan alam semesta, selain juga bisa nyirep dahuruning praja (memadamkan kerusuhan negara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikatan manusia dengan Allah Swt., berupa keyakinan dan kepercayaan yang diwujudkan dalam panembah lan pangesti seperti ditulis dalam tuntunan kalam, yang disebut agama, mewajibkan manusia manembah (sembahyang, samadi) hanya tertuju kepada Yang Satu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Ketika manusia manembah melalui sembah rasa, harus dengan seluruh sukma (roh, moral) kita, bukan badan raga yang penuh dengan kotoran (nafsu duniawi). Sebetulnya sembah raga itu hanya sarengating lahir, agar supaya umat manusia taat dan manembah marang Gusti Kang Murbeng Dumadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia itu paling dipercaya ngembani asmaning Allah, maka manusia harus menduduki rasa kemanusiaannya. Untuk itu, manusia harus bisa menempatkan diri pada citra keTuhanannya. Allah telah menciptakan apa saja untuk manusia, jagat sak isine, tinggal bagaimana manusia bekti marang Allah Kang Maha Esa. Tergantung manusianya, seberapa besar tanggung jawabnya marang Kang Maha Kuasa, sebab bawana beserta seluruh isinya adalah menjadi tanggung jawab manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir, Ma-ga-ba-tha-nga dapat dijelaskan maknanya, kurang-lebih sebagai berikut. Manungsa kang kalenggahan wahyuning Allah, manungsa kang manekung ing Allah Kang Maha Esa dadi daya cahyaning Allah lan rasaning Allah luluh pada sukma manusia. Jagat (alam) tergantung pada sejarah umat manusia yang disebut awal dan akhir, juga menjadikannya jantraning manungsa. Hakikatnya gelaring alam/jagat itu, juga gelaring manungsa. Jadi di dunia ini ora bakal ana lelakon, ora ana samubarang kalir, kalau tidak ada gerak kridhaning manungsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ada manusia, sakabehing wewadi, sakabehing kang siningit lan sinengker wus kabukak wadine –semua telah jelas, semua telah menjadi nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wis ora dadi wadi, amerga wis tinarbuka;&lt;br /&gt;Wis ora ana wingit, amerga wis kawiyak;&lt;br /&gt;Wis ora ana angker, amerga wis kawuryan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, kalau semua sudah kamanungsan/konangan —kalau semua telah menjadi kenyataan— berarti tugas kewajiban manusia di dunia telah selesai. Sudah sampai pada perjanjian pribadining manungsa dan sudah titi mangsa harus pulang marang pangayuning Pangeran. Dari tidak ada menjadi ada (ora ana dadi ana) menjadi tidak ada lagi (ora ana maneh). Artinya, sakabehing dumadi yen wis tumekaning wates kodrate, mesti bakal mulih marang mula-mulanira lan sirna. Awal-akhire, artinya sangkan paraning dumadi wis khatam/tamat. Kalau umat manusia sudah tidak ada lagi -kang dadi asmaning Allah-juga tidak akan disebut (kaweca), ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, kurang lebih hasil perenungan saya selama ini dalam menggali makna filosofis yang terkandung dalam ajaran Aji Saka: “Ha-na-ca-ra-ka”. Betapa pun kita mengagungkan ke-adiluhung-an karya sastra Jawa, seperti Serat Wulangreh, Serat Wedhatama, atau pun filsafat Ha-na-ca-ra-ka, apabila tanpa penghayatan dan meresapi nilai-nilai substansial yang terkandung di dalamnya serta usaha mengembangkannya, tentulah tidak akan bermakna bagi kehidupan sastra Jawa masa kini dan masa depan, apalagi terhadap budaya Indonesia Baru yang harus kita bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Jawa mengandung wulang-wuruk kejawen, yang jika dilakukan penelitian lebih suntuk akan bisa digali ajaran kehidupan yang mampu memberi pencerahan pikir dan rasa untuk direnungkan di malam hari. Kesemuanya itu seakan meneguhkan makna peninggalan Aji Saka yang diungkapkan Sri Susuhunan Paku Buwono IX dalam tembang Kinanthi: “… Nora kurang wulang-wuruk, tumrape wong tanah Jawi. Laku-lakuning ngagesang, lamun gelem anglakoni. Tegese aksara Jawa iku guru kang sejati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh - oleh Dari : Ki Demang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-492225620657298879?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/492225620657298879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=492225620657298879&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/492225620657298879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/492225620657298879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2009/06/sebuah-perenungan-tentang-sosok-ajisaka.html' title='Sebuah Perenungan tentang Sosok Ajisaka'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SjD4HNvjrSI/AAAAAAAAABU/kitpdzSNDU4/s72-c/DSC_0407.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-8396281049695599807</id><published>2008-12-12T06:26:00.000-08:00</published><updated>2009-10-12T04:18:48.701-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KELUARGA'/><title type='text'>Surat untuk Marni</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/StMH7KnhDHI/AAAAAAAAAB4/D9MgRNSeS4Y/s1600-h/Bu+Ragil+5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://3.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/StMH7KnhDHI/AAAAAAAAAB4/D9MgRNSeS4Y/s200/Bu+Ragil+5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391661891936390258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Buat Marni, istriku&lt;br /&gt;Kamu memang wanita yang sholehah, dari kesabaranmu mendampingiku hingga rumahtangga kita  bulan ini genap berusia 25 tahun. Memang saya tak bisa membuatmu terpenuhi segala kebutuhannyanya. Tapi saya bisa menjadi saksi bahwa rumah tangga kita menuju hidup yang menemukan ketentraman batin sehingga kamu mampu melawan musuh besarnya yang berada pada setiap manusia yaitu hawa nafsu sendiri. Ini sekian dulu ya Neng alias Sri Sumarni alias penthol (topeng) besok saya lanjutin nulisnya.......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-8396281049695599807?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/8396281049695599807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=8396281049695599807&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/8396281049695599807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/8396281049695599807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2008/12/surat-untuk-marni.html' title='Surat untuk Marni'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/StMH7KnhDHI/AAAAAAAAAB4/D9MgRNSeS4Y/s72-c/Bu+Ragil+5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-5123735480658383619</id><published>2008-12-12T05:24:00.000-08:00</published><updated>2009-10-27T01:22:05.990-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Dari Rindu Menuju Maumu</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SuatO2wpxLI/AAAAAAAAACI/J30K44Qs3UU/s1600-h/Ragil+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SuatO2wpxLI/AAAAAAAAACI/J30K44Qs3UU/s200/Ragil+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5397191674179470514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada gugusan rindu membara&lt;br /&gt;Adakah seteguk air yang telah engkau minumkan&lt;br /&gt;Atau sebutir biji yang engkau tanam&lt;br /&gt;Di dalam lubuk hati ini&lt;br /&gt;Yang telah lama terlupakan dan gersang&lt;br /&gt;Adakah setetes air hujan&lt;br /&gt;Menjadikannya kembali hidup dan bersemi&lt;br /&gt;Burung pipit tersenyum mengajak lari menyambut pagi&lt;br /&gt;Aku bangun mencoba melangkah mengikuti&lt;br /&gt;Tapi kaki enggan berdiri&lt;br /&gt;Mentari bersinar cerah menembus sekat pintu&lt;br /&gt;Membuka daun cendela&lt;br /&gt;Tapi mata yang terlanjur rabun menjadi semakin buram&lt;br /&gt;Kau datang guru dalam mimpiku di siang hari&lt;br /&gt;Sinarmu kuat menarik tanganku&lt;br /&gt;Kau datang lagi guru dalam mimpiku di siang hari&lt;br /&gt;Bersama pasukanmu meratakan jalan menyingkirkan rintangan&lt;br /&gt;Aku yang telanjang tuli, bisu, buta&lt;br /&gt;Sendiri tertatih - tatih melangkah searah mengikuti isyaratmu&lt;br /&gt;Adakah sinarmu, Sinari aku ?&lt;br /&gt;Adakah kuatmu, Kuati aku ?&lt;br /&gt;Aku bangun lagi melangkah semakin mendaki&lt;br /&gt;Kau datang lagi guru, saat aku rindui&lt;br /&gt;Kini di depanku ada keretamu&lt;br /&gt;Siap membawaku menuju maumu ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(Ragil Sudjono)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-5123735480658383619?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/5123735480658383619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=5123735480658383619&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/5123735480658383619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/5123735480658383619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2008/12/guru-sejati.html' title='Dari Rindu Menuju Maumu'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SuatO2wpxLI/AAAAAAAAACI/J30K44Qs3UU/s72-c/Ragil+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-8522804735902729987</id><published>2008-12-12T04:56:00.000-08:00</published><updated>2009-06-11T04:50:19.353-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SIMPANG LIMA'/><title type='text'>Menengok Ke Belakang Untuk Maju Kedepan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SjDsxgnjf-I/AAAAAAAAAA8/4gJiqOeedl4/s1600-h/Ragil.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://4.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SjDsxgnjf-I/AAAAAAAAAA8/4gJiqOeedl4/s200/Ragil.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5346033093002362850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;div align="justify"&gt;“&lt;em&gt;Haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabuu”, &lt;/em&gt;Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. (Sayyidina Umar Ibn Khaththab r.a.&lt;em&gt;)&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;MENJELANG akhir tahun, ada baiknya kita menengok sejenak ke belakang untuk keperluan memperbaiki atau menyempurnakan langkah kita ke depan. Tahun ini, isu politik dan tingkah-polah para politisi masih dominan. Terutama, tentang banyaknya tokoh yang mencalonkan dan mengiklankan diri sebagai pemimpin negara, pemimpin daerah, maupun “wakil rakyat”. Juga, tentang tersangkutnya banyak politisi dalam kasus korupsi. Sedemikian dominannya, sehingga isu tentang krisis global sekalipun tidak mampu mempengaruhinya. Saya sendiri heran dan bertanya-tanya, apa sih yang terjadi di negeri ini dan bangsa ini? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau dibilang negeri ini carut-marut dan mengalami krisis kepemimpinan, mengapa banyak tokoh yang kepingin memimpin atau tepatnya kepingin dipilih menjadi pemimpin? Kalau dibilang citra politisi dan legislatif sedemikian buruknya, mengapa orang masih berebut mencalonkan diri sebagai caleg, termasuk artis-artis? Kalau mereka semua itu bicara tentang kemiskinan rakyat, mengapa harta mereka yang berlimpah hanya untuk mengiklankan diri atau sekedar “investasi kedudukan”? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di tahun ini, peringatan-peringatan seperti Hari Kemerdekaan, Hari Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, dan Hari Pahlawan; gaungnya-dan perhatian masyarakat terhadap maknanya-masih kalah dari misalnya peringatan Hari Valentine. Persoalan-persoalan mendasar seperti kemanusiaan, kebangsaan, kemiskinan dan keterbelakangan terdesak oleh isu-isu tentang Ahmadiyah dan “aliran sesat”, pornografi dan “&lt;em&gt;jihad fi sabilihizbi kullin wara’yihi&lt;/em&gt;”. Yang mengusik perhatian dan boleh jadi bahkan menggetarkan sanubari kita, adalah terus-menerusnya fenomena kekerasan dan kebencian, termasuk yang muncul dari mereka yang merasa dan mengaku umat Nabi Muhammad SAW. Nabi agung yang lembut, santun dan penuh kasih sayang. Peristiwa-peristiwa yang menjadi tajuk berita di negeri kita akhir-akhir ini yang berkaitan dengan sikap keberagamaan, sungguh perlu mendapat perhatian terutama dari para pemimpin dan ahli agama. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kekerasan yang dilakukan oleh para pengikut aliran yang merasa diri paling dekat dengan Allah dan paling benar sendiri, merupakan tanggungjawab para pemimpin agama, bukan saja-meskipun terutama-pemimpin aliran itu sendiri. Amar-makruf dan nahi (‘anil) munkar yang biasa dijadikan dalih menghalalkan tindakan kekerasan dan kekejaman, menurut hemat saya, justru merupakan manifestasi atau pengejawentahan dari kasih sayang Islam. Amar makruf dan nahi (‘anil) munkar tidak mungkin dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki kasih sayang. Amar makruf dan nahi (‘anil) munkar yang dilandasi kebencian, jelas bukan amar makruf nahi (‘anil) munkar yang diajarkan Nabi Kasih Sayang, Rasulullah Muhammad SAW. Ada lagi, yang melakukan tindak kekerasan dan bahkan pembantaian dengan dalih jihad. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Marilah kita lihat kembali jihad menurut contoh dan ajaran Rasulullah SAW. Kalau pun jihad fii sabiilillah dimaknai sempit, yaitu hanya diartikan qitaal, Rasulullah SAW telah memberi contoh dan mengajarkan aturan dan etika qitaal sedemikian bijak . Lagi pula, jihad fi sabiilillah berarti berjuang di jalan agama Allah. Jadi, harus karena dan dengan aturan yang ditentukan Allah. Jihad yang hanya karena nafsu amarah dan kejengkelan, bukanlah jihad fii sabiilillah. Jihad yang ngawur tidak memperhatikan aturan dan tuntunan Rasulullah SAW, bukanlah jihad fii sabiilillah. (Baca misalnya Q. 5: 8; Shahih Bukhari 1/58 Hadits 123; Shahih Muslim 3/1512 Hadits 1904, lihat juga bab Jihad) &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Satu lagi berita yang dibesar-besarkan pers. Yaitu, pernikahan Pujiono Cahyo Widianto. Orang kaya yang dipopulerkan pers dengan julukan Syeh Puji ini mengawini gadis cilik Lutviana Ulfa yang belum genap 16 tahun. Seandainya sebelumnya, pengusaha hiasan dinding kaligrafi ini tidak menjadi berita karena membagikan zakat dan tidak mengumumkan pernikahannya tersebut, mungkin tidak akan menjadi berita nasional yang menghebohkan. Mungkin tokoh gundul berjenggot ini mau meniru pernikahan Kanjeng Nabi dengan Sayyidatina Aisyah r.a. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau benar demikian, ini satu bukti lagi bahwa dalam meniru atau ittibaa’ Kanjeng Nabi Muhammad SAW, orang cenderung asal saja dan hanya berdasarkan kesenangannya. Selintas kita telah menengok ke belakang; maka adakah di sana pelajaran yang dapat kita ambil bagi memperbaiki dan menyempurnakan langkah kita selanjutnya ke depan? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;(Ragil. S)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-8522804735902729987?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/8522804735902729987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=8522804735902729987&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/8522804735902729987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/8522804735902729987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2008/12/menengok-ke-belakang-untuk-maju-kedepan.html' title='Menengok Ke Belakang Untuk Maju Kedepan'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SjDsxgnjf-I/AAAAAAAAAA8/4gJiqOeedl4/s72-c/Ragil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-6518012141075666429</id><published>2008-12-12T04:21:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T05:31:08.149-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Syukur</title><content type='html'>Jika segalanya telah terjadi&lt;br /&gt;terima dengan rasa suka&lt;br /&gt;wujudkan ungkapan syukur&lt;br /&gt;yang tak pernah mampu diukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(Gilang Geni)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-6518012141075666429?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/6518012141075666429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=6518012141075666429&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/6518012141075666429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/6518012141075666429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2008/12/syukur.html' title='Syukur'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-8380493334207532300</id><published>2008-12-12T04:18:00.000-08:00</published><updated>2009-10-27T01:23:37.450-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Bersama Sendiri</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SuatO2wpxLI/AAAAAAAAACI/J30K44Qs3UU/s1600-h/Ragil+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SuatO2wpxLI/AAAAAAAAACI/J30K44Qs3UU/s200/Ragil+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5397191674179470514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Waktu tak henti menuju&lt;br /&gt;Lahir dan mati berebut ganti&lt;br /&gt;Ketika mimpi menolak permisi&lt;br /&gt;Bersama sendiri menuju rindu&lt;br /&gt;Rasa tak lagi meraih kata&lt;br /&gt;Puisi jiwa tak berharap cinta&lt;br /&gt;Nafas jalan sepi berganti&lt;br /&gt;Merunduk bumi menuju pasti&lt;br /&gt;Alhamdulillah ……&lt;br /&gt;Titip rindu buat Abah&lt;br /&gt;Semoga semua makhluk berbahagia&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Rahmat Giling Sudjono)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-8380493334207532300?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/8380493334207532300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=8380493334207532300&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/8380493334207532300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/8380493334207532300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2008/12/bersama-sendiri.html' title='Bersama Sendiri'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_OKwgSABJaP4/SuatO2wpxLI/AAAAAAAAACI/J30K44Qs3UU/s72-c/Ragil+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6277456366567461325.post-7901288074588826325</id><published>2008-12-12T04:12:00.000-08:00</published><updated>2009-06-11T04:57:10.532-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Ini Bagaimana</title><content type='html'>Saat aku rindu, engkau bilang bukan&lt;br /&gt;Rinduku kulet&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_t-08l6wU3P4/SQvv4CLm9HI/AAAAAAAAAAY/CpBHMvRbrF4/s1600-h/Astini1.jpg"&gt;&lt;/a&gt;akkan, engkau diam&lt;br /&gt;Aku diam, engkau bilang aku lupa&lt;br /&gt;Di antara diamku engkau hadir tanpa kata&lt;br /&gt;menyiram rindu berbuah tanya&lt;br /&gt;Itukah kamu, ataukah itu maumu &lt;br /&gt;aku hanya orang yang penuh tanya&lt;br /&gt;dan bukan yang sudah tau jawabnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ragil. S)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6277456366567461325-7901288074588826325?l=kabaresemarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/feeds/7901288074588826325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6277456366567461325&amp;postID=7901288074588826325&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/7901288074588826325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6277456366567461325/posts/default/7901288074588826325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kabaresemarang.blogspot.com/2008/12/ini-bagaimana.html' title='Ini Bagaimana'/><author><name>kabar semarang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
